Pentas Titik Koma Kisah tentang ODHA
Tanggal: Wednesday, 18 May 2011
Topik: Narkoba


Solopos, 13 Mei 2011

Setiap detik, menit, jam merupakan waktu yang sangat berarti bagi kehidupan manusia.

Tak bisa dibayangkan, saat manusia tahu kapan dia akan mati, kala nyawa itu sudah berada di ujung tanduk karena sebuah penyakit mematikan. Penyakit HIV/AIDS memang masih menjadi momok di kalangan masyarakat. Ketakutan akan ancaman virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia itu sering kali membuat manusia paranoid. Bagi penderita, ia akan merasa orang paling hina di dunia, sedangkan bagi kebanyakan masyarakat, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dianggap sampah, pendosa yang harus dijauhi.

Pementasan teater Titik Koma yang digelar Teater Delik Fakultas Hukum UNS, di UNS Student Center, Rabu (11/5) malam, berkisah tentang kehidupan pekerja seks komersial (PSK) yang terus dihantui oleh ancaman HIV/AIDS. Tentang kerasnya kehidupan para ODHA yang harus bersembunyi di balik ketegaran hati dan kepura-puraan mereka, agar sisa kehidupan yang mereka lalui tak semakin menyiksa.

Kisah berawal dari seorang PSK yang menjadi primadona, Mawar. Beberapa hari, ia menjadi perbincangan di kalangan teman-temannya sesama PSK dan laki-laki berhidung belang, karena terus mengurung diri di kamar. Tempat lokalisasi kumuh, dengan kamar berdinding reyot dan warung kecil menggambarkan kehidupan PSK yang tak bisa lepas dari bayang-bayang suram kehidupan.

Tak berani

Tiba-tiba terdengar suara tangisan keras dari dalam kamar reyot. Mawar histeris saat mengetahui dirinya terkena HIV/AIDS. Dia menjadi kalap dan ingin bunuh diri, apalagi saat teman-temannya di lokalisasi semakin memandang jijik dan ketakutan kepadanya, bahkan untuk mendekat pun mereka tak berani.

Kisah itu akhirnya menemui titik terang, saat Surti, pelayan di warung dekat lokalisasi menjelaskan tentang HIV/AIDS, cara penularannya dan yang tak bisa menular. Surti ternyata adalah mantan perawat yang terkena HIV/AIDS yang diturunkan orangtuanya. Kisah yang diangkat dari naskah karya Rudi Iteng dan Rias itu memberikan fakta mengejutkan. Ternyata, semua orang yang tinggal di lokalisasi itu adalah ODHA, mulai dari PSK, pemilik warung, laki-laki pelanggan, hingga pria yang hanya nongkrong di situ.

Sutradara Titik Koma, Reza Adiluhung, mengungkapkan dirinya tertarik mengangkat naskah itu karena tema yang diangkat, mengenai pergaulan bebas dan HIV/AIDS merupakan hal yang kontekstual. Dia juga tak risih membawa tema kehidupan lokalisasi masuk ke ranah kampus. “Karena di sini saya melihat ada hal yang bisa ditarik benang merahnya, kehidupan mahasiswa saat ini semakin rusak dengan gaya pergaulan bebas,” ujar dia saat ditemui seusai pentas.

Apalagi dia juga prihatin, sebagai kalangan intelektual, mahasiswa kini juga tak begitu paham tentang bahaya HIV/AIDS, bagaimana cara menghindarinya atau pun cara menghadapi ODHA yang tak harus dijustifikasi. “Saya juga tertarik mengangkat tema itu, setelah sekitar dua tahun lalu melihat teater itu dipentaskan di RRI Solo,” imbuh dia. (Syahaamah Fikria)

Sumber :
solopos.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4116