HIV/AIDS Ancam 22 Ribu Orang
Tanggal: Wednesday, 18 May 2011
Topik: HIV/AIDS


Jurnal Bogor, 14 Mei 2011

Saat ini Kota Bogor menjadi kota metropolis dan menjadi kota tujuan warga dari luar Kota Bogor. Pusat kuliner, pusat fashion serta tempat-tempat hiburan mulai tumbuh di Kota Bogor. Begitupula dengan tempat hiburan malam yang mulai menjadi tempat favorit kalangan muda dan eksekutif muda.

Namun siapa yang bisa menduga jika perkembangan Kota Bogor yang sangat pesat, diiringi pula dengan meningkatnya jumlah penderita HIV AIDS di Kota Bogor. Bahkan menurut data Komisi Penanggulangan AIDS (KPAD), Kota Bogor masuk dalam lima besar jumlah penderita HIV AID terbanyak di Jawa Barat.

Ironisnya saat ini tren penyebaran HIV/AIDS pun telah mengalami perubahan. Dulu tingkat prevelensi atau penyebaran infeksi baru HIV/ADIS diduduki paling tinggi oleh pelaku narkoba dengan penggunaan jarum suntik bersama-sama. Kini pola penyebaran paling tinggi diakibatkan perilaku seks beresiko. Parahnya lagi, HIV/AIDS kini tidak hanya diderita oleh orang dewasa saja. Bahkan pelaku seks beresiko dapat menularkan HIV/AIDS kepada pasangan di rumah. Sehingga ibu yang mengandung dapat menularkan HIV/AIDS kepada janin yang dikandungnya.

“Mengendalikan prevelensi akibat perilaku seks beresiko seperti ini tidak mudah. Terlebih lagi berdasarkan hasil pengamatan, lebih dari 2000 pelabuhan di Indonesia, tidak ada satupun yang tidak ada tempat pelacuran. Tidak ada satu terminal pun yang tidak ada pelacuran,” kata Sekretaris KPAN RI dr. Nafsiah Mboi, SpA., MpH usai memberikan pembekalan kepada aktivis HIV/AIDS sebelum observasi ke kantong-kantong pelaku seks beresiko di Kota Bogor, seperti Taman Topi, Jalan Bangka dan Terminal Bubulak.

Nafsiah menambahkan, area lokalisasi pun saat ini sudah mulai masuk ke dalam rumah-rumah penduduk sehingga sulit dipetakan. “Kita harus berpacu dengan perilaku seks beresiko. Kenyataannya di Indonesia prevelensi akibat perilaku seks beresiko meningkat, namun penggunaan kondom ditentang,” tambahnya.

Untuk itu, lanjutnya, penggunaan kondom pada seks beresiko harus ditingkatkan untuk menyelamatkan bangsa ini dari epidemic HIV/AIDS. Agar tidak terkena HIV/AIDS, para pelaku seks beresiko harus menggunakan kondom. Bila sudah terinfeksi, diusahakan agar tidak menularkan kepada pasangan. Dan bagi yang sudah terinfeksi HIV, harus meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah agar tidak berubah menjadi AIDS.

Hal senada dituturkan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Triwanda Elan, di Kota Bogor HIV/AIDS masih menjadi fenomena gunung es, tercatat penderita HIV/AIDS sebanyak 530 orang. Padahal ia yakin, realita di masyarakat lebih banyak lagi namun belum berani menginformasikan kepada dinas kesehatan. Upaya pun telah dilakukan Pemkot Bogor, menurut Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Bogor Bambang Gunawan pihaknya terus berupaya mencegah penyebaran HIV/AIDS. Namun faktanya, jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Bogor terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

“Berdasarkan angka estimasi tahun 2006, tercatat ada 22 ribu warga Kota Bogor yang masuk ke dalam resiko HIV/AIDS. Untuk itu, sejak tahun 2006, penanganan pencegahan HIV/AIDS telah masuk ke dalam Rencana Strategis KPAD Kota Bogor,” kata Bambang.

Beragam upaya dan program telah dilakukan untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS meningkat, lanjut Bambang, salah satunya dengan sosialisasi kepada kelompok usia rendah dan pelaku seks beresiko.

“Sejak tahun 2009 pemerintah memiliki program, agar pelaku seks beresiko ini diikutsertakan dalam program pemberdayaan secara ekonomi. Dan bagi penderita Puskesmas Bogor Timur sudah menjadi puskesmas rujukan penanganan penderita HIV/AIDS,” pungkasnya. Aldho Herman Indrabudi

Sumber :
jurnalbogor.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4121