Tren Penyebaran HIV/AIDS Mulai Berubah
Tanggal: Monday, 23 May 2011
Topik: HIV/AIDS


Pikiran Rakyat, 14 Mei 2011

Tren penyebaran HIV/AIDS mulai berubah. Jika dulu tingkat prevelensi atau penyebaran infeksi baru HIV/ADIS diduduki paling tinggi oleh pelaku narkoba dengan penggunaan jarum suntik bersama-sama, kini pola penyebaran paling tinggi diakibatkan perilaku seks beresiko.

Demikian dikatakan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Republik Indonesia (KPAN) RI dr. Nafsiah Mboi, SpA., MpH di Ruang Rapat I, Balai Kota Bogor, Jln. Ir. H. Juanda, Kota Bogor, Jumat (13/5) malam.

Menurut Nafsiah, mengendalikan prevelensi akibat perilaku seks beresiko tidak mudah. Terlebih, berdasarkan hasil pengamatan, lebih dari 2000 pelabuhan di Indonesia semuanya memiliki tempat pelacuran.

"Tidak ada satupun dari 2.000 pelabuhan itu yang tidak ada tempat pelacuran. Tidak ada satu terminal pun yang tidak ada pelacuran," kata Nafsiah ketika memberikan pembekalan kepada para aktivis HIV/AIDS sebelum melakukan observasi ke kantong-kantong pelaku seks berisiko di Kota Bogor.

Lebih lanjut dikatakan Nafsiah, sampai saat ini masih sangat sulit untuk membubarkan lokalisasi karena sejumlah alasan. Parahnya, lanjut Nafsiah, pelacuran juga telah masuk ke dalam rumah-rumah penduduk sehingga sulit dipetakan. "Belum lagi pemahaman pelaku seks beresiko terhadap pentingnya perlindungan diri, seperti pentingnya menggunakan kondom juga masih sangat minim," tambah Nafsiah.

Kondisi di Indonesia saat ini, kata Nafsiah, prevelensi akibat perilaku seks beresiko meningkat. Namun, penggunaan kondom ditentang. Dengan demikian, mau tidak mau, penggunaan kondom pada seks beresiko harus ditingkatkan untuk menyelamatkan bangsa ini dari epidemic HIV/AIDS.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Triwanda Elan mengatakan bahwa di Kota Bogor, HIV/AIDS masih menjadi fenomena gunung es. Dinas Kesehatan baru mencatat penderita HIV/AIDS sebanyak 530 orang.

Meski demikian, Triwanda meyakini jumlah riilnya di masyarakat lebih banyak lagi. Di Kota Bogor sendiri, sejumlah kantong-kantong pelaku seks berisiko misalnya Taman Topi, Jalan Bangka dan Terminal Bubulak.

Senada dengan Triwanda, Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Bogor Bambang Gunawan juga menyatakan jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Bogor terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. "Bahkan berdasarkan angka estimasi tahun 2006, tercatat ada 22 ribu warga Kota Bogor yang masuk ke dalam resiko HIV/AIDS," ungkap Bambang.

Sejak tahun 2006, lanjut dia, penanganan pencegahan HIV/AIDS telah masuk ke dalam Rencana Strategis KPAD Kota Bogor. Beragam upaya dan program telah dilakukan untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS meningkat. Salah satunya dengan sosialisasi kepada kelompok usia rendah dan pelaku seks beresiko. "Sedangkan kepada penderita, kami terus berupaya agar mereka mendapatkan penanganan klinis yang lebih serius," ujarnya.

Bambang juga menjelaskan, bahwa sejak tahun 2009, pemerintah memiliki program agar para pelaku seks beresiko ini diikutsertakan dalam program pemberdayaan secara ekonomi berupa bantuan ekonomi produktif. Bagi penderita, kini Kota Bogor telah memiliki Puskesmas Bogor Timur yang menjadi rujukan penanganan penderita HIV/AIDS. (A-155/kur)

Sumber :
pikiran-rakyat.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4124