Jumlah ODHA Di Sumut Terus Bertambah
Tanggal: Monday, 23 May 2011
Topik: Narkoba


Berita Sore, 19 Mei 2011

Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara dinilai masih belum maksimal dalam melakukan penanggulangan penyakit HIV/AIDS. Meski telah diberikan pelatihan kepada petugas untuk upaya penanggulangan HIV/AIDS, namun belum ada pembinaan layanan hingga ke kabupaten/Kota.

“Ada 10 ribu orang kelompok resiko tinggi di kabupaten. Untuk satu pemeriksaan biayanya Rp10 ribu. Tapi perlu juga untuk KIE dan preventifnya,” sebut Kadis Kesehatan Sumut, dr Candra Syafei SpOG, melalui Proyek Manager Global Fund, Andi Ilham Lubis, Rabu (18/05), di ruangannya.

Berdasarkan laporan layanan klinik VCT, lebih dari 50 persen penderita HIV/AIDS yang telah ditemukan. Dari jumlah kumulatif ditemukan sekitar 4000 Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Sumut. Berdasarkan estimasi pada 2009 ditemukan jumlah ODHA sebanyak 7075 orang. “Berarti lebih 50 persen yang sudah ditemukan dari laporan layanan klinik VCT,” ujarnya.

Dijelaskan Andi, kasus tersebut banyak di Medan dikarenakan adanya rumah sakit type A dan jumlah klinik VCT. Saat ini ada 23 klinik VCT yang aktif seperti di Medan, Deli Serdang, Binjai, Sergei, T Tinggi, Siantar, Simalungun, Asahan, Tj Balai, Karo, Labura, Lab Batu, Tapsel, Tobasa, Taput dan G Sitoli. Namun, 17 kab/kota lagi belum memiliki klinik VCT.

“Seperti pasien yang mengalami sesak nafas atau TB diperiksa dokter tapi tidak bisa menegakkan diagnosa dikarenakan SDM yang belum terlatih dan bahan reagan yang tidak ada, terutama pada daerah yang belum memiliki klinik VCT. Jadi dokternya hanya mendiagnosa dari penyakit penyertanya saja dan diobati. Namun, tidak memeriksa kekebalan tubuh pasien,” kata Andi.

Berdasarkan Inpres No 3 Tahun 2010 di Indonesia, sambung Andi, paling tidak ada sekitar 400 ribu orang yang harus di konseling, dan mungkin Sumut ada 40 ribu. Sementara pelayanan hanya didukung Global Fund dan tidak ada dana bantuan lain di daerah. Jadi, program HIV bisa tidak berjalan. Sementara dari angka 7075 ODHA ini mobilitas faktor resikonya tinggi antara lain dikarenakan pekerjaannya seperti WTS.

“Makanya harus aktif ke lapangan mencari dan menemukan kasus ke kelompok resiko tinggi dan melakukan penyuluhan. Agar yang terkena tidak menularkan pada orang lain,” pungkasnya. (don)

Sumber :
beritasore.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4130