Agama, HIV/AIDS, dan Kondom
Tanggal: Monday, 23 May 2011
Topik: HIV/AIDS


Sinar Harapan, 23 Mei 2011

Penulis : Heru Guntoro 

Bagaikan air dan minyak, antara agama, HIV/AIDS, dan kondom tidak pernah menemui titik temu. Padahal penyebaran HIV/AIDS makin mengkhawatirkan. Perlu pemahaman dan kesadaran bersama untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS.

Hingga kini, agama tidak pernah mengizinkan adanya persetubuhan di luar ikatan pernikahan yang sah. Namun nyatanya, hubungan seks di luar nikah atau seks bebas adalah fenomena yang telah lama mewarnai alur kehidupan. Menurut penelitian terbaru di sejumlah daerah di Indonesia, kini seks bebas menjadi penyebab penularan AIDS terbanyak.

Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan hingga akhir Desember 2010 di Indonesia terdapat 24.131 kasus AIDS yang dilaporkan tersebar di 300 kabupaten dan 32 propinsi. Apabila dilihat per daerah, angka tertinggi adalah Papua, disusul Bali dan DKI Jakarta. Untuk kasus HIV positif terbanyak hingga Desember 2010 adalah DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat.

Para pemuka agama yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam membimbing dan mengayomi masyarakat justru belum memahami secara betul apa itu HIV/AIDS. Tak ayal para penderita HIV/AIDS terus mendapatkan stigma negatif dari masyarakat yang mendapatkan pemahaman yang salah dari para pemuka agama.

Ketua Dewan Masjid Jawa Timur Yanto di Jakarta, Rabu (18/5), juga mengamini belum pahamnya para pemuka agama terhadap HIV/AIDS. Beberapa waktu lalu ia pernah mengadakan seminar mengenai HIV/AIDS, dan ternyata 95 persen yang hadir belum memahami apa itu HIV/ AIDS secara utuh dan mendalam.

Para pemuka agama beranggapan kasus HIV/AIDS hanya terjadi di lokalisasi pelacuran. Tapi sekarang lokalisasi sebagai sarana penampungan para pekerja seks komersial (PSK) pun banyak ditutup pemerintah setempat. Selain itu, banyak pemuka agama juga berasumsi bahwa penanggulangan HIV/AIDS hanya tugas pemerintah, sehingga pemuka agama tidak perlu ikut urun rembug.

Di sisi lain, staf ahli Kementerian Sosial Suwaiyah mengakui sulit untuk bisa mengontrol pergerakan PSK. Ini karena masyarakat cenderung menolak lokalisasi prostitusi tersebut. Akibatnya, para PSK tersebut berbaur dengan warga sekitar dan semakin sukar diketahui."Bukan berarti dengan adanya lokalisasi kita melegalkan tempat tersebut. Namun, sisi positifnya adalah kita bisa mengontrol orang dengan risiko tinggi HIV/AIDS", ujarnya.

Suwaiyah mengatakan, perlu ada ketahanan masyarakat yang kuat yang mencerminkan ketahanan masing-masing keluarga. Selain itu, perlu juga untuk mempertahankan kearifan lokal serta memperkuat lembaga kontrol sosial yang sudah ada demi menciptakan kerja sama yang positif antaranggota masyarakat dalam mengurangi penyebaran penyakit ini.

Mengkhawatirkan

Kini, penyebaran virus HIV/AIDS semakin mengkhawatirkan. Ibu-ibu rumah tangga pun mengidap virus tersebut dari sang suami yang senang "jajan". "Potensi perempuan berisiko terkena HIV karena bersuami pria yang mengidap virus tersebut adalah sebanyak 1,6 juta orang, sedangkan data hingga Maret 2011 menyebutkan sebanyak 2.160 ibu rumah tangga telah tertular," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional Nafsiah Mboi.

Dia menjelaskan, ibu rumah tangga merupakan kalangan terinfeksi HIV/AIDS tertinggi dari kalangan perempuan di Indonesia saat ini, jauh melebihi penjaja seks yang jumlahnya hanya mencapai 457 orang. "Ibu-ibu ini bukanlah pengguna narkoba atau bahkan selingkuh. Tetapi karena perilaku seksual yang salah dari suami," kata Nafsiah.

Melihat kenyataan ini, penggunaan kondom adalah salah satu solusi untuk meminimalkan penularan virus HIV. "Lebih baik haram atau zina tapi pakai kondom daripada zina atau haram tapi tidak pakai kondom," kata Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih. Namun Menkes menekankan supaya kondom dan agama tidak dibenturkan.

Menurutnya, Kemenkes sedang gencar mengeluarkan program penanganan infeksi baru HIV. "Penanggulangan HIV bukan semata-mata bukan berada di bawah tanggung jawab Kemenkes saja, tetapi menjadi tanggung jawab bersama karena faktor pemicu munculnya infeksi baru tersebut tidak hanya menyentuh sisi kesehatan, tetapi juga sisi sosial, dalam hal ini PSK, pendidikan, kemiskinan, dan lapangan pekerjaan", jelasnya.

Diperlukan kesadaran diri tiap anggota keluarga dengan meningkatkan iman dan benteng jiwa agar tidak terperangkap dalam jurang tersebut. Dengan kesadaran yang timbul dari dalam hati, masing-masing menyadari perbuatannya akan berdampak bagi seluruh anggota keluarga.

Sumber : sinarharapan.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4141