Mengapa Penderita HIV/AIDS Bertambah dengan Cepat?
Tanggal: Thursday, 26 May 2011
Topik: HIV/AIDS


Radar Mojokerto, 25 Mei 2011

HIV/AIDS merupakan penyakit yang masih sulit disembuhkan. Selain karena obat yang bisa membuat penderitanya sembuh total belum ditemukan, laju penularan virusnya juga sangat cepat.

Dulu mungkin kita masih berpikir bahwa AIDS itu hanya menjangkiti orang-orang di luar negeri sana, atau hanya menjangkiti mereka yang tergolong berisiko tinggi yang pada saat itu terutama pekerja seks komersial.

Itulah sebabnya, jika ditemukan satu atau dua kasus HIV/AIDS sudah heboh. Koran, TV, Depkes dan lain-lain ramai membicarakan. Penderitanya selalu dikaitkan dengan perilaku yang tidak benar seperti pekerja seks komersial atau free sex dan kalangan homoseksual.

Hal ini disebabkan minimnya pengetahuan masyarakat terkait penyakit HIV/AIDS itu sendiri. Pengetahuan masyarakat masih sepotong-potong tidak komprehensif sehingga muncul berbagai stigma negatif terhadap penderita HIV/AIDS. Padahal, sejatinya penderita ini merupakan korban yang seharusnya mendapatkan empati.

Hal tersebut terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika HIV/AIDS baru masuk ke Indonesia. Namun hari ini di Mojokerto sudah 120 orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Dan ironisnya, stigma negatif tersebut masih terus melekat pada penderita dari lingkungan sekitar bahkan tidak terkecuali dari keluarga yang merupakan orang-orang terdekat korban.

Angka 120 penderita itu masih kecil dari yang sebenarnya. Mengapa? Karena banyak kasus yang tidak terdeteksi. Masih banyak penderita lain yang tidak mau memeriksakan dirinya. Jadi ibaratnya, angka di atas hanyalah puncak dari sebuah gunung es di lautan lepas.

Pasti kita bertanya, mengapa jumlah penderita HIV/AIDS begitu cepat bertambah? Apakah tidak ada cara untuk menanggulanginya?

Infeksi HIV/AIDS terjadi setidaknya melalui 3 hal. Pertama, hubungan seksual. Kedua, penggunaan jarum suntik secara bergantian atau alat tusuk lain seperti pisau cukur bekas dipakai tercemar HIV / AIDS. Ketiga, dapat ditularkan dari ibu kepada anak yang dikandungnya.

Sebenarnya, virus HIV itu tidak mudah menular. Berbeda dengan virus influenza atau virus lain yang dengan mudah menular dari satu penderita kepada orang lain. Ini karena virus HIV/AIDS bersarang pada sel darah putih tertentu yang disebut sel T4.

Karena sel T4 hanya ada pada cairan tubuh, maka HIV/AIDS ditemukan dalam cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina dan cairan leher rahim.

Penularan HIV/AIDS dari cairan tubuh di atas harus masuk langsung ke dalam peredaran darah. Memang HIV/AIDS ditemukan dalam jumlah sangat kecil di air liur. Namun, untuk menularkan HIV/AIDS melalui air liur dibutuhkan 1.500 liter air liur. Jadi, penularan melalui pernapasan makan maupun melalui kontak mulut sangat kecil kemungkinannya.

Perlu diketahui pula virus ini cepat mati kalau berada di luar suhu tubuh. Karena itu HIV/AIDS tidak bisa menular lewat udara. Sehingga tidak menular ketika bersenggolan, berjabatan tangan, bersentuhan dengan pakaian, penderita, bersin atau batuk-batuk penderita di depan kita, berciuman (dalam konteks yang wajar), lewat makanan dan minuman, gigitan nyamuk serta bersama berenang di kolam renang.

Infeksi HIV/AIDS terjadi karena hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik secara bergantian. Keduanya memegang peran penting dalam penyebaran HIV/AIDS dan keduanya berkaitan dengan perilaku.

Jadi, jawaban mengapa kasus HIV/AIDS hari ini tinggi dan jumlah penderita HIV/AIDS begitu cepat? Karena ada yang salah dalam perilaku kita. Perilaku dalam memilih pasangan seksual dan perilaku menggunakan narkoba. Tengok saja, berganti-ganti pasangan seksual, hubungan seksual usia dini, hubungan seksual pranikah, tidak lagi merupakan hal yang tabu. Tapi sudah menjadi hal yang dianggap biasa.

Begitu pula dengan narkoba. Banyak remaja kita tertarik mencobanya. Padahal sekali terjebak di dalamnya, sangat sulit untuk keluar. Celakanya pengguna narkoba berganti-ganti jenis narkoba, ingin merasakan semuanya, termasuk narkoba yang digunakan dengan cara menyuntikannya ke pembuluh darah.

Mengubah perilaku merupakan perkara sulit. Butuh usaha dan waktu yang lama. Itulah sebabnya, kampanye penanggulangan HIV/AIDS yang dewasa ini sudah sampai tingkat RT/ RW dan pelosok-pelosok kampung hanya dapat menahan laju penularan, tapi tidak menghentikannya.

Untuk itu, mengharapkan kesadaran semua orang untuk tidak menjadi mata rantai penularan HIV. Pasalnya, sebagian HIV ditularkan pada saat seseorang tidak sadar. Untuk lebih jelasnya datang ke klinik VCT di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo yang sementara berada di Puskesmas Blooto. (*)

Sumber: radarmojokerto.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4150