Klinik Terapi Methadon di Petala Bumi
Tanggal: Thursday, 26 May 2011
Topik: Narkoba


Tribun Pekanbaru - Kamis, 26 Mei 2011

Untuk mendukung program pemerintah dalam pemberantasan HIV/AIDS, sejak 17 Maret lalu, RSUD Petala Bumi membuka klinik terapi methadon. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur RS Petala Bumi, Drg. Burhanudin Agung, Kamis (26/5). Terapi ini dikhususkan bagi para pengguna narkoba jarum suntik.

Sejak layanan ini dibuka, menurut Burhan, sudah ada 11 orang pengguna aktif narkoba jarum suntik yang memanffatkan program ini. Pada tahap awal, pemberian methadon kepada pengguna narkoba aktif merupakakn subsitusi pengganti. Prorgam ini merupakan hasil kerjasama antara pemerintah RI dan Global Fund.

"Secara nasional, program subsitusi methadon ini disebut sebagai Harm Reduction," kata Burhan ketika ditemui Tribun di kantornya.

Burhan menambahkan, program ini terbagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama adalah usahan untuk mestabilkan dosis, maksudnya adalah para pengguna narkoba jarum suntik, setelah mengakses methadon tidak akan menggunakan narkoba lagi. Cukup menggunakan methadon.

Setelah melalui tahap pertama, para pengguna akan menjalani proses terapi dan rehabilitasi hingga sampai benar-benar clean dari ketergantungan terhadap narkoba. Pada fase terakhir, mantan pengguna akan menjalani program after care untuk menjaga mereka tidak relaps.

Namun diakuinya, untuk melalui tahap pertama, Burhan tidak bisa menentukan batas waktu. Karena untuk menstabilkan dosis sehingga para pecandu tidak lagi menggunakan narkoba, tergantung pada kemampuan dan keadaan individu yang bersangkutan.

"Dalam dua bulan ini, baru ada satu orang pecandu yang sudah stabil, dan 5 orang lainnya sudah bisa dikatakan survive walaupun belum bisa dibilang stabil," lanjutnya.

Para pengguna yang sudah di stabil dosinya diharapkan bisa kembali beraktifitas. Karena, sambung Burhan, seorang pecandu misalnya pengguna putaw, bisa mengalami sakaw sebanyak tiga kali dalam sehari. Sementara jika dia mengakses methadon, yang bersangkutan cukup mengkonsumsinya satu kali dalam 24 jam.

"Reaksi methadon bisa bertahan antara 24 jam hingga 36 jam," jelas Burhan.

Kedepannya, jika Undang-Undang nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkoba sudah diberlakukan sepenuhnya, ia mengharapkan semua pengguna narkoba, khususnya narkoba jarum suntik akan mengakses program ini.

Namun, karena Burhan juga merupakan sekretaris dari Badan Narkotika Provinsi Riau, maka program ini akan dapat menghapuskan penyalahgunaan narkoba. "Bukan hanya menitikberatkan penanggulangan HIV/AIDS," tandasnya.

Sumber: pekanbaru.tribunnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4151