Klinik-klinik PSK di Myanmar Tawarkan Tempat Bebas dari Stigma
Tanggal: Friday, 27 May 2011
Topik: Narkoba


Harian Analisa, 25 Mei 2011

KETIKA Thida Win terjangkiti HIV setelah menjual diri di jalanan kota Yangon, dia berpaling ke teman-temannya sesama pekerja seks komersial, bukannya dinas kesehatan Myanmar kini terpuruk.

Proyek Top, yang sepenuhnya dikelola oleh orang-orang dalam perdagangan seks, memberi perawatan kepada Win, menyediakan suatu tempat jauh dari stigma ganda akibat HIV dan prostitusi -- dan akhirnya sebuah pekerjaan.

"Saya kini saya seorang pekerja kesehatan untuk komunitas saya dan saya bisa melupakan bahwa diri saya positif (pengidap virus itu). Saya begitu bangga bekerja untuk program tadi, saya akan bekerja untuk mereka sepanjang hidup," ujar Win, 33.

Proyek Top dan berbagai klinik serupa merupakan sumber daya vital di Myanmar yang didominasi militer. Dinas kesehatan di sana telah lama kekurangan dana. Banyak populasi berpindah-pindah dan rendahnya kualitas pendidikan memicu salah satu epidemi HIV terparah di Asia.

"Ketika saya didiagnosis, saya sedang hamil dan mereka memberitahu saya cara menemukan tempat aman bagi bayi itu. Jadi bayi itu negatif dan saya begitu senang," papar Win.

Hampir satu dari lima dari sekira 60.000 PSK di Myanmar terkena HIV dalam 2008.

Sebuah laporan PBB dari Agustus tahun lalu menyebutkan masalah hukum dan diskriminasi lebih mempersulit menjangkau mereka yang bekerja di industri itu, yang ilegal. Berbagai survei mengisyaratkan polisi bahkan menggunakan kondom sebagai bukti untuk melakukan penangkapan.

Tabu

Pendiri utama dan direktur proyek tadi Habib Rahman mengatakan bahwa menyediakan tempat bebas dari tabu-tabu dan membolehkan orang berbagi problema mereka dengan berbagai hal kontemporer merupakan tujuan utama bagi proyek itu.

"Bahkan bagian kebersihan berasal dari komunitas PSK, para penyuluh juga PSK. Itu merupakan salah satu alasan saya memutuskan merekrut tenaga dari komunitas tersebut -- karena tidak ada stigma dan diskriminasi apapun," paparnya.

Rahman mengemukakan banyak wanita terjun ke prostitusi tanpa mengetahui tentang berbagai risikonya. "Secara umum di Myanmar saya pikir tidak ada pendidikan seks di sekolah," ujarnya.

Proyek tadi merekrut para mantan PKS dan pelacur saat ini untuk membantu mendidik orang lain soal HIV, menyebarluaskan pesan tersebut dari posisi kepercayaan di dalam komunitas itu sendiri.

"Kami tidak bisa menyuruh orang lain berhenti menjual seks sekalipun jika mereka positif tapi hal yang kami lakukan adalah menjelaskan cara-cara supaya tetap sehat dan melindungi klien dengan memakai kondom," ucapya.

Dia menjelaskan para "pendidik sejawat" paruh waktu dari Top yang memilih terus bekerja dalam industri seks didorong agar selalu menggunakan perlindungan, sedangkan pegawai tetap diperintahkan berhenti menjual seks sama sekali.

Kontak

Penularan HIV di Myanmar terjadi "utamanya melalui kontak seksual risiko tinggi antara pekerja seks dan klien mereka," serta pria yang melakukan seks dengan pria dan mitra mereka sendiri, ungkap laporan PBB.

Laporan itu menyebut, kalangan pemakai obat suntikan merupakan mayoritas penderita HIV sebesar 36 persen, tapi mereka juga mungkin membayar seks dan "antaraksi ini diduga memarakkan epidemi yang dipicu pekerjaan seks."

Dibiarkan saja selama bertahun-tahun oleh para jenderal lalim yang berkuasa -- Myanmar menggunakan hanya 0,9 persen dari bujet kesehatan pada tahun 2007 -- membuat para donor asing memasilitasi kebanyakan pengobatan HIV di negara itu.

Sebuah pemerintah baru, yang berkuasa setelah pemilihan kontroversial pada Nopember 2010, telah meningkatkan harapan terjadinya investasi lebih banyak dari para donor luar negeri -- tapi bukan negara, yang diperkirakan membelanjakan sekira 20 persen dari pengeluaran untuk militer tahun ini.

Dalam 2009, PBB memperkirakan 240.000 orang di Myanmar mengidap virus penyebab AIDS itu dan kendati terjadi peningkatan situasi masih menyemaskan dengan tingkat prevalensi tercatat paling tinggi ketiga di Asia setelah Thailand dan Papua Nugini. (afp/bh)

Sumber :
analisadaily.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4155