Pelukan Masih Aman
Tanggal: Sunday, 12 June 2011
Topik: Narkoba


Jurnal Bogor, 07 Juni 2011

Bogor - Ya, atmosfer ketakutan akan istilah HIV dan AIDS juga begitu terasa dalam acara mahakarya pagelaran seminar kesehatan hari pendidikan nasional Jawa Barat yang diselenggarakan Mahasiswa Akademi Kebidanan Prima Husada Bogor beberapa waktu lalu di Harmoni Yasmin Center.

Hal itu terlihat jelas dari perhatian para peserta seminar saat mendengarkan penjelasan materi mengenai HIV AIDS oleh dokter ahli Rumah Sakit Marzoeki Mahdi (RSMM) Bogor dr. Ayie Sri Kartika. “HIV adalah virus yang bisa menyebabkan penyakit AIDS,” jelas Ayie.

Virus tersebut kemudian menyerang manusia dan mengakibatkan sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi. Jadi, kehadiran virus akan menyebabkan seseorang kekurangan sistem imun. “Tanpa kekebalan tubuh, maka saat tubuh diserang penyakit, sudah tidak ada pelindung lagi,” kata Ayie.

Dalam materi itu juga, Ayie memaparkan bagaimana sifat-sifat HIV. Diantaranya, HIV adalah suatu retro virus (RNA), bersifat khas dan permanen, menyerang sel-sel sistem imun tubuh, terbagi menjadi dua tipe yaitu HIV 1 dan 2, serta berkembang biak di limfosit T (CD4).

CD4 yang dimaksud ialah penanda di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. Pada orang bersistem kekebalan baik, nilai CD4 berkisar antara 1400 sampai 1500. Sedangkan dengan sistem kekebalan terganggu (misal terinfeksi HIV) nilai CD4 semakin lama semakin menurun.

“HIV ini terdapat di cairan tubuh seperti darah, cairan seksual, ASI, urin, dan juga air liur,” papar Ayie. HIV sendiri menular bukan melalui kontak kulit seperti bersalaman, berpelukan, bahkan berciuman. Virus ini menular dengan hubungan seksual, parenteral (transfusi darah, pemakaian jarum suntik bersama), perinatal (kehamilan, persalinan, menyusui), dan luka terbuka yang terkontaminasi darah mengandung virus HIV.

“Pada prinsipnya, penularan HIV ini, virus harus keluar dulu dari tubuh orang terinfeksi, kemudian virus mampu bertahan di luar tubuh. Jumlahnya pun harus cukup untuk menginfeksi seseorang. Dan masuknya juga melalui aliran darah,” terang Ayie.

Perjalanannya virus HIV dimulai dari ia masuk ke dalam tubuh. Kemudian RNA berubah menjadi DNA pro virus dengan bantuan enzim transkripaminase dan bergabung bersama DNA sel yang diserang. “Lalu, HIV berkembang biak di limfosit CD4. Sedikit demi sedikit imun pun dihancurkan. Setelah terinfeksi, timbul infeksi primer,” jelas Ayie.

Berdasarkan WHO 2006, stadium klinis HIV dewasa umumnya di awal tidak dijumpai gejala. Hanya ada pembesaran kelenjar limfe menetap. Baru ketika masuk stadium 2, berat badan (BB) mulai menurun kurang dari sepuluh persen dari BB semula, infeksi saluran napas berulang, ulkus oral berulang, atau ada pula infeksi jamur kuku.

Gejala selanjutnya berat badan semakin menurun, diare kronis tidak diketahui penyebabnya berlangsung sebulan, demam persisten tanpa sebab, muncul TB paru, sampai timbul infeksi bakteri berat. “Karena infeksi HIV mempunyai masa gejala yang panjang, maka ada baiknya menjalani pemeriksaan laboratorium untuk menentukan adanya infeksi HIV,” pungkasnya.

Sumber: www.jurnalbogor.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4190