Bertambah 90 Orang Setiap Bulan
Tanggal: Sunday, 12 June 2011
Topik: Narkoba


Sumut Pos, 07 Juni 2011

Penderita HIV/AIDS di Kota Medan

MEDAN -Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Medan kian meningkat. Dari data Dinas Kesehatan Sumut, sejak Januari hingga Mei 2011, ditemukan 80 hingga 90 orang penderita HIV/AIDS baru tiap bulannya.

Manager Global Fund Dinkes Sumut Andi Ilham Lubis saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (6/6) mengatakan, angka temuan tersebut berdasarkan jumlah kunjungan 11 VCT yang ada di Kota Medan.

Andi mengatakan, hingga Mei 2011, dari 5.065 jumlah kunjungan di seluruh VCT yang ada, 438 di antaranya dinyatakan positif HIV/AIDS. Sesuai data yang diterima pada Januari, dari 836 jumlah kunjungan, 95 di antaranya dinyatakan positif HIV. Sedangkan pada Februari, angka temuan sempat mengalami penurunan, di mana dari 921 jumlah kunjungan, hanya 73 yang dinyatakan positif.

Namun peningkatan kembali terjadi pada Maret, dimana dari 1.177 jumlah kunjungan 92 diantaranya dinyatakan positif HIV/AIDS.

Sedangkan pada April, angka temuan kasus masih tinggi, dari 1.039 jumlah kunjungan, 86 diantaranya dinyatakan positif HIV/AIDS. Bahkan angka temuan kasus kembali meningkat pada Mei, dari 1.092 jumlah kunjungan, 92 diantaranya dinyatakan positif.

“Besarnya penemuan kasus-kasus baru yang berkisar 80 hingga 90 kasus tiap bulannya di Medan, bukanlah sebuah kegagalan dari program yang dilakukan Dinkes Sumut selama ini. Angka temuan justru menunjukkan langkah efektif yang telah dilakukan pelayanan VCT dalam menemukan kasus sebanyak-banyaknya, sebagai langkah program pencegahan,” terang Andi.

Andi juga mengatakan, berdasarkan data estimasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, diperkirakan penderita HIV/AIDS di Sumut mencapai 7.057 kasus.

Sementara hingga saat ini menurut Andi, Sumut baru menemukan 4.097 kasus dalam rentan waktu lima tahun berjalannya pelayanan VCT terhitung sejak 2006 lalu.

“Dari 21 unit pelayanan VCT di Sumut, Dinkes Sumut baru menemukan 4.097 kasus atau 40 persennya saja. Sehingga untuk penemuan kasus yang lainnya tidak hanya menjadi tugas dinas kesehatan saja, melainkan instansi terkait lainnya. Mengingat dinas kesehatan lebih cenderung kepada penyelesaian dampak seperti acses penyedian obat Antiretroviral (ARV),” ungkapnya.

Untuk pencegahannya juga,lanjut Andi, peranan Kabupaten Kota, serta beberapa lembaga terkait seperti dinas pendidikan, dinas pariwisata, dinas sosial dan lainnya turut membantu program pencegahan penularan HIV/AIDS.

“Seperti dinas pendikan setidaknya bisa memberikan program pendidikan yang memberikan pemahan kepada anak tentang dampak dan risiko HIV/AIDS sejak dini. Selain itu peran dinas sosial, seperti pembinaan terhadap anak jalanan yang beresiko, serta dinas pariwisata mengenai pengawasan tempat penginapan yang cenderung digunakan sebagai ajang prostitusi,” ujarnya.

Menurutnya jika hal ini bisa berjalan secara beriringan, secara otomatis penularan HIV/AIDS akan bisa diminimalisasi. (uma)

Sumber: www.hariansumutpos.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4195