Wirausahawan, Terbanyak HIV/AIDS
Tanggal: Friday, 17 June 2011
Topik: HIV/AIDS


Radar Jogja, 17 Juni 2011

TULUNGAGUNG - Temuan mengejutkan diungkapkan Kabid PMKes Dinkes Tulungagung Triswati. Pengidap HIV/AIDS terbanyak ternyata bukan pekerja seks, melainkan wirausahawan. Data tersebut mengungkapkan bahwa 106 pemilik usaha terinfeksi virus mematikan itu. Posisi kedua baru penjaja seks (88 orang). Ibu rumah tangga berada di urutan ketiga dengan 71 orang.

Hal ini terlihat dari data penderita HIV/AIDS Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung berdasar profesi pada 2006-2011. Ada beberapa kemungkinan mereka terkena virus tersebut. Misalnya, tertular saat menjajakan seks, terkena suntikan jarum, dan transfusi darah.

”Fenomena HIV/AIDS tidak hanya terjadi pada penjaja seks. Ada beberapa profesi yang mengidap HIV, bahkan yang belum terdeteksi,” katanya.

Dari data itu juga diketahui bahwa tiga PNS mengidap virus HIV/AIDS. Selain itu, tiga siswa/mahasiswa tertular virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia tersebut.

Angka ODHA sendiri meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2006 terdapat 35 penderita, 2007 menjadi 42 penderita. Pada tahun berikutnya, 2008, jumlahnya bertambah menjadi 62 penderita, 2009 sebanyak 96 penderita, 2010 sebanyak 103. Kemudian, per 8 Juni 2011 jumlahnya mencapai 57. Bahkan, dalam bulan ini sudah ada 19 penderita baru.

Dari 19 penderita pada Juni ini, terdiri atas perempuan penjaja seks 10 orang, wirausaha (1 orang), dan PNS (2 orang). Sedangkan enam orang masih menunggu data untuk diserahkan ke dinkes. Rata-rata mereka berada pada usia produktif, sekitar 21–45 tahun.

Pada 2006-2011 ODHA yang meninggal mencapai 128 orang. Pada bulan ini, ditemukan 1 ODHA meninggal. ”Baru dua minggu lalu, ada ODHA yang meninggal di RSUD dr Iskak,” katanya. Triswati mengatakan, untuk mencegah HIV agar tidak semakin merajalela, dinkes sudah melakukan beberapa upaya. Misalnya, penapisan di lokalisasi, kondomisasi, program IMS, sosialisasi ke masyarakat melalui brosur, poster dan lain-lain.

Juga dilakukan sosialisasi lewat media elektronik, dan VCT mobile. Selain itu, dilakukan pengobatan presumtif berkala melalui preventif IMS, PMTCT (preventition mother to child transmition), PITC (provider inisiated test and conseling). ”Sampai sekarang program tersebut masih berjalan dan terus digerakkan,” katanya. (jpnn)

Sumber: Radar Jogja




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4237