NU Siapkan Relawan untuk Penderita HIV/AIDS
Tanggal: Monday, 20 June 2011
Topik: HIV/AIDS


Media Indonesia, 17 Juni 2011

BANDARLAMPUNG : Sekitar 15 tenaga medis dan relawan Nahdlatul Ulama (NU) Lampung siap diterjunkan untuk memberi pelayanan akhir atau "palliative care" bagi penderita HIV/AIDS.

"Gerakan ini sebagai bentuk kepedulian NU, bahwa penderita HIV/AIDS juga sebenarnya berhak mendapat pelayanan layak pada akhir kehidupan mereka," kata Wakil Ketua Tanfidziyah NU Lampung A. Farich, dalam pelatihan Palliative Care di Bandarlampung, Jumat (17/6).

Menurut dia, dibentuknya relawan itu, berangkat dari sebuah kasus di salah satu provinsi di Tanah Air, dimana ada Orang Dengan AIDS (ODHA) diakhir hayatnya dikubur dengan cara tidak selayaknya.

"Kami sebagai ormas, dengan melibatkan unsur dokter dan relawan, ingin berperan secara penuh, selain pencegahan penularan HIV/AIDS, kami juga memberi pelayanan akhir hayat bagi penderita penyakit itu, bagaimana pun juga mereka manusia yang berhak mendapat perlakuan sama," imbuh dia.

Sementara Wakil Ketua Lembaga NU Pusat Wan Nedra mengatakan, kegiatan pallliative care di sejumlah provinsi memdapat sambutan baik dari ODHA.

"Dari laporan beberapa daerah yang sudah menangani ODHA, wadah ini sebagai tempat mengadunya mereka," kata Nedra.

Namun disayangkan, dia tidak dapat menjelaskan total ODHA yang sudah mendapatkan pelayanan "palliative care".

"Belum ada data yang masuk ke pusat, karena program ini baru satu semester berjalan, kami masih baru menginisiasi modul seperti apa yang akan digunakan dari NU, apakah lebih pada spritualnya atau bagaimana," jelasnya.

Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Lampung, sejak 2005 sampai Maret 2011 tercatat sebanyak 214 kasus HIV/AIDS.

Epidemik itu merupakan fenomena gunung es, karena masih banyak ODHA yang belum terdata dan tertangani.

Data pada Klinik VCT Rumah Sakit Umum Abdoel Moeloek (RSUDAM) Lampung menunjukkan, sekitar 214 penderita telah menjalani terapi Antiretroviral (ARV), sedangkan 100 kasus HIV baru hasil uji tes terhadap orang berisiko tertular, belum mendapatkan terapi pengobatan. Mereka berasal dari 14 kota dan kabupaten se-Lampung.

Ketua I Komisi KPA Bandarlampung Eva Dwiyana Herman HN mengakui telah terjadi peningkatan epidemik HIV yang signifikan dalam 5 tahun terakhir, dengan penularan utama terjadi akibat hubungan seks beresiko dan penggunaan jarum suntik secara bersamaan. (Ant/Ol-3)

Sumber: Media Indonesia



[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4238