HIV/Aids Menyebar ke Pelosok
Tanggal: Monday, 27 June 2011
Topik: HIV/AIDS


Fajar Online, 26 Juni 2011

PENYAKIT human immunodeficiency virus (HIV) acquired immune deficiency syndrome (Aids), tidak hanya menyasar penduduk kota besar seperti Makassar, juga mulai menyasar kota-kota di pelosok kabupaten/kota. Di luar kota Makassar, setidaknya ada 666 warga Sulsel yang sudah terdata terjangkit virus HIV/Aids.

Sebaran penyakit HIV/Aids yang mulai menyasar penduduk di pelosok kabupaten ini, tentu saja cukup memprihatinkan bagi generasi muda di daerah. Ada kekhawatiran, warga di pelosok sudah mulai mengikuti trend dan kebiasaan buruk dalam berprilaku hidup sehat utamanya menjaga pergaulan seperti seks bebas serta mengonsumsi narkoba.

Berdasarkan riset dan temuan yang dilakukan pihak terkait utamanya Komisi Penanggulangan HIV/Aids (KPA), penyebab utama penyebaran virus mematikan tersebut melalui heteroseksual yakni seks bebas, lesbian, dan homoseksual, serta melalui penggunaan jarum suntik dalam rangka mengonsumsi narkoba. Mengacu alasan tersebut, masyarakat di daerah dikhawatirkan sudah mulai hidup dengan seks bebas dan mengonsumsi narkoba.

Di luar Makassar, kota Parepare merupakan daerah yang memiliki penduduk terbesar yang warganya terjangkit HIV/Aids. Di kota ini, jumlah warga yang dideteksi terjangkit HIV/Aids mencapai 121 orang, dan Wajo yang mencapai 153 orang. Adapun Bulukumba yang terkenal dengan perda syariat Islamnya sebanyak 88 orang hingga Mei 2011.. Disusul Gowa dengan jumlah penderita mencapai 81 orang. Sementara Luwu Utara merupakan daerah dengan jumlah penderita terkecil sebanyak dua orang.

Maraknya penyebaran HIV/Aids di Sulsel ini tentu saja patut menjadi kewaspadaan dan perhatian pemerintah. Salah satunya adalah menyiapkan anggaran dalam rangka penanggulangan HIV/Aids melalui APBD. Pasalnya, kalau sekadar mengharap bantuan asing, harapan tersebut sangat minim. Pada Juli 2010-Juli 2011 misalnya, hanya ada lima kabupaten yang beruntung mendapat bantuan asing dari Global Fund.

Pihak terkait utamanya KPA sendiri mengaku tidak bisa berbuat banyak dalam penanggulangan penyakit tersebut, karena keterbatasan anggaran. "Makanya, KPA harus dibackup melalui APBD. Masalahnya tidak ada nomenklatur dalam APBD, sehingga cara yang perlu dilakukan semua stakeholder adalah membuat program kegiatan yang sifatnya pencegahan," ujar Sekretaris KPA Sulsel, Saleh Rajab.

Wakil Bupati Sinjai, Andi Massalinri Latief, mengatakan bahwa pemerintah sudah melakukan upaya antisipasi penyebaran penyakit tersebut. Salah satunya adalah melakukan sosialisasi mengenai HIV/Aids utamanya di kalangan remaja. "Salah satu penyebab HIV/Aids itu sendiri adalah penyalahgunaan narkoba, dimana usia remaja adalah kalangan yang rentan terhadap persoalan itu," kata Massalinri.

Sejauh ini, pemkab kata dia masih merujuk pada Badan Narkotika Kabupaten (BNK) dalam penganggaran penanggulanan HIV/Aids. Melalui lembaga ini pemerintah mengalokasikan dana hingga Rp160 juta.

Memasuki 2011 ini, kasus HIV/Aids di Bulukumba terus meningkat. Data terakhir menyebutkan jumlah penderita mencapai 88 orang, dengan potensi penularan hingga 1.408 orang.

Ketua Program Penanggulan HIV/Aids Bulukumba, Zaqyul Fahmi menegaskan bahwa jumlah penerita HIV/Aids berbanding lurus dengan tindakan penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif lainnya. Mayoritas penderita HIV/Aids adalah anak usia remaja yakni antara 20 hingga 30 tahun.

"Nah, ini adalah suatu kekhawatiran yang sangat berbahaya untuk warga. Jika tidak ada upaya untuk mendidik remaja tidak bersentuhan dengan narkotika dan seks bebas akan sulit menghilangkan ini. Apalagi mereka yang mengkonsumsi narkoba sangat sering bertukar jarum suntik tanpa sadar ada kuman yang terbawa dalam darah. Ini yang rawan," kata Zaqyul.

Anggota Komisi D DPRD Bulukumba, Fahidin menyatakan perlu upaya maksimal mengurangi resiko penularan virus HIV/Aids.

"Perlu ada upaya dan program terstruktur serta sistem inventarisasi orang-orang yang dianggap berpotensi penyakit ini. Khususnya tempat wisata atau tempat hiburan harus menjadi perhatian penuh. Perlu sinergitas semua pihak baik kepolisian, Dinas Pariwisata, Dinas Kesehatan, dan Dinas Sosial," imbuh Fahidin.

Kepala Dinkes Wajo, Abdul Azis mengatakan, penderita HIV/Aids di Wajo sekitar 70 persen disebarkan akibat penggunaan jarum suntik narkoba, selebihnya 30 persen akibat seks bebas. Ada juga indikasi transfusi darah yang tidak terseleksi dengan baik. Penderita dominan dari kaum laki-laki, yang kemudian menularkan kepada istri atau anaknya. (eds-arm-lim)

Sumber: www.fajar.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4262