Bidan disiapkan jadi konselor HIV/AIDS
Tanggal: Friday, 01 July 2011
Topik: HIV/AIDS


Waspada Online, 30 Juni 2011

MEDAN - Guna mengembangkan program Prevention Mother To Child Transmission (PMTCT), Dinas Kesehatan Sumatera Utara segera menyiapkan tenaga bidan di seluruh kabupaten/kota untuk menjadi konselor Human Immunodeficiency Virus/Aquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS).

“Hal ini sebagai upaya mengurangi resiko penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak. Sebab, penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak masih tinggi,” kata Project Officer Global Fund Komponen AIDS (GF-AIDS) Dinas Kesehatan Sumut, Andi Ilham Lubis pagi ini.

Menurut Andi, pihaknya segera menggelar rapat kordinasi terlebih dahulu karena program tersebut berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak. “Ini kita lakukan agar bidan dan ibu hamil mengenali risiko penularan HIV/AIDS pada saat melahirkan. Bidan dinilai sangat dekat dengan ibu hamil. Karena itu, bidan berpotensi diberdayakan untuk mengembangkan program PMTCT," tambah Andi.

Andi berpendapat, program PMTCT harus dikembangkan. Pasalnya, dari pemeriksaan terhadap 41 wanita hamil yang terinfeksi HIV dan mengikuti program tersebut, berhasil dilakukan pencegahan penularan virus mematikan itu terhadap 21 anak yang dilahirkannya. Sedangkan 20 anak belum diketahui hasilnya karena masih menunggu waktu yang tepat untuk dilakukan pemeriksaan.

“Seorang anak yang lahir dari ibu terinfeksi HIV, belum sempat terdeteksi apakah ikut tertular. Sebab, dia meninggal karena penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan belum dilakukan pemeriksaan dengan alat Polymerase Chain Reaction (PCR),” katanya.

Secara persentase, kata Andi, tanpa adanya intervensi PMTCT, potensi penularan HIV/AIDS dari ibu hamil hingga melahirkan anak berkisar 30 persen. Sedangkan potensi penularan HIV/AIDS melalui Air Susu Ibu (ASI) berkisar 15 persen. “Jadi, tanpa dilakukan intervensi PMTCT, maka potensi penularan HIV/AIDS dari ibu hamil ke anaknya mencapai 45 persen,” tambahnya.

Andi menjelaskan, program PMTCT mulai dilaksanakan di Sumatera Utara sejak 2007 dan sudah menangani 41 ibu hamil yang terinfeksi HIV. Rinciannya, 19 pasien ditangani di RS Haji Medan dan 22 pasien ditangani di RSUP H. Adam Malik.

Dari seluruh bayi yang lahir, 22 di antaranya sudah dilakukan pemeriksaan dengan alat PCR guna memastikan apakah terjadi penularan HIV atau tidak. Pemeriksaan PCR baru bisa dilakukan saat usia bayi mencapai 18 bulan. Jika belum berusia 18 bulan, hasil pemeriksaannya masih diragukan, karena bisa saja di tubuh anak tersebut masih ada antibodi dari ibunya. “Anak yang lain belum kita periksa dengan PCR sehingga belum diketahui hasilnya,” sebut Andi.

Sumber: www.waspada.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4291