Ada 10 Anak di Depok Terjangkit HIV/AIDS
Tanggal: Friday, 01 July 2011
Topik: HIV/AIDS


VIVAnews, 30 Juni 2011

Sedikitnya ada 10 anak di Depok, Jawa Barat, tertular HIV/AIDS dari orangtua mereka. Hampir seluruh anak terjangkit virus mematikan itu kini ditangani serius oleh Pemerintah Kota Depok, Jawa Barat.

Dari catatan LSM Stigma, sepuluh anak penderita HIV/AIDS itu tersebar di sejumlah wilayah di kota Depok, seperti Tapos, Pancoran Mas, dan Sawangan. Sejak 2005, tren peningkatan jumlah penderitanya mulai terjadi. "Sebagian besar belum tertangani pemerintah. Semua itu kasus lama," ujar Koordinator LSM Stigma, Irwansyah, Kamis, 30 Juni 2011.

Lebih lanjut dijelaskan Irwansyah, tak sedikit dari penderita merupakan anak-anak di bawah umur dikucilkan, atau diasingkan keluarga dan masyarakat sekitar.

Data lain dimiliki LSM Stigma, sejak 2006 hingga 2010, penderita penyakit mematikan itu melonjak sampai 27 persen. Kebanyakan penularan melalui penggunaan narkoba suntik.

Pada 2006, penderita HTV/AIDS tercatat 290 orang. Dan empat tahun kemudian melonjak menjadi 750 penderita. Meski begitu, diyakini masih banyak penderita positif HIV/AIDS di kota ini.

Irwansyah juga mengkritisi kurangnya perhatian dari pemerintah Kota Depok untuk menanganani penderita HIV/AIDS. Dinas Kesehatan Depok diminta segera membenahi pelayanan kesehatan mereka, khususnya bagi penderita AIDS. "Meski punya RSUD, tapi pelayanannya belum maksimal untuk penderita HIV. Penderitanya masih dirujuk ke rumah sakit lain," ujarnya.

Seperti diketahui sebelumnya, dua bocah bernama Zh dan Rf, yang tinggal di Kelurahan Mampang, Pancoran Mas, Depok, terjangkit virus HIV/AIDS.

Kedua orangtua Zh, dan satu kakaknya, sudah meninggal akibat virus itu. Kini bocah berusia 6 tahun itu tinggal bersama kakek dan neneknya. Zh diketahui menderita HIV karena tertular dari orangtua mereka.

Dia menjalani perawatan di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan. Selama dirawat, biaya pengobatan Zh ditanggung keluarga. Manih sang nenek hanya mampu membayar Rp700 ribu dari total biaya yang mencapai Rp4,7 juta, untuk setiap kali berobat.

Penyakit HIV juga diwarisi Sg kepada buah hatinya Rf, yang masih berusia 4 tahun. Rf kini tumbuh tak seperti balita di usianya. Dia kerap menangis setiap malam, dan mengeluh kesakitan di bagian perut.

Kepada wartawan, ibunda Rf, Zb menceritakan kecurigaan keluarga mereka mengenai penyebab meninggalnya Sg yang saat itu menjadi misteri. Sebelum menikah Sg diketahui sebagai pecandu putaw. Pria itu menghembuskan nafas terakhir di usia 33 tahun setelah dirawat di RSCM. • VIVAnews

Sumber: metro.vivanews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4296