Obat AIDS dapat Sebabkan Penuaan Dini
Tanggal: Friday, 01 July 2011
Topik: Narkoba


Harian Analisa, 01 Juli 2011

SEJUMLAH obat generik AIDS yang sering dipergunakan mengobati HIV di Afrika dan wilayah-wilayah miskin lainnya dapat menyebabkan penuaan prematur dan memicu berbagai penyakit terkait usia seperti penyakit jantung dan dementia.

Dalam sebuah penelitian yang disiarkan jurnal Nature Genetics, para periset Inggris menemukan bahwa obat-obat itu, yang dikenal sebagai nucleoside analogue reverse-transcriptase inhibitors (NRTI), merusak DNA dalam mitochondria pasien -- "batere" yang memberi tenaga pada sel-sel.

Para ilmuwan tersebut menjelaskan kumpulan baru obat-obatan AIDS buatan berbagai perusahaan seperti Gilead Merck, Pfizer dan GlaxoSmithKline tak mungkin akan menyebabkan kerusakan pada level sama, karena semua obat tadi dinilai tak seberapa beracun bagi mitochondria. Namun riset lebih lanjut perlu dilakukan untuk memastikan hal itu.

"Dibutuhkan waktu untuk terjadinya efek sampingan ini, karena itu ada satu tanda tanya soal masa depan obat-obat tersebut dan apakah lebih sedikitnya jumlah obat menyebabkan problema ini," ujar Patrick Chinnery dari Institute of Genetic Medicine di Newcastle University dalam sebuah wawancara melalui telepon.

"Obat-obat itu lebih kecil kemungkinannya menyebabkan keadaan tadi, tapi kami masih belum tahu lantaran kami belum menelitinya."

Begitupun, temuan-temuan itu membantu menjelaskan mengapa orang-orang terinfeksi HIV yang diberi obat AIDS antiretroviral yang lebih tua menunjukkan berbagai tanda kerapuhan dan penyakit semisal penyakit jantung dan dementia pada usia dini, ungkap para peneliti.

"DNA dalam mitochondria kita terkopi sepanjang hidup kita dan, seiring dengan penuaan kita, secara alami mengakumulasi berbagai kekeliruan," singkap Chinnery yang memimpin tim riset tadi.

"Kami yakin obat-obat HIV ini mempercepat tingkat kekeliruan itu. Jadi dalam kurun waktu, katakanlah, 10 tahun, DNA metochondrial seseorang boleh jadi mengakumulasi jumlah kesalahan sama saat seseorang yang secara alami telah berusia 20 atau 30 tahun.

Kemajuan

Obat-obat NRTI -- yang salah satu bagiannya lebih dikenal dengan AZT, juga dikenal sebagai zidovudine dan semula dikembangkan oleh GSK -- merupakan kemajuan besar dalam pengobatan HIV ketika obat-obat tadi pertama kali muncul jelang akhir 1980-an. Obat-obatan itu memperpanjang umur pasien dan membantu membuat HIV sebagai penyakit kronis yang dapat ditangani bukannya hukuman mati seperti anggapan selama ini.

Berbagai keprihatinan soal tingkat racun NRTI, khususnya dengan penggunaan jangka panjang, berarti obat-obatan itu kini kurang umum dipakai di negara-negara kaya tempat obat jenis tadi telah diganti oleh kombinasi obat AIDS lebih baru dan lebih mahal dengan efek sampingan lebih sedikit.

Namun di negara-negara miskin, tempat akses ke obat-obatan generik yang lebih murah kerap jadi pilihan satu-satunya bagi para pasien HIV untuk mendapatkan pengobatan, NRTI masih dipergunakan cukup luas.

Sekira 33,3 juta orang di seluruh dunia menderita human immunodeficiency virus (HIV) yang menyebabkan AIDS pada 2009, menurut data terbaru PBB dan 22,5 juta dari penderita itu tinggal di Afrika.

"Obat-obat ini mungkin saja tidak sempurna, tapi kita mesti ingat bahwa bila obat-obat tersebut dipasarkan maka dapat memberi penderita ‘tambahan umur’ 10 atau 20 tahun," ungkap Brendan Payne dari Royal Victoria Infirmay Newcastle, yang juga terlibat dalam penelitian itu.

"Di Afrika, yang paling terpukul keras oleh epidemi HIV sementara pengobatan untuk penyakit itu lebih mahal daripada negara lain, obat-obat tadi jelas mutlak dibutuhkan." (rm/bh)

Sumber: www.analisadaily.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4302