Virus Mati Setelah Empat Jam
Tanggal: Monday, 04 July 2011
Topik: Narkoba


Bali Post, 02 Juli 2011

DISKRIMINASI untuk penderita HIV tidak hanya terjadi saat penderita hidup, tetapi juga saat mereka meninggal. Saat ini masih ditemukan kasus warga tidak mau memandikan jenazah yang diketahui pernah menderita HIV. Untuk itu, sosialisasi mengenai penanganan jenazah penderita HIV masih perlu dilakukan.

Kasi Yanmed Rawat Khusus RS Sanglah dr. I.A. Miswarihati, Jumat (1/7) kemarin memaparkan, tim KPA Bali terus melakukan pendekatan kepada desa-desa maupun banjar mengenai sosialisasi bagaimana memandikan jenazah yang aman bagi penderita HIV atau penyakit menular lainnya. ''Selain itu, juga perlu dilakukan sosialisasi mengenai penularan HIV/AIDS, sehingga warga tahu bahwa penularan HIV tidak gampang," tutur Dayu.

Penularan HIV hanya bisa terjadi lewat darah dan cairan kelamin. Jadi, virus bisa masuk jika ada luka di tubuh atau berhubungan seksual. HIV/AIDS tidak akan menular hanya dengan bersentuhan. ''Dengan sosialisasi terus-menerus diharapkan warga sadar dan menerima penderita HIV/AIDS di lingkungannya tanpa ada diskriminasi,'' papar Dayu.

Mengenai penanganan jenazah HIV/AIDS di Kamar Jenazah RS Sanglah, Kepala Instalasi Kedokteran Forensik RS Sanglah dr. Dudut Rustyadi, Sp.F. mengatakan, penanganannya sama saja dengan penyakit infeksi lainnya yang disebabkan virus maupun bakteri. "Jenazah penderita HIV/AIDS penanganannya tidak dikhususkan. Tapi sama saja dengan penderita infeksi lain seperti hepatitis ataupun rabies," ujarnya.

Lanjut Dudut, saat masuk kamar jenazah, labeling penderita HIV/AIDS atau infeksi lainnya dibedakan yaitu dengan warna merah. Pembedaan labeling tersebut menunjukkan pada petugas agar menerapkan tata laksana prosedur penanganan jenazah dengan penyakit infeksi.

Untuk jenazah yang dititipkan, menurut Dudut, prosedur yang pertama kali dilakukan petugas adalah membiarkan jenazah selama empat jam dengan asumsi dalam waktu tersebut terjadi kematian tingkat seluler. Dengan matinya jaringan sel, maka virus atau bakteri yang hidup di dalamnya juga ikut mati. ''Setelah itu baru disimpan di lemari pendingin," jelas Dudut.

Jika jenazah langsung dibawa pulang dan keluarga pasien ingin memandikan langsung di kamar jenazah, maka petugas diwajibkan memakai alat proteksi diri, mulai dari penutup kepala, masker sampai sarung tangan. ''Jadi, jenazah dimandikan dengan air yang diisi larutan klorit 10 persen. Jika di tubuh penderita ada luka, ditutup dengan kapas yang direndam dalam larutan klorit tadi. Setelah itu diberi formalin," jelas Dudut. Formalin mempunyai fungsi ganda yaitu mengawetkan jenazah dan mematikan virus.

Lalu bagaimana jika keluarga pasien tidak mau memandikan jenazah di Kamar Jenazah tetapi ingin memandikannya sendiri. Di sinilah fungsi petugas untuk memberikan penjelasan bagi keluarga. Menurut Dudut, asal tidak ada luka di tubuh jenazah maupun luka di tubuh yang memandikan, virus tidak akan menular. "Selama tidak ada luka di tubuh orang yang memandikan, virus tidak akan bisa masuk dan menginfeksi," papar Dudut. (san)

Sumber: www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4310