Pemprov optimalkan pembinaan PSK
Tanggal: Monday, 04 July 2011
Topik: Narkoba


Waspada Online, 03 Juli 2011

MEDAN – Dinas Kesejahteraan Sosial Sumut menyatakan akan mengoptimalkan pembinaan terhadap pekerja seks komersial (PSK). Upaya ini dilakukan menyusul temuan Dinas Kesehatan Sumut mengenai adanya 700-an di antara belasan ribu PSK yang positif mengidap HIV/AIDS.

Dinas Kesejahteraan Sosial Sumut akan melakukan upaya pembinaan dengan sistem panti dan nonpanti. Hal itu agar PSK yang positif HIV/ AIDS tidak menularkan virus yang dideritanya kepada pelanggan. Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial Sumut Robetson mengatakan, penanganan penyakit HIV/AIDS yang diderita PSK merupakan tugas Dinas Kesehatan.

Dinas Kesejahteraan Sosial hanya melakukan pembinaan mental dan memberikan keterampilan kepada mereka. “Sistem panti kami lakukan di Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pelayanan Sosial WTS dan Tuna Laras di Brastagi.Daya tampung di UPT ini sangat terbatas, hanya berkapasitas 80 orang,”tuturnya.

Sedangkan pada sistem nonpanti, kata Robetson, pelayanan sosial dilakukan di tengah masyarakat. “Selain itu, tugas kami bersifat preventif, yaitu penyuluhan kepada masyarakat agar mereka yang rentan mendapat informasi yang jelas mengenai bahaya penyakit ini,”terangnya.

Menurut dia, Pemprov Sumut hanya berperan mem-back up 33 kabupaten/kota di Sumut. Karena itu, dia berharap, pemerintah kabupaten/kota dapat lebih berpartisipasi mengatasi masalah HIV/AIDS ini. Saat disinggung persentase WTS di Sumut yang telah dibina dan meninggalkan “pekerjaan” lamanya, Robetson tidak dapat menyebutkannya.

“Inilah yang menjadi kendala, karena ketiadaan dana pembinaan lanjut terhadap eks warga binaan,” bebernya. Dana pembinaan lanjut dinilai sangat penting.Menurut Robetson, ketika WTS dikembalikan kepada keluarga ataupun perusahaan,mereka dapat melanjutkan pembinaan jika eks warga binaan belum menunjukkan perkembangan signifikan.

“Jaraknya ke tempat eks warga binaan jauh,tidak hanya di Medan, ada juga di Sergai dan kabupaten/kota lainnya. Ini tentunya membutuhkan dana untuk berangkat ke tempat tujuan. Apabila belum menunjukkan perubahan signifikan, kami akan melanjutkan kembali pembinaan mental sampai dirinya benar-benar sadar.

Pembinaan mental terhadap seseorang tidak mudah,” tandasnya. Sebelumnya, Project Officer Global Funs Dinkes Sumut, Andi Ilham Lubis, menjelaskan, dalam survei yang dilakukan pihaknya,ditemukan 20% PSK yang memiliki luka di kemaluannya atau sifilis. Kondisi ini berpotensi meningkatkan penularan HIV/ AIDS. Jika tidak diantisipasi, jumlah penderita penyakit itu akan terus meningkat.

Sumber: www.waspada.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4312