Working Girls, tentang Mereka yang Menyiasati Kemiskinan
Tanggal: Tuesday, 05 July 2011
Topik: Narkoba


Okezone.com, 04 Juli 2011

FILM karya Nia Dinata tak pernah lepas dari tema tentang kehidupan perempuan. Kali ini, Nia memproduksi film berjudul Working Girls.

Berbeda dengan film sebelumnya, Working Girls mengambil jenis dokumenter. Ada tiga judul cerita dan disajikan oleh sutradara yang berbeda pula.

Bagian pertama yang berjudul Lima Menit Lagi Ah.. Ah.. Ah.. disutradarai Sammaria Simanjuntak dan Sally Anom, mengambil cerita tentang kehidupan penyanyi dangdut belia Ayu Riana. Penyanyi dangdut asal Bandung itu merupakan juara ajang pencarian bakat Stardut 2008.

Gadis yang masih berumur 14 tahun itu harus menopang kehidupan ekonomi keluarga. Kehidupan Ayu yang mulai menjauh dari popularitas, lalu coba bangkit kembali.

Popularitas instan yang diraihnya berbanding lurus dengan penghasilan yang kian hari semakin menyusut. Di awal karier di industri hiburan, Ayu sempat mencicipi bayaran Rp10 juta setiap kali manggung. Honor itu terus surut hingga dia terpaksa tampil di acara pernikahan di gang sempit dengan bayaran Rp500 ribu saja.

Namun, Ayu ikhlas menjalani lika-liku itu demi menghidupi keluarga dan ambisi pribadi menjadi penyanyi dangdut terkenal.

Di bagian ke dua, film berjudul Asal Tak Ada Angin mengangkat kehidupan para seniman ketoprak. Mereka hidup dari satu tempat ke tempat lain dengan membuka kompleks kecil pertunjukan ketoprak. Mereka tidur di bawah panggung dan gubuk reot yang bisa dibongkar pasang kapan saja.

Setiap kali manggung, mereka hanya mendapat bayaran Rp2 ribu karena sepi penonton. Meski begitu, mereka tetap mengandalkan hidup dari kesenian yang mulai ditinggalkan orang karena tergerus tayangan televisi. Sekuat tenaga mereka menyiasati kemiskinan yang dialami.

Sedangkan di bagian ketiga disutradarai Daud Sumolang dan Nazyra C Noer berjudul Ulfie Pulang Kampung. Film bercerita tentang waria yang berasal dari Aceh bernama Ulfie. Untuk bertahan hidup, Ulfie membuka salon di Jakarta. Waria yang bernama asli Zulfikar itu merupakan penderita HIV/Aids.

Ulfie memutuskan pulang ke kampung halaman menemui keluarga besar yang bertahun-tahun tak dikunjunginya. Saat berada di Aceh, Ulfie melihat kenyataan rekannya sesama waria banyak meninggal karena HIV/Aids.

Oleh karena itu, Ulfie giat berkampanye tentang bahaya HIV/Aids kepada rekan sesama waria. Dia tak ingin banyak rekan yang mati karena tak pernah mendapat akses informasi tentang virus berbahaya itu.

Meski berdurasi 120 menit, film ini tak membuat penonton jenuh. Pilihan Nia membuat film dokumenter bukan tanpa alasan. Dengan film dokumenter, tiga cerita yang diangkat memang benar-benar kenyataan dan tidak dibuat-buat. Alur cerita dibiarkan mengalir tanpa skenario, tanpa arahan sutradara.

Lewat wawancara orang-orang yang berada di cerita ini justru membuat kita masuk lebih jauh menyelami kehidupan mereka tanpa ending yang bisa ditebak.

Pilihan akhir cerita di film dokumenter ini memang menggambarkan bahwa perempuan yang diangkat ke dalam film itu masih terus berjuang mewujudkan mimpi-mimpinya hingga sekarang.

Kita sudah tak heran lagi dengan tema-tema gender, feminisme yang selalu diangkat Nia Dinata. Sejarah diskriminasi dan domestifikasi perempuan memang lahir seiring dengan peradaban manusia. Sebagai aktivis perempuan, hal yang wajar jika film Nia tak pernah berhenti melancarkan kritik dan perlawanan terhadap budaya patriarki yang cenderung menomorduakan perempuan.

Sayangnya, meski sudah dibuat dalam format 35 mm, film ini hanya ditayangkan di beberapa bioskop tertentu saja. Di Jakarta, misalnya. Film itu hanya ditayangkan di jaringan bioskop Blitzmegaplex dan XXI Metropole (Megaria). Penyebabnya, lagi-lagi keterbatasan dana.

Walau begitu, di tengah tiarapnya film box office Hollywood dan film horor-seks lokal yang kian meraja, film ini memberikan alternatif film berkualitas karya sineas Indonesia.(rik)

Sumber: celebrity.okezone.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4321