medan.tribunnews.com

">


90 Persen Jarum Suntik
Tanggal: Friday, 08 July 2011
Topik: Narkoba


TRIBUN-MEDAN.com, 06 Juli 2011

MEDAN - Kalau soal transfusi darah kita tidak bisa banyak berbuat banyak. Tak mungkin kan orang awam dilarang untuk tidak transfusi darah padahal ia membutuhkan. Ini adalah tanggung jawab pelayan kesehatan karena ini untuk kepentingan medis. Setahu saya, di setiap Unit Transfusi Darah (UTD) di Palang Merah Indonesia (PMI), darah yang akan didonorkan terlebih dahulu di-screening. Harus bebas dari virus penyakit hepatitis, malaria, apalagi HIV. Kalau ternyata darah tersebut tercemar maka harus dibuang.

Risiko penularan HIV/AIDS paling besar, sekitar 80-90 persen adalah melalui jarum suntik karena langsung masuk ke pembuluh darah.

Sampai saat ini, data di Dinkes Sumut menunjukkan penularan HIV/AIDS tertinggi adalah melalui hubungan seksual berisiko

Walaupun seseorang terinfeksi HIV, bila dibantu obat-obatan, makanan dan pola hidup sehat, kekebalan tubuh penderita tetap bagus. HIV menimbulkan gejala AIDS bukan karena virus melainkan karena sistem pertahanan tubuh rendah memudahkan timbulnya penyakit oportunis. Semakin tinggi tingkat kekebalan (mekanisme pertahananan tubuh) maka relatif lama jangka waktunya untuk timbul gejala AIDS. Kita bisa lihat kasusnya Magic Jhonson, pebasket asal Amerika. Tapi, lagi-lagi kembali pada pelayanan kesehatan. Kalau di luar negeri khususnya Amerika kan jauh lebih maksimal di sana.

Adapun penyakit oportunis yang paling sering timbul pada penderita HIV adalah TB, yang gejala awalnya adalah diare yang lama-kelamaan menjadi parah. Selain itu ada pula tuberklosa, infeksi jamur dan dermatitis. (mom)

Sumber: medan.tribunnews.com







[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4343