'Supermarket' Narkoba di Jerusalem Timur (3): Sakau Tapi Tak Punya Uang, Jual An
Tanggal: Friday, 08 July 2011
Topik: Narkoba


REPUBLIKA.CO.ID, 07 Juli 2011

JERUSALEM - Otoritas Israel memperkirakan ada lebih dari 300 ribu pecandu di negeri ini, termasuk 70 ribu remaja. Nilai perdagangan barang haram di negeri ini mencapai 2 miliar dolar AS pertahun. Dan semua didistribusikan serta dikendalikan oleh mafia, umumnya yang berbasis di Yerusalem.

Pertumbuhan pasar narkoba di Israel-Palestina yang pesat, sudah bukan rahasia lagi. Kedutaan Besar AS di Tel Aviv berkomunikasi dalam kabel bocor bahwa "metode dan jangkauan terus berkembang dilakukan oleh sindikat kejahatan terorganisir Israel ... menjadi perhatian besar. Hal ini tidak sepenuhnya jelas sejauh manamereka telah menembus pemukim Israel dan merusak pejabat publik."

Kabel melanjutkan menyarankan bahwa AS harus waspada terhadap ekspansi internasional oleh mafia narkoba ini.

Sebuah keluhan resmi pernah dikemukakan Palestina, bahwa Israel telah melemah komunitas mereka, membuat mereka lebih rentan. Pembatasan akses sekitar Yerusalem membawa dampak negatif lain, antara lain tertutupnya akses 5.000 anak-anak Palestina untuk menyenyam pendidikan.

LSM Palestina mengaku, usia pecandu sangat beragam, tapi utamanya generasi muda. Bahkan, sebuah LSM mengaku pernah menangani seorang pecandu berusia 9 tahun.

Narkoba juga mulai masuk ke rumah-rumah keluarga Palestina. tak sedikit kepala keluarga yang terjerat narkoba yang kehilangan pekerjaan karena kecanduan yang dialaminya, dan menjadi beban keluarga. Di sisi lain, muncul fenomena baru, yaitu tumbuhnya pecandu dari kalangan wanita. "Ada sejumlah kasus yang terdokumentasi yaitu ayah menjual anak perempuan mereka ke pelacuran untuk mendapatkan uang demi membeli narkoba," kata seorang aktivis kemanusiaan.

Ada kaitan yang jelas antara jumlah pecandu dengan peningkatan pencurian kecil-kecilan hingga perampokan.

Kini, penanggulangan narkoba lebih santer dilakukan LSM ketimbang pemerintah. Mereka aktif melakukan penyuluhan, mulai dari mengunjungi sekolah-sekolah untuk meningkatkan kesadaran, menawarkan konseling kepada yang membutuhkannya, dan mengembangkan skema pengurangan progresif antara lain mendistribusikan jarum bersih dan kondom untuk pecandu.

Pengurangan dampak buruk berusaha untuk mencegah penyebaran penyakit mematikan lainnya; HIV/AIDS dan Hepatitis C. Sebuah studi 2010 yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia menunjukkan hasil yang mengejutkan. Lebih dari separo responden telah terinfeksi virus HIV/AIDS atau Hepatitis C.

Sejak laporan WHO tahun 2010, pemerintah Israel sedikit memberi perhatian, walau terkesan setengah hati. Mereka hanya menganjurkan agar kunjungan ke sekolah di persering. Namun soal dana, nonsense.

Bahkan mereka selalu curiga terhadap donor asing, menyebut 4.000 LSM di Palestina tidak mendukung pembangunan. Padahal, otoritas pemerintah tak melakukan karya nyata yang berarti. "Mereka hanya membuat proyek enam bulan, kemudian selesai," kata Alloush Majed, aktivis sosial.

Sumber: www.republika.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4351