Narkoba, Pegawai Bakal Dipecat Seluruh PNS Wajib Tes Urin, Juga Pegawai Swasta
Tanggal: Monday, 11 July 2011
Topik: Narkoba


Balikpapan Pos, 08 Juli 2011

BALIKPAPAN - Ketua Badan Narkotika Kota (BNK) Balikpapan, H Heru Bambang menegaskan, sanksi terberat bagi pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkot Balikpapan yang terbukti menggunakan narkoba adalah dipecat. “Supaya bisa menjadi momok bagi mereka, karena jika terbukti positif mengonsumsi narkoba, ancamannya bisa dipecat dan lain sebagainya,” kata Heru di balaikota, kemarin.

Heru yang juga wakil wali kota (wawali) ini mengaku prihatin dengan tingginya angka pengidap HIV-AIDS di Balikpapan, terutama yang penularannya disebabkan penggunaan jarum suntik saat mengonsumsi narkoba.

Sebab itu, dalam waktu dekat pihaknya siap melakukan pengecekan terhadap seluruh pegawai di lingkungan Pemkot Balikpapan. Seperti sebelumnya dia kukan tes urin bagi seluruh pegawai di Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda). Bahkan, pihaknya akan merekomendasikan pemecatan kepada pegawai yang terbukti mengonsumsi narkoba

Tidak hanya bagi PNS, pengecekan terhadap penggunaan narkoba, juga dilakukan kepada para pegawai di perusahaan swasta di Balikpapan. Tujuannya, tandas dia, agar dampak negatif penggunaan narkoba bisa diminimalisir di Balikpapan, khususnya penyebaran virus HIV-AIDS. “Bisa saja, pegawai swasta dan sebagainya kita periksa, untuk mengurangi hal-hal negatif dari penggunaan narkoba,” terangnya.

Ia menyebut, rekomendasi pemecatan kepada pegawai yang terbukti menggunakan narkoba, dikhususkan pada pegawai yang terbukti positif dan telah lama menggunakan narkoba. Sedangkan untuk pengguna baru, hanya direkomendasikan untuk mengikuti pembinaan di pusat rehabilitasi narkoba.

Tujuannya, untuk menyembuhkannya dari ketergantungan terhadap barang haram tersebut. “Supaya kapok mas. Saya kira, kalau sudah ketahuan, baik dia pemakai atau penyalur, bisa langsung dipecat, tidak perlu direhabilitasi lagi, bagi yang sudah lama menggunakan narkoba, kalau yang baru, mungkin boleh saja direhabilitasi dulu,” ungkap dia.

Lantas, bagaimana pihaknya bisa mengetahui, apakah pegawai yang terbukti menggunakan narkoba, adalah pengguna lama atau baru? Ditanya seperti itu, ia menggungkapkan akan berkoordinasi dengan tim medis. “Ya, kita kerjasama dengan dokter, untuk memeriksa, apakah penggunaannya sudah lama atau masih pemula,” jelasnya.

Bbagaimana dengan keberadaan pelajar dan pemuda di Balikpapan, mengingat di usia itulah, masyarakat sangat rentan untuk tergoda, sehingga terjerumus dalam dunia hitam narkoba? “Kalau pelajar dan pemuda, kita harus pelan-pelan dulu. Saya berfikir untuk memanggil psioterapi, yang akan memberika penyulhan rutin di sekolah-sekolah untuk pelajar dan pemuda. Bisa dengan menyediakan waktu khusus di sela-sela pelajaran, atau di saat kegiatan-kegiatan kita berikan penyuluhannya,” pungkas dia.

Sebelumnya diberitakan, fenomena gunung es untuk kasus HIV-AIDS di Kota Beriman, ternyata terbukti adanya. Data dari Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan menunjukkan, ada 444 warga Balikpapan dinyatakan positif sebagai pengindap HIV-AIDS. Parahnya, dua di antara ke-444 warga Balikpapan itu, adalah bayi yang belum genap satu tahuh.

Kedua bayi tidak berdosa ini, seolah dilahirkan hanya untuk menderita penyakit mematikan tersebut. Pasalnya, dalam darah kedua bayi tersebut, telah terkontaminasi virus HIV, yang ditularkan dari kedua orang tua mereka, lebih dulu menderita HIV AIDS. “Yang satu berusia 3 bulan, yang satu lagi 6 bulan. Itu karena saat mengandung, orang tuanya telah tertular (HIV AIDS, Red),” kata Kepala DKK Balikpapan, Dyah Muryani kepada wartawan di balaikota..

Untuk diketahui, AIDS adalah singkatan Acquired Immune Deficiency Syndrome dalam bahasa Indonesia diartikan menjadi ‘Sindrom Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan’. Sementara HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus atau virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS.

Dyah membeberkan, dari ke-444 warga ini, mayoritas penularannya disebabkan oleh penggunaan jarum suntik yang digunakan secara bergantian saat menggunakan narkoba. Selain penggunaan jarum suntik, penyebab utama penularan virus HIV, adalah lewat pola hubungan seks yang tidak sehat, yang dilakukan bukan sesama pasangan suami istri. “Jarum suntik yang paling banyak, karena mungkin digunakan secara bergantian, jadi tidak steril,” terang dia.(ibr)

Sumber: www.metrobalikpapan.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4356