Digratiskan hingga 5 Tahun ke Depan
Tanggal: Monday, 11 July 2011
Topik: Narkoba


Surabaya Post, 11 Juli 2011

SURABAYA- Pengobatan pasien HIV/ AIDS selalu difokuskan kepada pemberian obat antiretroviral (ARV) yang ditengarai mampu memperpanjang angka harapan hidup bagi penderita HIV dan menurunkan risiko kematian. Untuk itulah Kementerian Kesehatan tetap akan menggratiskan pengobatan antiretroval hingga lima tahun ke depan.

Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Drs Mudjib Affan MARS membenarkan, para pengidap HIV/AIDS tetap dapat mengakses obat antiretroviral secara gratis setidaknya hingga lima tahun ke depan. “ Pengadaan obat gratis bagi pengidap HIV/AIDS 60 persen didapat dari dana Global Fund dan selebihnya dari APBN. Ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian Pemerintah terhadap para penderita HIV/AIDS di Indonesia agar tidak semakin bertambah,” kata Mudjib, Minggu (10/7).

Meski program terapi ARV belum teruji dapat menghilangkan virus HIV AIDS namun obat ini merupakan salah satu cara untuk pencegahan. “Terapi kombinasi ARV untuk menekan jumlah virus yang didukung perubahan perilaku mengurangi penularan HIV. Meski perlu studi lanjutan tentang dampak ARV pada prevalensi HIV di tingkat populasi, terapi ini sebaiknya menjadi bagian dari pencegahan HIV terintegrasi dan komprehensif. Ini bisa meningkatkan efektivitas biaya terapi di negara berkembang,” ucapnya.

Affan mengakui, saat ini pengadaan obat bagi pengidap HIV/AIDS masih bergantung pada pasokan dari produsen luar. Kimia Farma berupaya membuat obat antiretroviral (ARV) generik, tetapi belum dapat memproduksi massal karena belum memperoleh prekualifikasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). “ Itulah yang menyebabkan pemerintah tidak dapat terus menggratiskan pengobatan ini, tapi sebisa mungkin memberikan pengobatan murah,” tuturnya.

Sementara, Ketua Sentra Layanan Informasi Drugs, HIV/AIDS, dan Reproduksi (Sandar) Prof Djubairi Djoerban mengatakan pentingnya terapi ARV membuat akses terhadap terapi ini perlu ditingkatkan. Caranya dengan menambah anggaran negara untuk ARV, memproduksi ARV dalam negeri agar pasokan berkesinambungan. “ Pemerintah memberi dukungan bagi Kimia Farma atau produsen obat lainnya agar produksi obat ARV generik dapat segera diproduksi dalam negeri. Dengan demikian, harga obat ARV menjadi lebih murah dan pemerintah tidak lagi bergantung pada obat dari luar,” ujarnya.

Sebab kalau ARV sudah bisa diproduksi di dalam negeri, harganya pasti akan jauh lebih murah dan jumlah pasokannya aka selalu ada. “Sebanyak apapun pengetahuan yang telah didapatkan untuk membantu menyelamatkan kehidupan penderita HIV akan menjadi sia-sia jika mereka tidak mampu mendapatkan pengobatan. Karena itu, usaha pendistribusian antiretroviral dan antibiotik perlu lebih ditingkatkan untuk mendukung program pengobatan penderita HIV. Dan salahsatunya adalah menggratiskan pengobatan ARV,” pungkasnya.mla

Sumber: www.surabayapost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4366