Kemensos: Peredaran Narkoba Sudah Rambah Desa-Desa
Tanggal: Monday, 11 July 2011
Topik: Narkoba


Suara Karya, 11 Juli 2011

JAKARTA: Narkoba kini tidak lagi hanya beredar di kota-kota besar, namun sudah merambah ke desa-desa di Tanah Air. Demikian diutarakan Direktur Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Aditif (Napza) Kementerian Sosial (Kemensos), Max H Tuapattimain.

"Saya bisa katakan, desa di Indonesia sudah terkena narkoba mulai dari Aceh sampai ke provinsi di kawasan timur Indonesia," kata Max pada gerak jalan santai dalam rangka Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) di Jakarta, Sabtu.

Gerak jalan santai tersebut diselenggarakan Kementerian Sosial yang diikuti ratusan keluarga dari sejumlah daerah dan organisasi sebagai upaya kampanye untuk memerangi narkoba yang dilaksanakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Data secara nasional memperlihatkan, jumlah pengguna narkotika di Indonesia mencapai 3,6 juta orang atau 1,5 persen dari jumlah penduduk dan sekitar 80 persen adalah generasi muda berusia 15-39 tahun serta 50 persen adalah usia 15-29 tahun.

Pengguna narkotika suntik yang terpapar HIV-AIDS mencapai 37,9 persen hingga Maret 2011. Jumlah itu seperti fenomena "gunung es" karena diperkirakan masih banyak yang belum terdata.

Survei Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 2008 memperlihatkan prevalensi penyalahgunaan narkotika mencapai 1,99 persen dan pada 2015 diperkirakan naik 2,8 persen jika tidak segera ditangani.

Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Kementerian Sosial mempunyai tugas di bidang teknis dalam rehabilitasi sosial korban penyalahgunaan narkotika.

Lebih lanjut dikatakan Max, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2011 tentang Wajib Lapor Pecandu Narkotika, di bawah koordinasi BNN, sejumlah kementerian bekerja sama dalam penanganan narkoba dan kementerian tersebut menjadi tempat wajib lapor.

Wajib lapor dapat dilakukan orangtua bagi pecandu narkotika di bawah usia 18 tahun. Selain itu, wajib lapor juga dapat dilakukan masyarakat, lembaga atau siapa pun yang mengetahui.

Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk rehabilitasi bagi pecandu karena diharapkan mereka menjalani rehabilitasi sebelum divonis.

"Paling tidak, kita mengurangi pengguna narkoba yang sudah telanjur memakai. Kita (melakukan) rehabilitasi bekerja sama dengan panti rehabilitasi dan rumah sakit," kata Max. (Dwi Putro AA)

Sumber: www.suarakarya-online.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4369