Seorang PSK HIV Bisa Tulari 6 Pria
Tanggal: Friday, 15 July 2011
Topik: HIV/AIDS


Berita Sore, 12 Juli 2011

MEDAN (Berita) : Seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) yang terinfeksi HIV/AIDS, bisa menulari sampai enam pria hidung belang dalam sehari. Hal inilah yang menyebabkan pria mendominasi penyakit mematikan tersebut.

“Jika seorang PSK ini mengidap HIV/AIDS, maka dia dapat menulari pria yang dilayani tadi sampai enam orang. Inilah alasannya kenapa lebih banyak pria tertular HIV,” ucap Koordinator Klinik Pusat Pelayanan Khusus (Pusyansus) VCT RSUP H Adam Malik Medan, Rahmat Nur Kurniawan, Senin (11/07), di Medan.

Hingga Juni 2011, Pusyansus VCT mencatat telah menemukan 494 kasus HIV/AIDS. Setiap bulan, klinik tersebut menemukan berbagai kasus baru. Pengidap AIDS ag ditemukan ini lebih didominasi oleh kaum pria, yakni berjumlah 289 orang. Sedangkan kaum perempuan berjumlah 205 orang. Tahun 2010 temuan kasus sebanyak 554 orang.

Rahmat yang didampingi Konselor, Emas Perangin-angin, mengatakan para pengidap penyakit HIV/AIDS ini rata-rata berusia subur yakni 21 sampai 30 tahun, yakni laki-laki 185 orang dan perempuan 75 orang. Gaya hidup mereka yang menganut seks bebas juga paling banyak mengidap HIV/AIDS. “Dengan semakin banyaknya temuan kasus baru tersebut, klinik Pusyansus VCT telah menjangkau mereka yang melakukan faktor beresiko,” sebutnya.

Dia memaparkan, dari Januari hingga Juni 2011, pasien Pusyansus Counseling sebanyak 741 orang. Faktor risiko yang ditemukan yakni pelanggan PSK 26 orang, pasangan resiko tinggi (Risti) 206 orang, narkoba (IUD), homo seks 6 orang lain-lain 27 orang.

Namun, untuk yang meninggal dalam tahun ini belum terdata, tetapi tahun 2010, pengidap HIV/AIDS yang meninggal sebanyak 110 orang. Menurut Rahmat, pengidap yang meninggal rata-rata terlambat dibawa oleh keluarga ke rumah sakit.

“Kalau cepat ditangani Insya Allah si penderita bisa berdaya dan bertahan hidup lebih lama lagi, namun kalau sudah parah atau infeksi opputunistiknya sudah buruk, ini yang mengakibatkan dia meninggal,” paparnya.

HIV tidak bisa dilihat dengan mata, si pengidap HIV akan hidup layaknya orang sehat, namun jika seseorang melakukan faktor resiko seperti seks bebas, narkoba suntik harus melakukan konselling dan pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah reaktif atau tidak. “Jadi harus periksa darah, baru diketahui,” imbuhnya.

Di RSUP HAM Medan, jelasnya, setiap dokter berkoordinasi dengan Pusyansus. Jika salah satu pasien yang dicurigai, mereka berkoordinasi untuk memberikan advokasi dan counseling kepada pasien tersebut. (don)





[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4375