Transaksi Prostitusi di Cirebon Capai Miliaran Rupiah Setiap Harinya
Tanggal: Tuesday, 19 July 2011
Topik: Narkoba


Pikiran Rakyat, 15 Juli 2011

Transaksi seks di Kabupaten Cirebon setiap hari bisa mencapai tiga miliar rupiah, atau dalam satu bulan rata-rata 90 miliar rupiah.

"Ini perhitungan minimal, jika benar PSK di Kabupaten Cirebon jumlahnya diperkirakan tiga ribu orang," kata Ichwan Mulyana, pengamat sosial politik di Cirebon, Jumat (15/7).

Menurut Ichwan, asumsi tersebut didasarkan jika jumlah pekerja seks komersial (PSK) yang ada di Kabupaten Cirebon sebanyak 3.000 orang dan seorang PSK melayani sedikitnya 5 orang pria hidung belang serta satu kali kencan dibayar Rp 200.000.

Diakui Ichwan, itu baru dari mereka yang jelas-jelas sebagai PSK, belum lagi dari praktik prostitusi terselubung seperti panti pijat dan tempat-tempat hiburan malam. "Karena banyak pekerjanya yang ternyata bisa dipakai," katanya.

Sebelumnya, keberadaan PSK di wilayah Kabupaten Cirebon yang saat ini diperkirakan mencapai 3.000 orang dinilai sangat rentan untuk turut menularkan virus HIV-AIDS di wilayah setempat.

"Praktik seks bebas seperti prostitusi tanpa pengaman sangat rentan bagi penyebaran HIV-AIDS. Mobilitas mereka sangat tinggi dan bisa berhubungan kelamin dengan siapa saja," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Cirebon, H. Deni Agustin.

Diakui Deni, Cirebon yang termasuk daerah pantura tidak luput dari keberadaan PSK. Bahkan, yang mengejutkan, lelaki hidung belang yang memanfaatkan jasa PSK tersebut sekitar 14.000 di antaranya merupakan penduduk Kabupaten Cirebon.

Deni menyebutkan, hampir setiap kecamatan di Kabupaten Cirebon rata-rata melaporkan adanya kasus HIV-AIDS, dari jumlah akumulatif kasus HIV positif sampai dengan tahun 2010 yang mencapai 531 kasus, Kedawung merupakan keamatan paling tinggi jumlahnya.

Disebutkan, penularan HIV AIDS di Kabupaten Cirebon sebanyak 69 % melalui hubungan seks, sisanya melalui penyalahgunaan napza suntik dan lainnya. Sebanyak 51 % penularan terjadi pada orang yang sudah menikah, di samping itu 50% kasus HIV-AIDS terdapat pada usia 21 hingga. 30 tahun.

Sementara itu, Ketua LSM Infokespro Jakarta, Syaiful W Harahap menyayangkan, di Indonesia penanganan ekses yang ditimbulkan praktik prostitusi yang ditindak adalah PSK-nya, bukan germonya.

Di sisi lain dia mengungkapkan, kasus kumulatif HIV-AIDS di Jawa Barat sampai dengan tahun 2010 mencapai 5.680. Jabar termasuk peringkat ke-7 dari 15 provinsi di Indonesia yang melaporkan kasus HIV-AIDS.

Deni Agustin berharap, para jurnalis bisa membantu menyosialisasikan bahaya HIV-AIDS. Melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan. Pencegahan bisa dibantu dengan sosialisasi memberikan penerangan kepada masyarakat mlalui media masing-masing. "Mudah-mudahan media akan peduli dan tertarik untuk meliput persoalan HIV-AIDS," katanya. (A-146/das)***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4409