Pedulilah, Anak dengan HIV Terus Bertambah
Tanggal: Tuesday, 19 July 2011
Topik: HIV/AIDS


Kedaulatan Rakyat, 18 Juli 2011

JUMLAH anak yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus & Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV&AIDS) terus bertambah. Ironisnya, perhatian pemerintah dan juga kita semua pada anak-anak tersebut, masih minim. Jangankan pada anak-anak, pada orang dewasa yang terinfeksi-pun, seringkali masih muncul diskriminasi.

Ano -- namanya telah disamarkan -- masih membungkam mulutnya. Tangan kecilnya kemudian bahkan menutup mulut. Bram yang sedang berada di kediaman orangtua Ano, pasangan Atmojo dan Septi -- juga bukan nama sebenarnya -- itupun kemudian mengambil sendok di tangan ibu Ano. "Ayo... Ano masih ingin bermain lagi kan? Nah vitamin ini harus diminum, biar badan segar." Entah karena segan atau cara memberikannya lembut, Ano-pun membuka mulut dan kemudian menyeruput obat di sendok yang sudah dipegang Bram, dengan cepat. Ano tahu, ia harus segera menyingkirkan rasa pahit dari obat tersebut. Rasa pahit itulah yang harus seringkali mengganggu bocah berusia 5 tahun tersebut.

Dan Ano tidak sendiri. Seperti disebut Rafael Bramantyo dari 'Victory Plus' -- sebuah LSM di Yogyakarta yang mendampingi mereka yang baru tahu status HIV-nya -- cukup banyak anak yang harus didampingi agar mereka bisa mendapatkan dan mau mengonsumsi anti-retroviral (ARV). Sekalipun masih anak-anak bahkan tidak sedikit yang usianya jauh lebih kecil dari Ano, ARV itu harus selalu dikonsumsi dan dalam waktu yang tidak terhingga. Karena anak-anak tersebut telah terinfeksi HIV, dalam usia yang masih dini.

Terus Melesat

Laju epidemi HIV&AIDS terus melesat dan tidak bisa dihentikan. Yang memprihatinkan, di dalam kondisi seperti itu stereotipe, stigmatisasi bahkan diskriminasi terhadap mereka yang terinfeksi, masih saja terjadi. Menuding mereka yang terinfeksi adalah orang-orang berdosa, adalah hal yang paling sering terdengar.

Tudingan itulah yang membuat kepedulian terhadap anak-anak yang terinfeksi HIV&AIDS menjadi sangat kurang. Padahal, jumlah mereka terus melesat. Jika tahun 2006 penularan dari prenatal angkanya 1,5%, menurut Sekretaris Komisi Perlindungan AIDS Nasional (KPAN) Nafsiah Mboi pada tahun 2010 sudah hampir dua kali lipat, menjadi 2,6%. Bahkan jumlah anak-anak bawah lima tahun (balita) yang terinfeksi pun tidak bisa diabaikan. Dalam pertemuan wartawan dan kelompok kunci yang difasilitasi KPAN di Jakarta akhir Mei 2011 lalu terungkap di Nusa Tenggara Timur (NTT) tercatat ada 40 balita dimana 8-12 di antara mereka ada di Kupang. Sedang di Lampung terdapat 10 balita dan di Jawa Timur trercatat 50 balita. Sementara di DIY dalam catatan KPAP DIY yang disampaikan Media Relation Officer KPAP DIY Siti Baruni sampai Desember 2010 yang berusia di bawah 1 tahun ada 20 kasus dan antara 1-4 tahun ada 31 kasus. "Mereka ada yang HIV namun juga ada yang sudah AIDS," jelasnya. Positif HIV membuat mereka harus mengonsumsi ARV sepanjang hidup, sejak dini. Dengan kata lain, anak-anak itu bergantung pada ARV yang bisa diperoleh secara gratis. Namun seperti disebut Bramantyo tentu harus dipikirkan dampaknya bagi anak-anak, apalagi bila mengonsumsi dalam jangka waktu yang lama. Karena duviral dengan kandungan zidovudine dan lamivudine ini efek sampingan bagi yang sudah dewasa saja bisa membuat anemia. Sementara kandungan neviraphine dalam neviral membuat ruam-ruam dan fungsi hati tinggi. "Mengapa ini harus dipikirkan? Karena hingga kini belum ada obat ARV untuk anak. Jadi sekarang yang dikonsumsi adalah obat orang dewasa dibagi dua atau 3 dan seterusnya dan kemudian digerus jadi puyer. Barulah dikonsumsi anak-anak yang terinfeksi," jelas Bramantyo.

Menggerus obat tersebut menjadi suatu alternatif yang dipilih para relawan atau orangtua untuk anak-anak yagn terinfeksi HIV. Namun cara seperti ini sesungguhnya membuat tidak ada takaran pasti, bagaimana memberikan ARV tersebut untuk anak. Sehingga menurut Bramantyo, bisa dibayangkan bagaimana efek samping obat tersebut bagi balita yang harus mengonsumsi obat-obatan tersebut. "Sesungguhnya diperlukan adanya alat resistensi drug seperti di Thailand. Jika alat ini ada maka akan bisa diketahui takaran obat yang mesti dikonsumsi untuk anak-anak," kata Bram.

Namun pakar pediatrik RSUP Dr Sardjito dr Ida Safitri SpA mengemukakan bahwa sesungguhnya ARV anak sudah ada. Hanya tampaknya distribusi masih difokuskan di daerah yang anak-anak dengan HIV&AIDS tinggi. DIY sendiri katanya pernah mendapat triomune dengan 3 komponen ARV yang bisa untuk anak, namun expirednya Agustus 2011. "Harus dikatakan ada kondisi tidak ideal saat ini. Cara yang digunakan para pendamping misal dengan membagi obat itu menjadikan dosis tidak terukur dan tentu ada dampak," jelas Ida Safitri ketika dijumpai di ruang kerjanya, suatu pagi.

Padahal, ARV ini bukan obat biasa. Bisa memberikan efek seperti orang yang dikemoterapi. Seperti zidovudine akan mensipresi susunan tulang sehingga bisa membuat beberapa pasien anemia, setelah mengonsumsi beberapa waktu. "Karena itu dokter harus memberikan obat dengan start paling rendah dan terus memonitor dan harus selalu dimonitor. Efek samping juga harus dicatat supaya dapat dievaluasi," papar Ida. Fakta ini menjadikan problem HIV&AIDS anak menjadi kian kompleks. Lantas bagaimana regulasi dan mensikapinya, menjadi pertanyaan lain. "Pemerintah perlu menunjukkan kepedulian yang lebih. Faktanya di hampir semua wilayah telah muncul kasus HIV&AIDS anak. Ini harus diseminasikan. Apalagi secara epidemologi mereka yang terpapar ini berbeda dengan saat awal diketemukan HIV&AIDS," kata Ida Safitri.

Pria Berisiko

Terus meningkatnya jumlah anak-anak yang terinfeksi selaras dengan semakin tingginya angka ibu rumahtangga yang tertular HIV/AIDS. Data di KPAN hingga 31 Desember 2010 mengungkap bahwa AIDS pada perempuan terbanyak menimpa ibu rumahtangga, lebih dari 2.000 orang. Sementara sekarang, jelas Nafsiah Mboi, ada 1,6 juta perempuan yang menikah dengan pria berisiko. "Di sinilah sesungguhnya problem jender. Sehingga bagaimana cara menghentikan epidemi kalau laki-laki dengan perilaku berisiko namun tidak mau mengenakan kondom, termasuk ketika melakukan hubungan seks dengan istri," sebut Nafsiah. Padahal karena problem jender ini, anak-anak ikut terkena dampaknya.

Tragisnya, laporan pelaksanaan Millenium Development Goals (MDGs) di Indonesia 2010 oleh Bappenas menyebutkan penularan HIV cenderung meningkat dalam 5 tahun mendatang, dengan makin banyaknya orang melakukan hubungan seks tanpa pelindung. Dan di sini, penularan dari ibu ke anak angkanya telah mencapai 2,6%. "Yang juga perlu dipahami, 50,3% penularan HIV dari kalangan heteroseks. Sedang melalui penasun angkanya di 39,3%, lelaki suka lelaki mencapai 3,3%, transfusi darah 0,1% dan tidak diketahui mencapai 4,4%," jelas Nafsiah.

AIDS menjadi salah satu sasaran tujuan MDGs. Dalam laporan pelaksanaan MDGs di Indonesia oleh Bappenas sejumlah sektor tujuan sudah tercapai. Namun untuk penurunan epidemi HIV&AIDS di Indonesia, tujuan MDGs yang merupakan hasil kesepakatan 189 kepala negara dalam sidang PBB 2000 ini seakan jalan di tempat alias stagnan. Sehingga diperlukan kerja keras untuk mewujudkan semua ini. Karena itu pedulilah, anak dengan HIV&AIDS terus bertambah. Bahkan tanpa pencegahan efektif, Laporan MDGs Bappenas menyebutkan kebutuhan ARV pada kelompok usia 15-49 diproyeksikan meningkat hampir 3 kali lipat dari 30.100 di tahun 2008 menjadi 86.800 pada tahun 2014. (Fadmi Sustiwi)

Sumber
: http://www.kr.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4417