Persalinan dalam Ancaman Hepatitis
Tanggal: Thursday, 21 July 2011
Topik: Narkoba


TEMPO Interaktif, 21 Juli 2011

Jakarta:Anak memang tak membawa dosa orang tuanya, tapi bukan berarti bebas dari penyakit orang tuanya. Menurut dokter ahli penyakit darah (hematolog) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Agus Waspodo, banyaknya kasus penyakit hepatitis B di Indonesia disebabkan oleh persalinan. “Kekronisannya bahkan mencapai 90 persen,” katanya dalam semiloka penyakit hepatitis di Rumah Sakit Pelni, Jakarta.

Menurut dokter Agus, penularan terjadi bukan karena keturunan, melainkan infeksi luka bayi dari cairan ibunya. “Saat lahir, mereka tertular dari cairan ibunya yang menderita hepatitis,” ujarnya. Akibatnya, bayi berpotensi terinfeksi virus yang sama. Penularan tersebut bisa terjadi pada kelahiran normal (melalui vagina) maupun kelahiran lewat operasi caesar.

Berdasarkan penelitian Profesor Ali Sulaiman, guru besar penyakit darah dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, dari pendonor darah, ditemukan prevalensi hepatitis B sekitar 2-9 persen. Sedangkan data dari Kementerian Kesehatan 2010, pada kelompok umur 1-4 tahun, ditemukan prevalensi berkisar 7 persen, dengan penyebab transmisi kelahiran dan sudah tervaksinasi. Menurut hematolog lain, Andri Sanityoso Sulaeman, di tempat prakteknya di Rumah Sakit Pelni, kasus transmisi dari ibu dan anak ini paling sering terjadi. “Celakanya, virus hepatitis B ini 100 kali lebih menginveksi ketimbang HIV,” katanya membandingkan dengan penyakit akibat virus yang menyebabkan menurunnya kekebalan ketahanan tubuh (AIDS).

Karena itulah, pencegahan sejak dini, menurut dokter Andri, perlu bagi para ibu hamil untuk screening mengetahui adanya penyakit hepatitis B atau tidak. “Ini untuk memutus mata rantai pada bayi yang akan dilahirkan,” ucap dia. Ibu hamil yang positif mengidap hepatitis juga bisa diobati untuk memperkecil risiko penularan pada bayinya. Setelah itu, bayi secara aktif dan pasif juga diberi imunisasi. Dengan cara itu, risiko penularan hepatitis B pada bayi yang baru lahir dapat diturunkan secara drastis dari 20-90 persen menjadi 5-10 persen. “Dengan memberikan vaksin hepatitis B pada bayi baru lahir dan hepatitis B immunoglobulin sesuai dengan aturan,” ujar dokter Andri. Cara ini berhasil membuat Taiwan, Amerika Serikat, dan Cina tak memiliki masalah dengan hepatitis B.

Bagaimana dengan air susu ibu? Menurut dokter Andri, air susu ibu termasuk medium yang rendah untuk penularan virus hepatitis B, tidak seperti darah, serum, atau cairan luka yang termasuk cairan berisiko tinggi menularkan virus hepatitis B. Penderita hepatitis B tidak dilarang menyusui, tetapi ibu sebaiknya tidak diberi obat antivirus. “Paling baik, ya, vaksinasi,” ujarnya.

Dokter Andri juga menyarankan menelusuri riwayat keluarga untuk menemukan sumber penyakit. Jika ditemukan penderita anggota keluarga sedarah juga mengidap penyakit, patut diduga penularan berasal dari ibu. Jadi, bagi calon ibu, berhati-hatilah menjaga kesehatannya, demi masa depan bayi.

Pemberian vaksin lebih baik juga diberikan kepada mereka yang mempunyai risiko kerja di laboratorium, punya riwayat penyakit di dalam keluarga, dan pengguna narkoba dengan jarum suntik. Selain dengan imunisasi atau vaksinasi, pencegahan bisa dengan menghindari pemakaian peralatan bersama, seperti sikat gigi, handuk, alat cukur, atau jarum (tato, suntik). Mintalah pasangan menggunakan pelindung (kondom) saat berhubungan seksual bila pasangan Anda terinfeksi hepatitis.

DIAN YULIASTUTI

Sumber: http://www.tempointeraktif.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4443