Orang dengan HIV/AIDS Rentan Kena TBC
Tanggal: Friday, 22 July 2011
Topik: HIV/AIDS


TRIBUN, 21 Juli 2011

Perhimpunan Pemberantasan Tuberculosis Indonesia (PPTI) Provinsi Kalimantan Barat menyatakan, orang terinfeksi HIV/AIDS sangat rentan terkena penyakit tuberculosis (TBC) sehingga penanganannya mesti sinergi antara kedua penyakit menular tersebut.

"Penyebab rentannya orang terinfeksi HIV/AIDS terkena TBC karena daya tahan orang dengan HIV/AIDS (Odha) sangat turun sehingga mudah tertular penyakit tersebut," kata Anggota PPTI Provinsi Kalbar dr Isman Ramadi di Pontianak, Selasa.

Oleh karena itu, menurut dia, kalau ditemukan pasien Odha maka yang paling utama diobati dahulu penyakit TBC-nya karena untuk HIV bisa dikendalikan.

"Kalau penanganannya fokus pada HIV maka Odha yang juga TBC akan sulit bertahan karena TBC bisa menggerogoti tubuhnya dengan cepat," katanya.

Maka menurut dia, penanganan HIV-TBC perlu pemahaman yang baik bagi instansi terkait, kalangan peduli penyakit menular dan kebijakan pemerintah agar penyakit TBC bisa ditekan seminimal mungkin kasusnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Lingkungan Dinas Kesehatan Kalbar dr Berli Hamdani menyatakan, sekitar 23 orang meninggal karena TBC dari sebanyak 1.200 kasus TBC yang ada di Provinsi Kalbar sepanjang 2010.

"Angka kasus TBC meninggal di Kalbar cukup tinggi apabila dibanding dengan penyakit menular lainnya," katanya.

Ia menjelaskan, masih tingginya angka kematian akibat TBC karena banyak pengidap penyakit menular itu yang belum terdata karena sulitnya infrastruktur dan kesadaran pengidap TBC juga masih kurang sehingga tidak ditangani dengan baik.

"Sebenarnya estimasi pengidap TBC di Kalbar menurut angka nasional cukup tinggi yakni sekitar 4.000 orang karena belum terdata dengan baik maka baru 1.200 orang yang terdata," katanya.

Dari jumlah pengidap TBC sekitar 1.200 orang yang baru tertangani dengan baik baru mencapai 90 persen atau 1.000 pengidap TBC. "Sekitar 50 persen atau 600 orang TBC kasusnya ditemukan di Kota Pontianak. Tingginya kasus di Kota Pontianak karena termasuk daerah urban dan pusat pelayanan kesehatan sehingga angkanya tinggi," kata Berli.

Ketua Perhimpunan Pemberantasan Tuberculosisi Indonesia Provinsi Kalbar Pendi Tjahja Perdjaman menyatakan, hingga saat masih dua kabupaten yang belum memiliki PMO (pengasuh minum obat) bagi penderita TBC, yakni Kabupaten Melawi dan Kayong Utara, sementara Kabupaten Kubu Raya baru saja memiliki PMO.

"Rata-rata tiap kabupaten/kota di Kalbar memiliki sekitar 50 orang PMO yang direkrut secara sukarela, seperti dari mantan pengidap TBC maupun masyarakat yang peduli terhadap penyakit menular tersebut," katanya.

Ia berharap, kabupaten/kota yang belum memiliki dan telah memiliki PMO untuk menambah lagi jumlah anggota PMO tersebut agar penyakit TBC bisa ditekan seminimal mungkin.

Sumber: http://jabar.tribunnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4447