Mereka yang Menuntut Hak
Tanggal: Monday, 25 July 2011
Topik: Narkoba


TRIBUN-MEDAN.com, 23 Juli 2011

Kita mulai percakapan kecil ini lewat ingatan pada seorang yang sama sekali tak ada hubungannya dengan sepakbola. Namanya Geoffrey F. Bowers, seorang Amerika Serikat, bekerja sebagai pengacara junior di Baker & McKenzie International Law Firm, New York. Bekerja sejak 1984 dan dipecat 5 Desember 1986 setelah mengaku terjangkit HIV/AIDS.

Lantas apa hubungan sepakbola dengan Bowers dan HIV/AIDS? Nanti akan terungkap. Pastinya, Bowers melakukan perlawanan. Berbulan-bulan dibekap kesedihan akibat tekanan batin, 14 Juli 1987, ia memutuskan mengadu ke New York State Division of Human Rights. Bowers meminta lembaga ini membantunya mengajukan dua tuntutan menyangkut hak: (1) sebagai karyawan, dan (2) sebagai manusia, yang tak ingin didiskriminasikan.

Bukan perjuangan yang mudah tentu saja. Lawannya Baker & McKenzie, firma hukum yang terdiri atas 15 pengacara bereputasi internasional. Tapi Bowers tak surut barang selangkah. Setelah enam tahun, tepatnya Desember 1993, perkara itu ia menangkan. Saat keputusan dibacakan, Bowers tak hadir. Ia meninggal pada September 1987, dalam usia 33, dua bulan setelah sidang pertama kasusnya digelar.

Kasus Geoffrey F. Bowers ini baru diketahui dunia secara luas setelah diangkat ke layar lebar. Diberi judul Philadelphia, film itu rilis kurang sepekan sebelum pengadilan memutuskan fBaker & McKenzie harus memenuhi segenap hak Bowers. Karakter Bowers yang di film ini diberi nama berbeda, yakni Andrew Beckett, dimainkan sempurna oleh Tom Hanks.

Kembali pada pertanyaan tadi. Apa hubungan semua celoteh ini dengan sepakbola? Secara konkret sebenarnya memang tak ada. Namun apa yang sering terjadi di luar lapangan, terutama permasalahan menyangkut hak-hak pemain, membuat sepakbola dengan sendirinya terkoneksi pada kasus Bowers.

Barangkali di Eropa, di liga-liga yang sudah maju, kasus penuntutan hak sudah sangat jarang terdengar. Terakhir kali dialami Fiorentina pada musim kompetisi 2002-2003. Mereka tidak dapat membayar gaji pemain. Badan Liga Serie A turun tangan menyelesaikan masalah dengan pemain dan menghukum La Viola degradasi ke Serie B.

Sebaliknya di negera-negara yang kompetisinya masih medioker, apalagi yang "kelas ekonomi" seperti Indonesia, hak-hak pemain yang dikebiri masih menjadi isu sentral. Pemain tidak dibayar gajinya. Pemain tidak dibayar bonusnya. Rocky Putiray, dalam sebuah perbincangan saat ia datang ke Medan beberapa waktu lalu, melontarkan pernyataan mengejutkan.

"Seorang cukong judi minta saya tidak bikin gol. Dia datang bawa uang yang setara gaji saya dua bulan. Posisi saya sulit karena waktu itu gaji saya ditunggak sudah empat bulan. Saya tolak juga awalnya, tapi dia memaksa. Uangnya kemudian saya ambil, tapi saya tetap bikin gol. Dua gol. Di lapangan saya pikir, biarlah, nanti uangnya saya kembalikan. Tapi dua gol saya rupanya tak cukup membuat kami menang. Kami kalah dan si cukong tidak protes. Dia tidak minta uangnya kembali. Saya lega, karena bisa dapat uang dengan tidak membuat saya terhinakan karena harus melacurkan diri," katanya.

Situasi yang dialami Rocky tak berubah hingga kini. Mulai dari klub-klub ISL seperti Arema Malang, Persib Bandung, hingga klub Divisi Utama semisal PSMS Medan mengalaminya. Di PSMS khususnya, keterlambatan pembayaran gaji bahkan terus terjadi meski kompetisinya sendiri sudah usai. Pemain menuntut pelunasan gaji mereka hingga Agustus 2011, seperti termaktub dalam kontrak (gaji dibayar hingga Agustus apabila PSMS lolos ke babak delapan besar). Sebagian pengurus berbeda pendapat. Hemat mereka, usai kompetisi, pemain hanya menerima gaji hingga bulan Juni. Artinya hanya satu bulan. Sedangkan pemain berasumsi tiga bulan.

Mana yang benar memang masih patut diperdebatkan. Namun ironis, yang berkembang sekarang justru tudingan-tudingan pengurus terhadap para pemain yang menuntut hak ini. Mereka dituding menjelek-jelekkan PSMS. Dituding memburuk-burukkan dan merusak nama baik pengurus. Mereka, dituding, secara overall, telah mencoreng wajah sepakbola Medan. Lebih lucu lagi, untuk memperkuat tudingan ini, pengurus "menggunakan" suara sesama pemain eks PSMS angkatan 2010-2011. Yakni mereka yang tidak pernah ikut protes.

Donny Siregar, Ari Yuganda, Ade Candra Kirana atau Andi Setiawan, barangkali tidak kenal Geoffrey F. Bowers. Barangkali tak pernah menonton Philadelphia. Namun mereka perlu tahu sederet kalimat ini, yang diucapkan Andrew Becket pada pengacaranya Joe Miller (diperankan Denzel Washington), di akhir diskusi saat mereka berencana melawan Baker & McKenzie: "Don't send flowers, Joe. I'm not dead yet. I will fight them, with or without you."(t agus khaidir)

Sumber: http://medan.tribunnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4459