Lady Gaga: Sisi humanis Sang Bintang
Tanggal: Monday, 25 July 2011
Topik: Narkoba


Tribun, 23 Juli 2011

Tirai panggung dibuka. Dalam gelap terdengar suara perempuan. Sekitar 3.000-an penonton bersorak riuh. Lampion merah bergantung di tengah panggung. Dari dalam lampion, perempuan berbaju hitam menyeruak keluar sambil menari mengikuti irama disko. Begitulah Lady gaga, penyanyi pop asal Amerika Serikut itu mengawali aksi panggungnya di Singapura, 7 Juli lalu.

Lagu terbarunya, "Born this way", yang terjual sekitar lima juta keping sejak dirilis Juni lalu ia bawakan dengan gambaran kelahiran bayi dari rahim sang ibu. Irama lagu mengentak, membuat penggemarnya dari remaja sampai dewasa ikut menari dan menyanyi.

Penampilan perempuan bernama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta di panggung dan video klip ini selalu penuh aksi nyentrik. Lirik lagunya sering menuai protes mereka yang tak sepakat dengannya. Contohnya, lirik lagu "Judas" dalam album terbaru yang memicu kemarahan sejumlah orang.

Gambaran kontroversial pemilik nama panggung Lady Gaga ini lenyap saat bertemu dan berbincang dengannya. Kesan yang muncul, dia sosok yang sederhana, hangat, mudah akrab dan santun.

Sebagai bintang, tiada pengawalan sangat ketat. Dalam jumpa pers menjelang pertunjukan, Lady gaga berjalan sendiri, tak tampak pengawal mengikutinya. Saat bertemu wartawan dari Indonesia dan negara lain yang akan mewawancarai, ia juga masuk ruangan tanpa pengawalan.

Biduan bertinggi badan sekitar 155 centimeter itu mendatangi dan menjabat tangan para wartawan, menyapa mereka. Ia lalu duduk di sofa berhadapan dengan wartawan. Kacamata hitam penutup mata ia lepaskan, siap menjawab pertanyaan.

Keluarga tradisional Sebagai anggota keluarga, Gaga tak lepas dari tradisi. Keterikatannya tampak dari cerita saat berkumpul dengan keluarga. "aku memasak untuk ayahku," tuturnya.

Cukup banyak tradisi dalam keluarganya, sebuah keluarga Amerika-Italia. Saat Natal, umpamanya, si sulung, anak pasangan Joseph germanotta-Cynthia, ini selalu menyempatkan berkumpul dengan keluarganya yang penganut Katolik.

Dia ikut melakukan tradisi keluarganya, seperti mendengarkan musik bersama-sama, opera Italia, atau alunan suara Bruce Springsteen dan Frank Sinatra, sambil memasak.

"Aku bisa memasak (makanan Italia) apapun permintaan mereka," lanjut kakak dari Natali itu.

Tentang apa yang dia harapkan dari orang yang menganggap penampilannya kontroversial, Lady Gaga menyatakan itu sebagai hal lucu.

"Saya tak menganggap diri saya sekontroversial seperti dipikirkan orang. Bila kita ada dalam ruangan penuh wartawan negara lain, kalian pasti akan berdebat tentang bagaimana saya kontroversial atau tidak. Penerimaannya berbeda di berbagai tempat," katanya.

"Kita punya latar belakang berbeda, kepercayaan berbeda, keluarga berbeda, cerita-cerita berbeda," lanjutnya.

Ia berbesar hati mengakui, bisa jadi di satu belahan bumi albumnya sangat diterima, tapi tidak demikian di belahan bumi yang lain.

Secara keseluruhan, lanjutnya, album Born This Way misalnya, bercerita tentang kisah penggemar yang dia harap bisa terus mendorong cinta dan peerimaan, secara politis, agama, maupun sosial.

Album itu bisa didengarkan siswa SMA berusia 15 tahun yang di-bullying dan takut masuk sekolah, atau perempuan usia 22 tahun yang belum menemukan pekerjaan impian dan merasa buntu.

"Saya ingin dia tahu, dia bisa terus terlahir kembali sampai menemukan sisi paling berani dari dirinya. Album ini tentang mejadi berani, mengakui. ini adalah hidupmu sendiri," katanya sembari menambahkan, ia menerima semua kritik.

Sejak belia Lady Gaga memendam hasrat menjadi aktris. Saat kecil, sebagaimana dilansir AceShowbiz.com, ia menyanyikan lagi Michael Jackson dan Cyndi Lauper. Lalu merekamnya dengan tape recorder palstik. Ketika remaja, ia menulis lagu pertama yng dinyanyikan di panggung di New York's Bitter End.

Kariernya berawal dari penampilan di panggung musik rock Lower EastSide, New York City, tahun 2003. Berada di antara penyanyi dengan lagu bergaya sama, membuat Lady Gaga bertekad tampil beda dan unik.

Ia menandatangani kesepakatan dengan Def Jam Records pada usia 19 tahun, namun dibatalkan. ia tak putus asa dan tetap membangun basis penggemarnya apda acara-acara lokal sehingga menarik perhatian produser INterscope, Jimmy Lovine. Dialah yang menawari Lady Gaga bermitra dengan penyanyi dan penulis lagu Akin yang lalu memperjakannya sebagai penulis lagu bagi penyanyi Tammy Chynn.

Akon yang melihat talenta Lady Gaga berbicara dengan Lovine. Mereka mengajak Lady Gaga bergabung dengan redOne dalam produksi album dan berkolaborasi dngan Rob Fusari di sejumlah lagu.

Mulailah dia mengawinkan genre musik yang berbeda, pop dan rock n'roll. Hasil kerja kerasnya menghasilkan album pertama The Fame. Salah satu lagunya "Just Dance", berirama pop-disko langsung bertengger di papan Billboard Hot Dance Club.

Dermawan Sekalipun selalu heboh dalam busana, tetapi saat wawancara ia tampil bersahaja. Ia memakai blus kuning keemasa, ikat pinggan kombinasi warna hitam dan emas, dengan stocking hitam. Sepatunya berhak tinggi dan wig sebahu, separuh warna putih, separuh hitam dengan poni hitam. Pada wajahnya, ia menorehkan garis hitam di bawah mata.

Penampilannya menunjukkan kecintaan pada dunia fashion. Baru-baru ini Gaga yang menulis lagu berdasar apa yang dia alami itu, memakai karya perancang muda Indonesia, Tex Saverio. Gaun panjang hitam berenda yang sebagian transparan dengan hiasan di kepala itu, dia pakai sewaktu menjadi sampul majalan Harper's Bazaar.

Di balik pemberitaan pro-kontra tentang dia, Lady Gaga juga dikenal dermawan. Ia kerap membantu anak-anak di New York yang tak punya tempat tinggal, serta korban bencana di Haiti dan Jepang.

Untuk rehabilitasi gempa di Jepang misalnya, ia setidaknya menyumbang 1,5 juta dollar AS, dari uang pribadi dan 1 juta dollar AS hasil penjualan gelang tangan. Sementara hasil konser dan penjualan barang merchandise untuk korban gempa Haiti, menghasilkan setengah juta dollar AS.

Menurut situs Look To The Stars, Lady Gaga juga proaktif dan meningkatkan kesadaran perempuan tentang risiko HIV/AIDS, lewat penjualan rekaman dengan Cyndi Lauper dan lipstik yang sudah menghasilkan 16 juta dollar AS. (kompas cetak)

Sumber: http://manado.tribunnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4460