Kepala Puskesmas Baso Kabupaten Agam Fitri Yarti, Inisiator Pendiri Radio Keseha
Tanggal: Monday, 25 July 2011
Topik: Narkoba


Padang Ekspres, 24 Juli 2011

Berawal sulitnya menyesuaikan waktu memberikan penyuluhan pada masyarakat, Kepala Puskesmas Baso, Fitri Yarti, bersama jajarannya mengubah strategi penyuluhan. Bermodalkan Rp3 juta dari lomba yang dimenangkan puskesmas, ia dan jajarannya menjadi inisiator pendirian radio kesehatan. Ia berharap kebaradaan radio mampu membantu kegiatan puskesmas memberikan informasi kesehatan pada masyarakat. Kini radio mini yang mengudara di frekwensi 87,9 FM tersebut, menjadi primadona masyarakat Baso.

Kecamatan Baso sendiri terletak antara Kota Payakumbuh-Bukittinggi, tepatnya 15 kilometer dari Kota Bukittinggi. Mayoritas masyarakat setempat mengantungkan hidup dari hasil pertanian. Inilah yang menyulitkan tenaga kesehatan memberikan penyuluhan kesehatan. Sejak pagi sampai sore hari, hampir sebagian besar masyarakat menghabiskan waktunya di sawah atau di ladang. Sehingga, informasi kesehatan jarang bisa didapatkan masyarakat Baso.

Kepala Puskesmas Baso Fitri Yarti dan jajarannya harus memutar otak mengatasi persoalan tersebut. Kalau hanya menunggu di puskesmas, tentulah sulit mencapai harapan. Apalagi jika petugas kesehatan mendatangi rumah warga satu per satu untuk memberikan penyuluhan. Sebab, kebanyakan masyarakat tidak berada di rumah. Kalau pun memberikan penyuluhan di ladang atau sawah, diyakini informasi kesehatan hanya bisa menjangkau segelintir orang. Fitri pun mengajak stafnya berdiskusi mencari solusi sehingga pola penyuluhan efektif. Sehingga, bisa menjangkau seluruh masyarakat di Kecamatan Baso.

Dari hasil rembuk Fitri dan jajarannya, tercetuslah ide mendirikan radio mini. Alat komunikasi satu ini tentunya dapat memberikan informasi pada masyarakat Baso lebih efektif. Meski warga bekerja di sawah atau ladang, mereka masih dapat mendengarkan informasi kesehatan puskesmas. Satu kesepakatan untuk mendirikan radio pun disepakati. Namun, dana pendirian radio tentu juga harus disiapkan. Sebab, tanpa sarana dan prasarana pendukung, mustahil siaran radio mengudara. Bermodalkan uang sebesar Rp 3 juta, rencana pendirian radio dimatangkan.

”Hanya alat komunikasi radio yang mampu menjangkau seluruh daerah di Kecamatan Baso. Kami hanya punya modal sebesar Rp3 juta. Modal itu kami dapatkan setelah berhasil memenangkan perlombaan puskesmas berprerstasi tingkat kabupaten. Kami sadar dengan modal yang kami miliki tersebut tak akan mungkin mewujudkan hal tersebut. Saya pun menghadap Dinas Kesehatan Kabupaten Agam. Alhamdulillah, keinginan kami mendirikan radio direspons. Pemkab pun membantu kami dalam bentuk peralatan radio sederhana,” ujar Fitri Yarti pada Padang Ekspres di di Puskesmas Baso, Jumat ( 22/7).

Untuk operasional tiap hari, radio diberi nama Berseri itu didukung staf Puskesmas Baso. Radio Berseri menyiarkan informasi berita, hiburan dan penyuluhan kesehatan dalam waktu-waktu efektif itu. Dua petugas promosi kesehatan di puskesmas yakni Mufti Satri dan Mulya Elyuni langsung menjadi tenaga penyiarnya. Keberdaan radio tidak hanya didukung staf puskesmas dan Pemkab Agam, namun juga didukung Badan Masyarakat Peduli Kesehatan terdiri dari sejumlah tokoh masyarakat, sehingga berdirinya radio ”Berseri”, bersih, serasi dan indah untuk masyarakat Baso.

Materi penyuluhan menjadi fokus puskesmas ini, tidak jauh berbeda dengan puskesmas-puskesmas umumnya, seperti penyuluhan kesehatan lingkungan, gizi, kesehatan remaja, kesehatan gigi dan mulut, kesehatan ibu dan anak. Lalu, penyakit menular, imunisasi, dan keluarga berencana. Hanya saja, pembedanya cara penyajiannya berbentuk siaran radio. ”Biarpun dikelola sederhana, namun program kegiatan dan sasaran radio sudah mulai membuahkan hasil. Masyarakat bisa menjangkaunya meski dalam ”coverage area” yang masih terbatas,” ucapnya.

Radio Berseri juga telah menyusun sejumlah program acara, seperti radio-radio umumnya. Namun, lebih difokuskan kepada program kesehatan. Mulai pukul 08.00 WIB hingga 13.00 WIB setiap hari kerja. Program acara radio diawali pukul 08.00 WIB dengan menyajikan program acara Embun Pagi berupa acara-acara religi, seperti musik religi dan bacaan Al Quran hingga pukul 09.00 WIB.

Dilanjutkan acara-acara hiburan dengan tembang-tembang lawas yang diselipkan promosi pelayanan kesehatan di puskesmas. Pukul 09.00-10.00 WIB, dilanjutkan sajian acara untuk ibu-ibu dengan tips kesehatan umum, ibu dan anak, serta kesehatan ibu hamil dan menyusui. Acara ini diiringi dengan lagu-lagu hit bagi kaum hawa itu. Setelah itu, disajikan acara anak muda, hiburan dan kesehatannya, serta informasi sekitar Puskesmas Baso hingga akhir siaran pada pukul 14.00 WIB.

Setiap minggunya, Radio Berseri mengundang sejumlah pakar kesehatan untuk mengisi acara dialog interaktif seputar kesehatan. Tiap Selasa, tenaga penyiar menyiapkan agenda penyiaran dengan nama Pijar (pikiran pelajar mengenai kesehatan). Pelajar boleh melakukan interaksi dengan narasumber melalui radio seputar masalah kesehatan.

Agenda Rabu diberi judul Tomat (tokoh masyarakat). Di sini, Radio Berseri memberikan kesempatan bagi tokoh masyarakat interaktif menyangkut kepentingan bersama dalam bidang kesehatan. Selanjutnya, program Obras (obrolan ringan seputar kesehatan masyarakat). ”Saya juga menjadi narasumber dalam dilog interaktif tersebut. Kami juga sudah menyusun sejumlah acara untuk pengisinya,” ucapnya.

Fitri mengakui, radio menggunakan satu pemancar Fm transmitte, areal dan tower setinggi 15 meter itu masih perlu penyempurnaan. Sehingga, mampu menjangkau enam nagari di Kecamatan Baso. ”Peralatan komputer yang digunakan di sini masih sederhana. Karena terkendala soal biaya. Biarpun begitu, para petugas puskesmas bersyukur bisa mengudara seadanya untuk kepentingan masyarakat,” katanya.

Saat ini tenaga penyiar hanya digawangi dua petugas sebagai penyiar, yakni Mufti Satri dan Mulya Elyumi, serta dibantu Harisman dan Media. Sementara programer ditangani Mufti Satri. Meski memiliki keahlian sederhana, namun petugas puskesmas tersebut tetap semangat mengudara guna menyampaikan informasi-informasi penting sambil menghibur masyarakat.

Petugas bagian promosi kesehatan dibantu petugas kesehatan lainnya, seperti menyusun rencana kerja. Mereka bertanggung jawab untuk pendiriannya. Juga, pengajuan proposal, menggalang dana, studi banding ke sejumlah stasiun radio. Lalu, penyebaran leaflet promosi radio hingga persiapan sarana dan prasarannya.

”Sejak beroperasi, Radio Berseri ini mampu memberi kemudahan bagi Puskesmas dalam penyampaian informasi kepada masyarakat dalam bentuk apa pun, termasuk menggalang partisipasi masyarakat menanggulangi masalah kesehatan. Serta, memberikan informasi jika ada wabah penyakit yang perlu disosialisasikan segera,” ucapnya.

Selain Radio Berseri, menurut Fitri, Puskesmas Baso juga memiliki sejumlah program kesehatan inovatif. Bahkan, tiga tenaga kesehatannya berhasil menjadi tenaga kesehatan berprestasi. Selain berhasil jadi Kepala Puskesmas Berprestasi tingkat Provinsi, dua stafnya yakni tenaga gizi Dona Astuti AMg, jadi terbaik pertama di tingkat Provinsi Sumatera Barat, dan Arzeni Amd Keb sebagai juara III provinsi.

Program kesehatan yang digagas Puskesmas Baso, menurutnya, antara lain Puskesmas Sayang Ibu dan Bayi. Program ini ditujukan untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi dengan menyediakan sejumlah layanan, seperti ruangan khusus GSI/P4K. Juga, mendahulukan pelayanan ibu hamil dan pelayanan, serta informasi yang dibutuhkan ibu hamil. Selain itu, posyandu remaja. Remaja harus mengerti lebih banyak kesehatan, terutama remaja putri. Mereka nantinya juga akan menjadi ibu.

”Pada posyadu remaja hampir semua pengetahuan penting kesehatan dipaparkan, seperti penyakit menular, bahaya narkoba, HIV/AIDS, perilaku hidup bersih dan sehat, serta pengetahuan penting lainnya. Puskesmas ini juga terdapat Klinik Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK). Klinik ini ditujukan untuk memantau kesehatan anak di usia dini terhadap masalah-masalah kesehatan yang mungkin diderita, “ ucapnya. Semua program tersebut tidak mungkin bisa disosialisasikan secara luas oleh 45 petugas puskesmas hingga ke6 nagari, tanpa dibantu Radio Berseri milik puskesmas. Manfaat alat komunikasi massa sangat membantu, selain turun ke lapangan. Kerja sama dengan media informasi lainnya seperti majalah pelajar dan alat-alat penyampai informasi, juga tetap jadi pilihan alat sosialisasi kesehatan.

”Kami masih kekurangan tenaga penyiar, bahkan headset saja saat ini belum memilikinya. Selain itu, perlu pelatihan bagi tenaga penyiar. Sehingga, ke depannya Radio Berseri sebagai sarana penyampai informasi kesehatan menjadi lebih baik,” tuturnya. (***)

Sumber: http://padangekspres.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4465