http://www.cenderawasihpos.com
">


Sunarjo: Kemajuan Iptek Harus Dibarengi Pendidikan Karakter
Tanggal: Monday, 25 July 2011
Topik: Narkoba


Cenderawasih Pos, 25 Juli 2011

MERAUKE - Wakil Bupati Merauke Sunarjo, S.Sos, mengatakan kemajuan ilmu dan tehnologi saat ini harus dibarengi pendidikan karakter. Sebab, pendidikan karakter akan menentukan perjalanan masa depan anak. Hal ini diungkapkan saat melaunching Modul Digital tentang kesehatan Reproduksi dan Seksualitas di SMA YPPK John 23 Merauke, Sabtu (23/7).

Perlu diketahui bahwa modul ini telah melalui ujicoba di 6 sekolah di Kabupaten Merauke sejak 2009 lalu. Selain 6 Sekolah yang telah menjadi ujicoba selama 2 tahun itu, modul pembelajaran yang mengupas tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas itu akan diterapkan di 17 sekolah lainnya di Kabupaten Merauke baik tingkat SMP maupun SMA-SMK.

Modul pembelajaran yang akan diberikan ini di sekolah-sekolah itu agar para pelajar lebih mengetahui dan memahami secara dini alat-alat reproduksi yang ada padanya sehingga dapat menyelamatkan remaja dari kehamilan yang tidak diinginkan dan terhindar dari HIV-AIDS.

‘’Sebagai komitmen kami akan mendatangkan pelatih professional untuk melatih para guru-guru di Merauke agar memiliki kualitas yang sama dengan implementasi disejumlah Negara,’’ kata dr Sri Kusdiati mewakili Rutgers WPF. Dikatakan, program ini merupakan pilot project yang nantinya akan menjadi contoh bagi kota/kabupaten lainnya di Papua dan Papua Barat.

Sementara itu, Ketua Yayasan Santo Antonius (Yasanto) Ir. Leonardus Mahuze yang juga Ketua DPRD Merauke itu mengungkapkan, Yasanto telah giat melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan HIV-AIDS sejak 1995. Tidak hanya itu juga intens untuk ibu-ibu Posyandu, nelayan baik lokal maupun asing dan berbagai kegiatan lainnya.

‘’Sejak 2009 lalu Yasanto kerja sama dengan Rutger WPF masuk di 6 sekolah melakukan ujicoba modul ini dan memberikna indikator yang bagus karena mudah dipelajari dan dipahami karena menggunakan komputer,’’ katanya.

Leo mengaku, pihaknya terdorong untuk memberikan modul tersebut karena dari data penderita HIV-AIDS di Kabupaten Merauke, ternyata remaja yang berumur 15-29 merupakan kelompok dominan yang sudah terinveksi.

‘’Modul ini adalah sebuah cara yang diharapkan dapat menyelamatkan remaja dari virus HIV-AIDS. Karena dari sebuah survey yang dilakukan tahun 2006 di Papua menunjukan perilaku hubungan seks pertama kalinya sudah dilakukan sejak umur 15 tahun dan kasus HIV-AIDS di Papua 90 persen karena hubungan seks dan itu sangat disayangkan,’’ tandas Leonardus.(ulo/nan)

Sumber: http://www.cenderawasihpos.com






[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4472