47,8% Kasus AIDS Usia Produktif
Tanggal: Tuesday, 26 July 2011
Topik: Narkoba


Surabaya Post, 26 Juli 2011

SURABAYA - Jumlah kasus AIDS di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Data dihimpun LSM Peduli HIV/Aids Pita Merah menyebutkan sampai dengan pertengahan Juni 2011 ada 25.756 kasus tersebar di 32 provinsi. Dari kasus tersebut tertinggi didominasi usia produktif antara 20-29 tahun sebesar 47,8%. Selanjutnya diikuti kelompok umur 30-39 tahun (30,9%) dan kelompok umur 40-49 (9,1%).

Koordinator LSM Peduli HIV/Aids Pita Merah Jatim Ardianti mengatakan, saat ini penderita HIV/Aids memang didominasi usia produktif dan sebagian besar berusia 20-29 tahun. “Gaya hidup dan pergaulan yang tidak terkendali seperti penggunaan narkoba melalui jarum suntik secara bergantian menyebabkan banyak anak muda yang merupakan usia produktif terjangkit penyakit yang virusnya dapat merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun),” kata Ardianti di kantornya, Senin (26/7).

Sebagian besar pengguna narkotika tersebut didominasi para remaja dan pemuda usia produktif karena keinginan untuk mengenal narkoba hingga tertular virus yang belum ditemukan obatnya itu. “Hampir sebagian besar awalnya adalah coba-coba karena remaja sangat besar rasa ingin tahunya, lalu kecanduan dan jika menggunakan jarum suntik narkoba secara bergantian bisa dijamin akan tertular HIV/Aids,” tuturnya.

Ia menjelaskan, 18,7 persen penderita meninggal dunia karena kondisinya telah mencapai stadium lanjut. “Nyawa penderita HIV/AIDS tak tertolong meski pemerintah memberikan obat Antiretroviral (ARV) untuk kekebalan tubuh secara cuma-cuma,” jelasnya.

Sementara untuk wilayah, kasus terbanyak di DKI Jakarta. Kemudian diikuti Jawa Barat, Jawa Timur, Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Riau. “Secara penularan terbanyak adalah melalui penggunaan narkoba suntik (51,3%), kedua hubungan heterosexual dengan yang bukan suami atau istrinya (39,6%), Lelaki Seks Lelaki (3,1%), dan perinatal atau dari ibu pengidap kepada bayinya (2,6%),” paparnya.

Dari data tersebut diperkirakan masih jauh dari kondisi di lapangan. Alasannya, kasus HIV/AIDS sama dengan fenomena gunung es. “Kami perkirakan jumlah ini masih jauh lebih besar karena HIV/Aids juga sama dengan fenomena gunung es dimana yang terlihat hanya puncaknya,” terangnya.

Ia berharap, adanya sinergi antara berbagai elemen untuk melakukan pencegahan penyebaran HIV/AIDS adalah melalui pendidikan dan penyuluhan. “ Baik itu masyarakat dan para tokohnya, lembaga pendidikan, orang tua dan peran serta lembaga diluar pemerintahan sangat dibutuhkan untuk itu. Sebab, bahaya penyakit ini sudah semakin meresahkan dan terus meningkat setiap tahunnya,” ungkapnya.

Setiap elemen memiliki peran dan fungsi masing-masing. Pemerintah misalnya, memiliki program bagaimana meminimalisir penyebarannya, tokoh agama memiliki peran untuk memberikan ceramah keagamaan kepada masyarakat. Sementara lembaga pendidikan memiliki dalam memberikan pendidikan dan pemahaman bahayanya HIV/AIDS kepada siswanya, orang tua memiliki peran untuk mengawasi pergaulan anak-anaknya. Sementara aparat penegak hukum mempunyai peran untuk menertibkan lokasi yang disinyalir tempat penyebaran virus yang belum ditemukan obatnya ini,”pungkasnya.mla

Sumber: http://www.surabayapost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4481