Nyanyian Tokek
Tanggal: Friday, 29 July 2011
Topik: Narkoba


Tribun Jabar, 25 Juli 2011

TOKEK mendadak populer setelah dipercaya berkhasiat menyembuhkan orang pengidap HIV atau AIDS. Meski masih perlu pembuktian ilmiah, hewan reptil mirip cecak ini akhirnya jadi buruan nomor satu oleh banyak orang. Harganya langsung meroket, mencapai jutaan hingga miliaran rupiah.

Saking populernya tokek mengilhami sekelompok anak muda untuk nama band. Tetapi mereka memakai nama lain tokek yang lebih keren, Gecko (tokek dalam bahasa Inggris). Gecko Band berdiri tahun 2005 dan hingga kini masih eksis. Salah satu lagu top karya mereka adalah Jangan Bilang Siapa-siapa.

Mengapa memilih nama binatang yang suaranya sering muncul di rumah, kebun, gedung, bahkan hutan itu? Filosofinya, kata mereka, tokek mengeluarkan suara yang selalu ditunggu dengan suara yang mengejutkan.

Seperti filosofi tokek, suara atau semacam "nyanyian" warga Indonesia yang saat ini ditunggu-tunggu adalah Nazaruddin. Meski sembunyi di negara lain, suara mantan bendahara umum Partai Demokrat ini sering muncul di teve. Suara paling keras dari tersangka kasus dugaan suap proyek wisma atlet tersebut terutama tentang keterlibatan sejumlah petinggi Demokrat.

Berbalikan dengan judul lagu Gecko Band, Nazar beberkan "aib" sebagian petinggi Demokrat tanpa didahului bisikan, "Jangan bilang siapa-siapa." Meski masih perlu bukti hukum, Nazar menyebut para penerima bancakan 250 juta dolar dalam Kongres Partai Demokrat di Bandung pada 23 Mei 2011 agar Anas Urbaningrum terpilih sebagai ketua umum. Termasuk nama-nama petinggi partai pemenang pemilu itu terkait kasus wisma atlet.

Paling menggegerkan, Nazar nekat menampakkan diri dari persembunyiannya di Metro TV via jaringan skype, Jumat (22/7), sehari menjelang Rakernas Demokrat. Acara ini hadir berkat Iwan Piliang yang secara khusus memberikan video rekaman teleconference-nya dengan Nazar kepada Metro TV.

Nazar menegaskan semua ucapannya tidak bohong. Ia tunjukkan bukti-bukti, seperti flashdisk yang disebutnya berisi catatan para penerima uang saat kongres, kepingan VCD rekaman pertemuan Nazar dengan Wakil Ketua KPK Chandra M Hamzah di rumahnya, dan dokumen perusahaan yang ada tanda tangan Anas dan dirinya. Paling mencolok dari penampakannya, Nazar habis-habisan menjelekkan Anas.

Untuk sementara, Nazar mulai terkesan bakal jadi pahlawan. Sebaliknya, jika manuvernya gagal dibuktikan secara hukum, bisa jadi nasib Nazar bak lagu Tokek Racun. Lagu Tokek Racun, yang diunggah di YouTube untuk membalas lirik lagu fenomenal Keong Racun, ditendang dari situs tersebut, Senin (2/8/2010) lantaran liriknya dinilai terlalu vulgar.

Tinggalkan dulu nyanyian tokek terkait Nazar karena belum ada titiknya. Coba ingat lagi Horst Henry Geerken, pria Jerman yang sangat dekat dengan Soekarno, presiden pertama RI. Ia juga sangat tertarik dengan tokek. Bukunya yang kondang berjudul A Magic Gecko. Cover-nya pun bergambar tokek.

Henry bercerita, saat di Bali dirinya dipanggil Soekarno untuk datang ke Istana Tampak Siring. Selama dua jam dia diajak mengobrol tentang banyak hal di kebun kompleks istana tersebut. Di sana, kepada Henry ditunjukkan patung batu yang menggambarkan seorang Indonesia duduk sambil mencabut duri besar dari telapak kakinya. Ketika itulah tiba-tiba terdengar suara tokek

Anehnya, kata Henry, spontan Soekarno menghitung bunyi tokek itu. "Satu, dua, tiga, dan seterusnya." Bunyi itu makin rendah, lembut, pelan, hingga tokek itu berhenti bersuara.

Ketika sampai bunyi ketujuh, Soekarno berkata, "Itu tanda keberuntungan!" Tapi, tokek berhenti pada bunyi kesembilan. "Bilangan ganjil sembilan malah lebih untung. Besok hari baik bagi saya dan seluruh rakyat Indonesia," ujar Soekarno spontan seperti yang ditulis Henry dalam bukunya.

Mengutip Kasijanto Sastrodinomo, Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, folklor bunyi tokek mencerminkan ironi, bahkan semacam fatalisme, ketika banyak orang bingung kepada siapa bisa menitipkan harapan untuk menggapai hidup layak.

Nah, dalam kondisi negeri yang karut-marut dan kian membingungkan ini, haruskah terpaksa menghitung suara tokek? Sebelum ada titik terang masa depan rakyat, sekadar hiburan, anggap saja nyanyian jika mendengar suara tokek. (*)

Sumber: TribunNews




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4482