28 Juli - Hari Hepatitis Dunia ; Pemahaman, Pencegahan Hepatitis, HIV
Tanggal: Friday, 29 July 2011
Topik: HIV/AIDS


Kedaulatan Rakyat, 29 Juli 2011

Penetapan hari hepatitis sedunia diambil dari penemuan vaksin VHB oleh drB Blumberg 28 Juli 1982, sehingga gerakan vaksinasi VHB menjadi primadona. Tema peringatan 28 Juli 2011 juga menekankan pemahaman dan pencegahan, dengan membandingkan dan mengintegrasikan dengan HIV AIDS yang secara ‘politis’ lebih bergengsi, terkenal serta publikasinya lebih gencar.

Kesamaan dengan HIV AIDS HIV AIDS adalah penyakit menular oleh virus yang menyerang inti sel pertahanan tubuh; sedangkan Hepatitis (B dan C) menyerang inti sel hati. Prevalensi nasional hepatitis klinis mencapai 0.6 persen, jauh lebih tinggi dari HIV AIDS. Selain itu proporsi penyebab kematian kelompok penyakit menular hepatitis kronik dan hepatoma (kanker hati) menduduki urutan kedua. Di Indonesia jumlah penderita hepatitis B dan C mencapai 30 juta orang, 50 persen berpotensi kronis; tingkat endemisitasnya tinggi sehingga populasi di masyarakat juga berpola ‘fenomena gunung es’.

Pemahaman Hepatitis Hepatitis adalah peradangan difus organ hepar, liver, hati (bukan perasaan sakit hati dan kehilangan hati nurani yang melanda kehidupan bangsa saat ini) ; penyebabnya virus, bakteri, parasit, jamur. Hari hepatitis dikaitkan dengan virus (A - B - C) yang menyerang langsung sel - sel hati dan bersifat infectious (menular).

Hepatitis A disebabkan oleh VHA, yang menular lewat air seni dan tinja; sehingga bisa menyebabkan wabah epidemik atau endemik seperti yang pernah terjadi di Yogyakarta.

VHA menyerang sitoplasma sel -sel hati, sehingga sel hati membengkak, fungsi hati terganggu (SGOT, SGPT, Bilirubin tinggi), badan lemah, panas, perut terasa penuh, mual, kulit - mata - kencing kuning. Namun karena inti tidak dijamah virus, kelainan bersifat reversibel; dengan pengobatan adekuat dan istirahat cukup, pembengkakan sel - sel hati akan dipulihkan, sembuh dalam ± 2 minggu.

Sedangkan jumlah kasus VHB di Indonesia sekitar 26 juta, VHC 4 juta, sebagian bersama HIV AIDS. HIV, VHB dan VHC hidup dalam darah dan cairan tubuh sehingga cara penularannya hampir sama; secara epidemiologik penularan HIV dan VHB paling banyak lewat hubungan seksual, jarum suntik, cuci darah, cangkok organ, kehamilan, sedangkan VHC lewat tranfusi dan jarum suntik. Berbeda dengan VHA yang bersifat sitolitik sitoplasma ‘hanya numpang lewat’, VHB dan VHC menyerang inti sel hati, bersifat sitopatik dan sitotoksik pelan-pelan kronis konsisten dan menetap sehingga penyembuhan tidak sempurna (sirosis), bahkan sebagian memicu inti sel hati menjadi kanker hepatoma.

50% kasus VHB cenderung menjadi sirosis dan 10% hepatoma, sedangkan HVC 60% dan 45%; tergantung umur dan daya tahan tubuh. Kasus sirosis dan hepatoma ini sulit diobati, tingkat penderitaan dan kematiannya tinggi. Diperlukan pengobatan cangkok hati yang sudah banyak dikerjakan di negara tetangga; diharapkan legalitas ‘donor tubuh untuk kepentingan transplantasi kemanusiaan’ dapat dilaksanakan di Indonesia.

Pencegahan VH (A-B-C), HIV Hepatitis A belum ada vaksinnya. Pencegahan dengan isolasi pasien, kebersihan lingkungan, makan dan minuman; sehingga bisa dipahami tatkala terjadi wabah, juga dilaksanakan skrining pedagang kuliner.

VHB merupakan virus DNA sudah dapat dilakukan rekayasa vaksinnya (26 - 07 - 1982), sedangkan HIV, VHA dan VHC, virus RNA (sayang) belum dapat dibuat vaksinnya. Vaksin VH B telah menjadi program imunisasi nasional; tingkat efektivitasnya 95% sehingga diangkat sebagai vaksin pertama untuk melawan faktor penyebab penyakit kanker (yang saat ini menyusul vaksin HPV kanker leher rahim).

Penularan VH B dan C yang sejalan pola penularan HIV yakni perilaku global seks bebas, pecandu napza, membutuhkan pencegahan komprehensif holistik. Penularan lewat risiko medis dikontrol dengan program patient safety rumah sakit, skrining lewat tes darah. Semoga uraian ini membantu pemahaman guna mendorong pencegahan dan skrining serta vaksinasi yang memang harus dilaksanakan masyarakat, sehingga angka penularan, kesakitan, biaya pengobatan dan kematian akibat hepatitis dan HIV dapat ditekan. q - k. (3184 C-2011).

Sumber: Kedaulatan Rakyat




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4498