Antibakteri dan Antivirus Alami dalam Minyak Kelapa
Tanggal: Tuesday, 02 August 2011
Topik: Narkoba


Harian Analisa, 01 Agustus 2011

Oleh: Jansen Silalahi. MINYAK kelapa sangat berbeda dengan minyak nabati lainnya. Minyak kelapa disebut minyak berantai sedang (Hedizrm Chain Triglycerides = MCT) karena asam lemak yang dikandungnya didominasi asam lemak rantai sedang yakni asam kaprilat (C 8), kaprat (C:-10), dan yang utama adalah asam laurat (C-12".) sekitar 50 persen. Semua jenis lemak lain mengandung asam lemak rantai panjang (Lon,g Chain Triglvveride =LCT) dengan jumlah atorn karbon lebih dari 14 seperti asam miristat (C-14), palmitat (C.’-16), stearat (C:-18), misalnya minyak kelapa sawit, kedele, jagung dan lainnya.

Dikenal dua jenis minyak kelapa, minyak kelapa biasa atau minyak kclapa yang digunakan untuk menggoreng dan minyak kelapa murni yang dikenal dengan Virgin C’ocorrt.rt Oil (VCO). Minyak kelapa biasa diperoleh dari kopra dengan cara pemanasan dan pemurnian dengan bahan kimia, sedangkan VCO diperoleh dari buah kelapa seQar tanpa proses pemanasan.

Komposisi asam lemak VCO dan minyak kelapa goreng (biasa) tidak berbeda. Akan tetapi, VCO, karena dibuat dengan tanpa pemanasan, masih mengandung antioksidan alami dan zat lainnya sehingga sedikit berbeda dengan minyak kelapa biasa. Maka VCO biasanya tidak digunakan untuk menggoreng tetapi untuk diminum langsung.

Pencernaan dari minyak kelapa (MCT) berbeda dengan minyak lainnya. L,emak [.(‘T, hanya dapat dicerna sesudah sampai di usus halus oleh lipase pankreas, akan tetapi minyak kelapa lebih cepat dan mudah dicerna, sudah dapat dicerna oleh lipase yang berasal dari mulut (lingual lypase) dan lambung (gastric lypase) tanpa bantuan lipase dari pancreas, jadi penkreas tidak direpotkan. Satu molekul lemak (triester dari tiga asam lemak dengan gliserol) di dalam pencernaan selalu diuraikan menjadi dua asam lemak bchas dan monogliserida (monoester). F-iasil peruraian minyak kelapa akan dihasilkan asam lemak bebas clan monogliserida dari asam lemak yang dikandungnya seperti monokaprilin dari asam lemak kaprilat, monokaprin dari asam kaprat, dan yang paling banyak adalah monolaurin dari asam laurat karena asam laurat paling banyak di dalam minyak kelapa.

Semua asam lemak bcbas terutama laurat dan khususnya monolaurin dari minyak kelapa tidak saja berkhasiat sebagai antibakteri tetapi juga antivirus.

Asam lemak dan monolaurin dapat membunuh bakteri berdasarkan berbagai mekanisme. Monolaurin mencairkan dan merusak struktur lapisan selaput lipida pada virus dan lipida pada dinding sel bakteri. Monolaurin memperlihatkan efek membunuh virus (virusidal) dengan merusak DNA dan RNA virus yang dilapisi oleh lipida. Monolaurin naampu menghambat virus HIV, herpes, influenza dan cytornegalovirus.

Hasil penelitian secara klinis oleh Profesor Cornrada Daryit dari University of Philippines menunjukkan bahwa minyak kelapa clan monolaurin dapat mencegah clan bahkan menyembuhkan HIV/AIDS. Pada tahun 1996, seorang bernarna Chris Dafoe dari Indiana yang telah menderita HIV, dinyatakan bahwa umur tinggal sedikit lagi. Tetapi sebelum kematiannya, dengan sikap yang pasrah, dia pergi ke sebuah pedalaman Afrika, dan dia mengonsumsi makanan yang banyak mengandung produk kelapa dan termasuk minyak kelapa, clan ternyata kemudian penyakitnya dapat sernbuh. F3akteri patogen yang peka terhadap monolaurin antara lain adalah staphylococcus aureus, listeria monocytogenes, streptococcus agalactiae, vibrio parahaem.olyticus clan helicobacter pylori serta streptococus gram positif lainnya. Monolaurin memiliki daya hambat 5000 kali lebih efektif dari alkohol (etanol) terhadap listeria monocytogenes.

Minyak kelapa memiliki sifat antimikroha yang sangat rendah, tetapi kandungan asam laurat yang tinggi rnenjadi hahan baku dari monolaurin yang dapal terbentuk di dalam tubuh. Jumlah minyak kelapa yang dikonsumsi supaya mempunyai sifat antimikroba diperlukan lebih dari SO ml (3-4 sendok makan) atau 3 gram monolaurin (laurcidin--monolaurin murni dalam bentuk rninipellet) dalam sehari dalam waktu yang lama.

Monolaurin lermasuk dalam kategori aman (Generally Recognized As Sate=CRAS). Asam laurat tidak boleh diberikan secara oral karena rnerangsang, sebaliknya dalam bentuk yang lebih aktif monolaurin aman di dalam pencernaan

Monolaurin memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan obat anti }JIV/A}DS dan antibiotik. Obat anti HIV menimbulkan banyak efek samping yang tidak ringan dan dapat resisten. Penggrrnaan antibiotik yang tidak tepat dapat rneningkatkan junnlah dan jenis bakteri yang kebal (resisten) terhadap antibiotik, dan antibiotik membunuh sekelompok bakteri tertentu saja. Satu antibiotik akan membunuh bakteri yang sensitif sedangkan bakleri yang kebal akan terus hidup dan berkembang biak.

Bakteri yang semula peka terhadap antibiotik dapat menjadi kebal melalui perubahan genetik di dalam selnya, atau dengan menerima DNA yang, sudah resisten dari bakteri lain. Penggunaan antibiotik berulang-ulang dan tidak tepat dapat menyebabkan peningkatan jumlah bakteri yang kebal. Antibiotik biasanya tidak dapat membunuh virus. Berbeda dengan monolaurin. Terjadinya resistensi mikroba terhadap monolaurin sangat rendah dibandingkan dengan antibiotik. Monolaurin tidak hanya membunuh bakteri tetapi juga virus dan jamur.

Mono(aurin tidak memperlihatkan efek menghambat perkembangan bakteri usus yang bermanfaat, akan tetapi menghambat bakteri patogen. Jadi minyak kelapa dan makanan dari kelapa scpeui santan di dalam gulai adalah makanan kesehatan. Jangan takut karena minyak kelapa tidak meningkatkan resiko penyakit jantung koroner.

Sumber: Harian Analisa




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4509