Mencegah bayi tertular HIV
Tanggal: Tuesday, 02 August 2011
Topik: HIV/AIDS


Waspada Online, 02 Agustus 2011

Perkembangan pengobatan AIDS saat ini semakin baik, meskipun tingkat penularannya semakin meningkat. Jumlah kasus AIDS di Indonesia saat ini diprediksi sudah mencapai 300.000 orang yang tersebar di seluruh provinsi. Salah satu komunitas masyarakat yang sangat rentan terular HIV adalah janin yang berada di dalam kandungan ibunya yang terinfeksi HIV. Upaya untuk mencegah janin tertular sudah ditemukan, salah satunya dengan menggunakan obat antiretroviral yang telah tersedia oleh ibu hamil tersebut, di samping proses kelahiran sang bayi harus melalui operasi Caesar serta mengupayakan agar bayi tidak diberi ASI oleh ibu, karena ASI diketahui mengandung virus HIV yang dapat masuk kedalam tubuh sang bayi.

Banyak penelitian telah dilakukan dan menunjukkan hasil yang cukup signifikan menurunkan risiko tertular bagi bayi yang dikandung ibu terinfeksi HIV dengan tindakan dan pengobatan yang dianjurkan para ahli. Di Indonesia sendiri program PMTCT (Preventive Mother to Child Transmision) ini sedang giat di sosialisasikan dan dilaksanakan di lapangan, termasuk juga di Sumatera Utara, khususnya di Medan.

Risiko perempuan
 

Salah satu cara untuk mencegah tertular HIV adalah dengan mengadakan hubungan seks dengan pasangan Anda secara aman, yakni hubungan seks yang tidak melibatkan pemindahan cairan badan antara pasangan. Jika Anda mempunyai pasangan dan jika pasangan Anda setuju, adalah baik untuk memeriksakan darah terhadap antibodi HIV bersama-sama, terutama sekali jika salah satu diantara Anda berdua pernah terlibat dengan tingkahlaku yang berisiko tinggi.

Sebagai pihak yang menerima semasa hubungan seks, kaum perempuan lebih rentan tertular HIV dibanding dengan laki-laki. Oleh karena itu, sudah sepatutnyalah setiap perempuan mewaspadai hal ini. Banyak kasus yang penulis temukan di praktik sehari-hari maupun di rumah sakit, perempuan diketahui mengidap HIV setelah suaminya didapati menderita AIDS. Atau yang lebih miris lagi, setelah suaminya meninggal akibat AIDS. Semua perempuan harus menyadari bahaya tertular HIV, meskipun ia tidak berperilaku risiko tinggi.

Secara praktisnya, program PMTCT hanya akan memberikan manfaat yang optimal bila perempuan hamil memeriksakan diri terhadap kemungkinan terinfeksi HIV dengan kesadarannya sendiri. Atau lebih baik lagi dengan melalui proses konseling di klinik-klinik VCT yang ada. Pembicaraan yang terbuka dan kesepakatan suami isteri dibutuhkan sebelum keputusan tes darah dilakukan. Namun bila, konselor menganjurkan pemeriksaan tanpa persetujuan suami berdasarkan analisis cermat yang dilakukan, sebaiknya disetujui dengan tujuan deteksi dini untuk menyelamatkan bayi yang dikandungnnya.

Pemeriksaan uji HIV secara dipstick hanya diperoleh dalam masa 15 hingga 30 menit saja. Sekiranya Anda dinyatakan negatif-HIV dalam dua kali pemeriksaan dengan jarak 3 bulan, maka Anda tidak usah bimbang akan risiko tertular HIV. Dan bila hasil uji tersebut menunjukkan hasil positif, konselor atau dokter Anda akan memberi nasihat lanjut, agar Anda mendapatkan rawatan segera.

Sekiranya Anda mengetahui positif-HIV ketika sedang hamil, maka ada dua pilihan: 1.Teruskan kehamilan; Kehamilan boleh diteruskan sekiranya Anda dan pasangan Anda inginkan anak. Bagaimanapun, perawatan kesihatan yang mencukupi semasa kehamilan dan sewaktu melahirkan anak hendaklah diutamakan. Hubungan seks yang aman harus dilakukan untuk mengurangi risiko tambahan. Terbatasnya fasilitas untuk pengujian darah dan bimbingan mengakibatkan banyak perempuan hamil yang tidak mengetahui apakah mereka terinfeksi HIV.

Selain itu, banyak perempuan yang tidak mampu membayar pelayanan perawatan kesehatan. Meskipun jumlah perempuan dan bayi yang diketahui terinfeksi HIV termasuk sedikit, tingkat infeksi yang cukup besar ditemukan dalam kelompok-kelompok risiko tinggi infeksi. Bila terinfeksi, perempuan menanggung beban stigma dan diskriminasi. Laiknya di negara-negara berkembang, kondisi budaya di Indonesia menempatkan perempuan pada status lebih rendah dalam keluarga

Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS di Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa akses untuk pemeriksaan darah dan bimbingan merupakan prioritas, bahwa perempuan hamil yang terinfeksi HIV harus mendapat pengobatan antiretroviral (AZT atau Nevirapine) untuk mengurangi risiko bayi terinfeksi HIV. Program pencegahan bagi perempuan hamil yang positif HIV di Indonesia seharusnya merupakan bagian integral dari program kesehatan reproduksi dan ibu. Pencegahan HIV bagi kelahiran baru memerlukan kesinambungan perawatan untuk ibu dan anak, sejak periode sebelum kehamilan sampai sesudah melahirkan. Perempuan yang HIV-positif dapat memindahkan virus HIV kepada bayinya semasa kehamilan, semasa bersalin, atau semasa memberi air susu ibu. Risiko jangkitan dari ibu ke bayi adalah lebih kurang 30%, tetapi dapat dikurangi dengan cara:

Melakukan hubungan seks yang aman begitu diketahui hamil; Mendapatkan dokter atau bidan yang dipercayai mengetahui program PMTCT dengan tempat bersalin yang nyaman dengan tindakan operasi; Melakukan pemeriksaan awal dan mendapatkan obat ARV yang bsesuai pada awal bulan keempat kehamilan, dan semasa bersalin, serta bayi yang lahir dibawah pengawasan dokter anak yang memahami program PMTCT; Tidak memberikan ASI kepada bayi yang dilahirkan dan menggantinya dengan susu formula yang sesuai berdasarkan konsultasi dengan dokter anak; Terus melakukan pemantauan kesehatan secara regular terhadap ibu dan bayi, sebaiknya sampai usia bayi 2 tahun, dan bagi ibu harus monitoring kondisi kekebalan tubuh dengan pemeriksaan kadar CD4 secara regular menurut anjuran dokter; Merencanakan kehamilan berikutnya secara matang dan konsultasi dengan dokter.

2. Pengguguran; Ada perempuan melakukan pengguguran karena tidak mau mengambil risiko menjangkiti janin mereka. Tindakan ini boleh dilakukan setelah melakukan analisis yang bijak bersama dengan dokter dan pihak keluarga. Karena keputusan ini berkaitan dengan hokum yang berlaku di suatu Negara, maka konsultasi dengan pakar hukum mutlak diperlukan untuk mengindari perbedaan sudut pAndang medis dan hukum. Walau apapun, jangan tergesa-gesa membuat keputusan, fikirkan pilihan terbaik untuk Anda, pasangan Anda dan juga bayi Anda.

Sumber: Waspada Online




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4516