Bupati Badung dan Jembrana Tertibkan Kafe Remang-Remang
Tanggal: Thursday, 04 August 2011
Topik: Narkoba


Bali Post, 04 Agustus 2011

Ketika sejumlah Bupati ogah menertibkan kafe remang-remang di wilayahnya. Badung dan Jemberana telah berupaya menertibkan kafe. Bahkan menutup operasional mereka. Ini lantaran kafe remang-remang telah lama diduga sebagai sarang penyebaran HIV/Aid.

Bupati Badung AA Gde Agung, belum lama ini menyatakan telah mengambil langkah-langkah tegas dalam menindak kafe remang-remang yang melanggar dan merugikan masyarakat. Tindakan tegas tersebut berupa penutupan operasional.

Dia mencontohkan, sejumlah kafe remang-remang seperti di Abiansemal dan di Mengwi, sudah lama ditutup. Dia sendiri mengakui dalam mengambil langkah tegas terhadap kafe remang-remang pihaknya mendapat penentangan dari sejumlah pihak. Namun karena kafe remang-remang di wilayah itu dinilai sangat merugikan masyarakat dari sisi sosial dan kesehatan khususnya karena rentan penyebaran HIV/AIDS, maka pihaknya harus mengambil tindakan salah satunya penutupan operasional termasuk pembongkaran.

Terhadap dampak buruk kafe remang-remang di Badung khususnya risiko penyebaran HIV/AIDS, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Badung memiliki satu kelompok kerja (Pokja) tempat hiburan sebagai bagian program Pencegahan Penularan HIV melalui Transmisi Seksual (PMTS).

Wakil Bupati Badung yang juga Ketua KPA Badung I Ketut Sudikerta mengatakan, pencegahan penularan HIV/AIDS secara lebih intensif, menyeluruh, terpadu, dan terkoordinasi dalam memutus mata rantai penularan HIV/AIDS. Menurutnya, epidemi HIV/AIDS bisa dimana saja, bahkan di dalam rumah tangga. Untuk itu, harus ada kerja sama dan komitmen dari semua pihak terkait.

Di Jemberana hiburan malam terus berkembang. Hampir seluruh kafe-kafe itu berlindung dibalik usaha warung wisata yang menjajakan minuman beralkohol. Umumnya tempat-tempat hiburan itu berada satu komplek di kawasan wisata seperti Delodberawah atau Gilimanuk. Namun tidak sedikit pula warung remang-remang yang sudah merambah hingga ke desa dan terus beroperasi. Padahal dari hasil penelusuran Dinas Kesehatan di tempat-tempat malam seperti ini justru paling rentan penularan penyakit mematikan. Penyebaran itu bisa melalui hubungan badan ataupun penggunaan narkoba.

Atas meningkatnya jumlah penderita HIV/Aids, Bupati Jembrana I Putu Artha belum lama ini mengatakan telah menginstruksikan untuk menertibkan di warung remang-remang. Diakuinya dalam Perda tidak ada ijin kafe atau diskotek melainkan hanya warung wisata.

''Kalau ijin yang kita sasar, mereka berdalih memiliki warung wisata. Beda-beda tipis, tapi ini tetap harus ditertibkan,'' terang Artha.

Namun pihaknya sepakat tidak semua pelayan kafe itu merupakan biang penyebar penyakit mematikan itu. Penertiban harus dilakukan bukan hanya menyasar pada kelengkapan kependudukan (penduduk pendatang) saja, tapi juga masalah ijin. ''Karena kita tidak pernah ada

mengeluarkan ijin kafe,'' terang Bupati. Namun dia tak menampik selama ini para pengelola kafe itu mengaku sudah mengantongi ijin warung wisata.

Sementara dari survei memang yang paling rentan penularan adalah dari berhubungan dengan cewek kafe. Operasi pun terus dilakukan untuk mengantisipasi melonjaknya pendatang yang berprofesi sebagai pelayan kafe dari Jawa mencari lahan di Bali. Dari informasi selain di Delod Berawah kafe-kafe yang berkedok warung wisata menyebar di beberapa lokasi bahkan hingga wilayah pemukiman penduduk. Seperti di Baluk yang mendapatkan protes dari sejumlah penyanding karena bisingnya dentuman musik. Selain itu di Tegal badeng hingga Gilimanuk dapat ditemui tempat hiburan semacam kafe.

Belakangan Satpol PP juga melakukan operasi penertiban di wilayah Delod Berawah. Namun petugas hanya menertibkan puluhan cewek kafe tanpa identitas maupun Kipem. Mereka pun hanya mendapatkan hukuman tipiring lantaran melanggar Perda tentang SIMDUK. Operasi itu menurut Kepala Kantor Satpol PP, Putu Widarta merupakan upaya pencegahan meningkatnya duktang terutama pelayan kafe yang masuk ke Bali. ''Ini antisipasi saja, biasanya saat bulan puasa ini banyak cewek kafe yang dari Jawa lari kesini karena disana banyak yang tutup,'' terangnya. (ded/olo)

Sumber: http://www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4526