Terapi Kesehatan Bisa Turunkan Pengguna Narkoba
Tanggal: Friday, 12 August 2011
Topik: Narkoba


DetikSurabaya, 10 Agustus 2011

Surabaya - Badan penanggulangan narkoba dari PBB, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) ke Jawa Timur, memberikan pemahaman upaya penekanan peredaran narkoba dengan cara fokus ke kesehatan.

Kepala UNODC untuk Indonesia dan Papua New Guinea (PNG), Gray Sattler, saat memberikan pemaparan di hadapan para kasat reskoba polres jajaran Polda Jatim dan penyidik Ditreskoba Polda Jatim, mengatakan UNODC melakukan advokasi untuk pemberian pengobatan, bukan hukuman bagi pemakai narkoba.

Dengan fokus penanganan bagi penyalahgunaan narkoba di bidang kesehatan, akan dapat mengurangi penularan penyakit HIV bagi pelaku narkoba maupun menurunkan peredaran narkoba.

"Selama ini kita fokus penegakkan hukum. Tapi dari pengalaman negara lain, fokus pada kesehatan mampu menurunkan kecanduan narkoba," kata Gray Sattler dalam cara rapat kerja teknis (rakernis) Direktorat Reserse Narkoba (Ditreskoba) Polda Jatim di Hotel Singgasana Surabaya, Rabu (10/8/2011).

Ia memaparkan, tahun 2008, diestimasikan terdapat sebanyak 3,3 juta pengguna narkoba. Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi 4,5 juta di tahun 2013. Mereka terdiri dari 26 persen pengguna eksperimental, 40 persen ketergantungan narkoba (non-injectors), 27 persen pengguna rutin dan 7 persen penasun (pemakaian narkoba suntik).

"Laporan September 2010, di Indonesia, sebanyak 22.726 orang terkena AIDS dan HIV 47.157 orang. Total kurang lebih 70 orang orang yang terkena JIV dan AIDS," tuturnya.

"Diupayakan rehabilitasi penggunan narkoba melalui perawatan metadon, penyedian jarum suntik steril, dan edukasi bahaya narkoba," terangnya.

Selain UNODC, HIV Cooperation Program for Indonesia (HCPI) juga memberikan pemparan kepada peserat rakernis. Dalam pemaparan yang disampaikan Direktur HCPI, James Blogg, agar pemerintah menyediakan layanan yang komprehensif bagi penasun di tingkat puskesmas untuk seluruh wilayah yang membutuhkan kesehatan dasar, alat suntik steril maupun kondom.

"Mengapa program tersebut dilakukan, karena Indonesia sedang dalam situasi darurat kesehatan, terkait penularan HIV dan AIDS," kata James.

Ia mengatakan, perlu kerjamasama antara kepolisian, kesehatan dan LSM dan menekan jumlah penderita HIV dan AIDS. Hingga Juli 2011 ini, pihaknya sudah melakukan kerjasama dengan 16 puskemas, 3 lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan 4 PKM yang tersebar di 8 kabupatan dan kota.

"Sudah ada banyak bukti-bukti, bahwa penularan HIV di kalangan pengguna Napza bisa dicegah. Memprioritaskan peningkatan akses penasun ke layanan kesehatan," katanya.

Ia menambahkan, kemitraan polisi dan kesehatan, dapat menghentikan peredaran narkoba, serta pengguna napza bisa mendapat pengobatan yang efektif.

"Merujuk penasun dan pecandu ke terapi lebih bermanfaat dibandingkan pemenjaraan," jelasnya.

(roi/fat)

Sumber: http://surabaya.detik.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4559