Kafe Remang Menjamur, Penderita HIV Meningkat
Tanggal: Tuesday, 16 August 2011
Topik: HIV/AIDS


Viva News, 15 Agustus 2011

Lonjakan kasus HIV/AIDS di Bali sangat mengkhawatirkan. Saat ini, jumlah kasus penyakit yang melemahkan imunitas tubuh manusia ini di seluruh Bali sudah menembus angka 4.552 kasus.

Dari segi jumlah penderita, Bali masih menempati peringkat lima nasional setelah Jawa Barat, Jawa Timur, Papua, dan DKI Jakarta. Namun dari segi prevalensi atau perbandingan antara jumlah penderita dengan jumlah penduduk di wilayah setempat, Bali justru menduduki peringkat kedua nasional setelah Papua.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. Nyoman Sutedja mengatakan hal itu di Denpasar, Senin 15 Agustus 2011. Menurut Sutedja, penambahan jumlah penderita HIV/AIDS di Bali juga sangat mencengangkan.

Sejak Januari hingga Maret 2011 lalu, penambahan penderita tercatat 245 orang dengan rincian 117 orang penderita AIDS dan 138 penderita HIV. Sementara hingga Agustus 2011 ini, jumlah penderita baru sudah mencapai sekitar 483 orang dengan rincian 282 orang penderita HIV dan 201 orang penderita AIDS. Dari tambahan 245 orang penderita yang tercatat sejak Januari hingga Maret 2011, kata dia, sebanyak 12 orang di antaranya sudah meninggal dunia.

“Kasus baru hingga Agustus 2011 ini hampir mencapai 500 orang. Memang terjadi peningkatan yang sangat signifikan,” katanya.

Sutedja menambahkan, terdatanya kasus HIV/AIDS baru dengan jumlah yang cukup besar itu diperkirakan karena tingkat kesadaran masyarakat untuk mengikuti voluntary consultating test (VCT) secara sukarela sudah meningkat.

Sebelumnya, mereka terkesan tidak mau memeriksakan diri lantaran penderita HIV/AIDS masih menjadi stigma miring di masyarakat. Bisa jadi, kasus HIV/AIDS pada tahun-tahun sebelumnya sudah tinggi tapi tidak terdeteksi karena banyak penderita yang tidak mau memeriksakan diri dengan berbagai alasan.

“Saat ini, kami sudah menyediakan layanan VCT di sejumlah puskesmas dan rumah sakit guna deteksi dini terhadap penyakit ini. Mereka yang memiliki perilaku seks berisiko tinggi sekarang mulai memiliki kesadaran dan keberanian untuk memeriksakan diri,” katanya dan menambahkan, jumlah kasus HIV/AIDS di Bali boleh jadi jauh lebih tinggi dari itu karena tidak semua penderita mau memeriksakan diri sehingga penyakitnya tidak terdeteksi.

Menurut Sutedja, menjamurnya kafe remang di seluruh kabupaten/kota di Bali turut andil membengkaknya jumlah kasus HIV/AIDS. Pasalnya, tidak sedikit dari pelayan kafe itu juga nyambi sebagai pekerja seks komersial yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS untuk selanjutnya menularkannya kepada para pelanggannya.

Menyikapi hal itu, Sutedja mengaku sepakat jika pemkab/pemkot di Bali mengintensifkan pemantauan sekaligus penertiban terhadap kafe remang-remang tersebut. “Sudah saatnya pemkab/pemkot di Bali menyikapi permasalahan ini dengan serius jika tidak ingin kasus HIV/AIDS menimbulkan ledakan yang dashyat di Bali,” tegasnya. (Laporan: Bobby Andalan| Bali, umi)

Sumber: Viva News




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4585