Puasa, Perjuangannya makin terasa bung!
Tanggal: Tuesday, 16 August 2011
Topik: Narkoba


Surabaya Post, 16 Agustus 2011

SUDAH dua tahun ini anggota Paskibraka nasional yang diambil dari perwakilan putra-putri berprestasi 33 provinsi di Indonesia (total 66 orang) menempa diri saat bulan Ramadan. Bahkan, mereka harus mengibarkan Sang Saka Merah-Putih kala puasa masih berlangsung. Keringnya tenggorokan serta keroncongannya perut malah dijadikan salah satu instrument mendisiplinkan diri untuk mencapai hasil maksimal di acara puncak, 17 Agustus nanti.

Bukti semangat itu tampak di anggota Paskibra perwakilan Jawa Timur. Qiva Chandra Mahaputera Meizon Yusmar (wakil putra ) Jatim tampak gagah dengan rambut cepak ala militer.Bahkan, pasca latihan, Senin (15/9) dia masih kuat menjawab dengan tegas pertanyaan Surabaya Post. “Siap Tidak”teriaknya saat ditanya apakah puasa menjadi kendala latihan.

Putra kelahiran Blitar 16 November 1993 lalu ini mengatakan latihan saat Ramadan malah membuat puasanya terasa makin cepat. “Mungkin karenas sibuk latihan, jadi tahu-tahu sudah bedug Magrib,” ujar sisiwa SMAN 1 Blitar ini.

Untuk diketahui, kegiatan pelatihan Paskibraka Nasional 2011 sendiri dilaksanakan mulai tanggal 20 Juli sampai 19 Agustus 2011.

Dia pun mengakui semangatnya berlebih karena dapat ‘doping’ dari dukungan keluarga dan rasa bangga menjadi wakil Jatim. Apalagi, sebagai putra Blitar dia memiliki ‘benang merah’ dengan sang proklamator, Soekarno yang dimakamkan di kota itu.”Banga deh pokoknya, apalagi nanti orangtua juga bisa ke istana negara saat peringatan HUT RI ke 66 di besok,” katanya sambil mengaku kangen karena sudah hampir sebulan tak bertemu bapak-ibunya.

Putra pertama pasangan Meizon Yusmar dan Norma Rachmawati ini masuk pada Kelompok 45 pasukan pengawal pembawa Bendera Pusaka. Diakuinya sejak SMP dia sudah menyukai dan mengikuti kegiatan Paskibraka di Blitar, jadi meski gugup, tapi dia optimis bisa mengendalikan diri dan melaksanakan tugas dnegan baik.

Hal senada diungkapkan Tiara Charissa Nasution (wakil putri) Jatim. Gadis kelahiran Surabaya 9 Agustus 1995 mengaku semangat sekali menunggu datangnya tanggal 17 Agustus. Ia terpilih di Kelompok 8 (Pasukan Inti pembawa dan pengibar Bendera Pusaka).

“Pokoknya tetap semangat, puasa bukan halangan, kita malah jadi makin merasakan perjuangan keras pejuang dulu,” kata putri tunggal pasangan Chairin Rhamadan Harahap dan Aswan, Sidoarjo ini.

Pelajar SMA Trimuti Sidoarjo mengatakan setiap hari mendapat pelatihan materi dasar umum seperti wawasan kebangsaan dan NKRI, manajemen organisasi, membangun kepemimpinan Pemuda, Kebijakan Pengembangan Pemuda dan Demokrasi serta deradikalisasi pemuda dalam membangun jiwa nasionalisme. Materi pendukung diantaranya masalah narkoba dan HIV/AIDS, bahaya pornografi di dunia maya dan etika pergaulan. “Tidah sekadar baris berbaris, banyak pengetahuan yang diperoleh. Semoga ini juga menambah amalan puasa,” katanya lagi.

Putri yang bercita-cita menjadi dokter hewan itu mengaku kendala selama karantina hanya saat pertama kali berkomunikasi dan penyesuaian dengan teman-teman dari seluruh perwakilan Indonesia. “Kendala kebiasaan. Tapi setelah dua-tiga hari sudah biasa deh, jadi temen semua,” katanya.

Terkait ‘demam panggung’ mengingat hari ‘H’ pelaksanaan tinggal menghitung jam, dia mengaku agak gugup. Tapi karena sudah ditempa setiap hari oleh pelatih, dia akan melakukan sebaik mungkin. “Ini bukan hanya untuk saya, keluarga atau provinsi Jatim, tapi untuk negeri ini jadi harus yang terabik,” katanya.

Sumber: Surabaya Post




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4590