Berantas AIDS ala Belanda
Tanggal: Friday, 19 August 2011
Topik: Narkoba


RNW Indonesia, 17 Agustus 2011

Belanda merogoh kocek 47 juta euro untuk penanganan internasional terhadap AIDS dalam skala besar. Gerakan ini digelar di 16 negara dan berkonsentrasi pada kelompok berisiko, seperti kaum homoseksual, pekerja seksual dan pengguna narkoba serta partner mereka. Benang merahnya: “The Dutch approach.”

Dengan 47 juta euro di kantung, Aids Fonds - Yayasan AIDS Belanda - bersama enam organisasi bantuan Belanda lainnya memerangi AIDS dan HIV di dunia.

Kementrian Luar Negeri adalah pemberi dana terbesar. Proyek ini bertujuan untuk mencegah, menangani dan merawat para pasien HIV di dunia. Program ditujukan kepada 400.000 homoseksual, transseksual, pengguna narkoba suntik, pekerja seksual dan pasangan mereka. Seringkali kelompok berisiko ini juga harus menghadapi tuntutan hukum di negara mereka.

Penanganan Belanda Aids Fonds menggunakan “pendekatan Belanda” dalam proyek ini. Intinya, perawatan pasien dan pencegahan HIV/AIDS dikombinasikan dengan usaha mengubah budaya sosial. Tujuannya adalah mengeluarkan pengguna narkoba, homoseksual dan pekerja seks dari “dunia kriminal.”

“Belanda tidak membawa-bawa moral dalam pemberantasan AIDS,” kata direktur Aids Fonds Ton Coenen, “Yang membuat penanganan Belanda unik adalah: kami mengakui kelompok-kelompok berisiko itu punya masalah yang harus diselesaikan. Kami mengakui keberadaan prostitusi, homoseksualitas dan penggunaan narkoba. Terlepas dari pendapat pribadi Anda sebagai individu.”

Untuk program baru ini, ada 102 organisasi lokal yang bekerja sama di dunia. Mereka antara lain berasal dari Afrika Selatan, Uganda, Indonesia, Brasil, Pakistan, Vietnam, Georgia, dan Ukraina. Berbagai organisasi di 16 negara, akan bekerja dengan Belanda selama 4 tahun.

Pengadilan Di banyak negara, homoseksualitas dilarang hukum dan banyak pekerja seksual yang diseret ke pengadilan. Akses ke perawatan kesehatan seringkali sulit, bahkan kadang tak mungkin. “Mereka seringkali sulit dijangkau organisasi bantuan,” kata profesor Sven Danner, ahli AIDS di Vrije Universiteit Amsterdam. Menurutnya, proyek ini ambisius dan sulit direalisasi karena membutuhkan perubahan pola pikir di kalangan pemerintah.

Danner: “Pemerintah dan institusi di negara-negara tersebut harus diyakinkan bahwa semua harus ditangani dengan cara berbeda. Tidak mudah untuk mengubah sudut pandang, karena itulah Anda harus benar-benar menunjukkan bahwa penanganan dengan cara ini jauh lebih baik untuk rakyat. Anda harus bisa menjangkau kelompok-kelompok berisiko untuk penyuluhan dan pencegahan. Hal itu bisa dilakukan dengan mudah jika Anda bisa menunjukkan bahwa infeksi HIV bisa ditangani tanpa menempatkan korbannya sebagai kriminal.”

Harapan Direktur Aids Fonds Ton Coenen mengakui, ada “tembok pertahanan” yang harus diruntuhkan. Mereka juga harus melihat dengan jeli apa yang siap dilakukan masing-masing negara. Toh itu bukan alasan untuk tidak melakukan apa pun. Ia sangat optimis mengenai proyek ini:

“Rintangan-rintangan itu memperlihatkan bahwa kelompok-kelompok berisiko belum ditangani dengan baik di banyak negara. Berdasarkan pengalaman selama ini, kami yakin, ketika memulai sesuatu – dan sekarang kami punya dana untuk itu – kita bisa mengubah banyak hal. Dalam hal ini, pemberantasan AIDS bisa jadi kenyataan.”

Proyek akan dimulai September mendatang.

Sumber: RNW Indonesia




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4595