Unair Kembangkan Herbal untuk Pengobatan Malaria , Demam Berdarah dan HIV
Tanggal: Tuesday, 23 August 2011
Topik: HIV/AIDS


Republika Online, 19 Agustus 2011

SURABAYA--Universitas Airlangga (Unair) Surabaya telah mengembangkan obat herbal untuk penyakit malaria, HIV, demam berdarah (DB), dan sebagainya.

"Kami sudah lama meneliti pengobatan herbal untuk berbagai penyakit dan tampaknya herbal kita ada potensi," kata Rektor Unair Prof H Fasich Apt di Surabaya, Jumat.

Ia mengemukakan hal itu terkait rencana kunjungan Menko Kesra Agung Laksono bersama Menkes dan Wamendiknas ke Rumah Sakit Airlangga (RSA) pada Minggu (21/8).

"RSA memang memiliki potensi sebagai pusat penyakit tropis nasional," katanya didampingi Wakil Rektor Bidang Akademik Prof Achmad Syahrani, Direktur Sumber Daya Prof Fendy Suhariadi MT.Psi, Kepala Humas Unair Dr Mangestuti Agil Apt, dan Sekretaris Unair Hadi Subhan.

Menurut dia, penelitian tentang potensi herbal untuk obat yang dilakukan Unair sudah memiliki harapan, namun kebijakan nasional yang mendukung pengobatan herbal baru terlihat. "Di masa lalu, kebijakan nasional masih serba kimiawi untuk pengobatan, padahal obat-obatan kimiawi memiliki resistensi akibat kuman, virus, atau parasit yang mulai kebal terhadap penyakit," katanya.

Oleh karena itu, katanya, Unair terpanggil untuk menawarkan potensi yang sudah dimiliki kepada pemerintah pusat untuk mendorong RSA sebagai pusat penyakit tropis dan pusat pengobatan herbal secara nasional.

"Untuk malaria dan HIV, obat herbal sudah ada harapan, karena penelitian kami sudah sampai pada uji klinis, sehingga kurang empat tahap lagi bisa digunakan untuk obat yang diproduksi secara massal," katanya.

Untuk demam berdarah, katanya, obat herbal masih dalam tahap laboratoris atau masih lama untuk mencapai uji klinis. "Yang sudah terbukti dan diproduksi adalah KB pria menggunakan tanaman gandarusa," kata guru besar Fakultas Farmasi (FF) Unair Surabaya itu.

Sebagai pusat pengobatan penyakit tropis dan pengobatan herbal, katanya, Unair sudah memiliki potensi, karena Unair memiliki empat penunjang yakni RSA, pusat penyakit tropis (TDC), rumah sakit tropis, dan BSL-3 (laboratorium untuk HIV/AIDS). Nazaruddin

Dalam kesempatan itu, Direktur Sumber Daya Unair Prof Fendy Suhariadi MT.Psi membantah keterlibatan Unair dalam proyek Rumah Sakit Tropis di kompleks kampus C Unair yang disebut-sebut terkait dengan M Nazaruddin (tersangka kasus suap Wisma Atlet di Palembang).

"Kalau Rumah Sakit Airlangga di sebelah Rumah Sakit Tropis itu memang milik Unair, sedangkan Rumah Sakit Tropis itu milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Unair hanya menerimanya dalam bentuk hibah dari Kemenkes," katanya.

Artinya, Unair hanya tinggal menerima hibah itu untuk dikelola, sedangkan PT Buana Ramosari Gemilang sebagai pemenang tender pengadaan peralatan kesehatan Rumah Sakit Tropik yang terkait dengan jaringan M Nazaruddin itu tidak ada kaitan dengan Unair sama sekali.

Berdasarkan data di laman layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) Kementerian Kesehatan pada 2010, lelang pengadaan peralatan kesehatan dan laboratorium itu dimenangi PT Buana dengan nilai proyek Rp38,8 miliar.

Selain itu, PT Duta Graha Indah, yang salah satu petingginya, Muhammad El Idris, menjadi tersangka kasus suap Wisma atlet di Palembang, juga memenangi tender pengadaan jasa pemborongan pembangunan gedung RS Tropik Infeksi Unair senilai Rp97,8 miliar. "Proses tender itu diatur oleh Kementerian Kesehatan. Kami hanya terima hibah barang jadi," katanya.

Sumber: Republika Online




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4615