Obat HIV untuk Anak-anak Dibuat dengan Rasa Khusus
Tanggal: Tuesday, 23 August 2011
Topik: HIV/AIDS


Detik.Com, 19 Agustus 2011

Jakarta, Rasa tidak enak sering membuat anak-anak tidak patuh minum obat, padahal obat-obat Antireroviral (ARV) untuk HIV harus diminum secara teratur. Untuk mengatasinya, para ahli mengembangkan ARV dengan rasa khusus yang disukai anak-anak.

Diperkirakan setiap hari ada 1.000 anak yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Hal ini biasanya terjadi ketika wanita yang terinfeksi melahirkan bayi yang kemudian juga terinfeksi HIV. Dampaknya, diperkirakan sekitar 700 anak meninggal setiap hari akibat AIDS.

"Ini merupakan masalah yang sangat serius, ada lebih dari 2,5 juta anak yang kini hidup dengan HIV. Sekitar 92 persen anak-anak yang terinfeksi HIV tinggal di Sahara Afrika," kata Rachel Cohen, direktur Drugs for Neglected Diseases Initiative in North America seperti dilansir VOANews, Jumat (19/8/2011).

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah tahap akhir dari infeksi HIV, yang menyebabkan kerusakan parah pada sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini secara bertahap menghancurkan sistem kekebalan tubuh, yang membuat lebih sulit bagi tubuh untuk melawan infeksi.

Cohen mengatakan anak dengan penyakit AIDS telah hampir dieliminasi di negara-negara maju karena dipandang rendah di mata publik.

"Organisasi kami hampir seluruhnya berfokus pada penyakit tropis yang paling diabaikan, seperti penyakit tidur Afrika, visceral leishmaniasis atau penyakit chaqas. Organisasi internasional, seperti Doctors Without Borders/Medecins Sans Frontieres, UNITAID dan beberapa lainnya telah meminta kami untuk memfokuskan keahlian kami di bidang pengembangan obat untuk masalah HIV pada anak-anak. Itulah sebabnya mengapa kami mulai merancang program pada tahun 2010 dan kini telah secara resmi meluncurkan program kami pada tahun 2011," kata Cohen.

Perawatan yang relatif murah memang tersedia, tetapi perawatan tersebut tidak tersedia di negara-negara miskin. Ditambah lagi perusahaan farmasi menganggap tidak melihat banyak keuntungan dalam mengembangkan pengobatan baru atau pengobatan yang lebih baik bagi anak-anak penderita AIDS.

Cohen mengatakan tersedia obat untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak, namun banyak wanita hamil yang terinfeksi HIV justru tidak mendapatkannya.

Banyak perempuan yang tidak memiliki akses untuk perawatan sebelum melahirkan, sehingga tidak pernah mendapatkan perawatan meskim mungkin saat itu mereka telah didiagnosis. Bahkan jika mereka melakukan perawatan tersebut, sangat sedikit penawaran tes HIV bagi wanita hamil.

Akses untuk antiretroviral (ARV) profilaksis atau untuk terapi yang optimal benar-benar tidak memadai. Belum lagi ada hambatan lain, misalnya jarang ada alternatif pemberian ASI kepada bayinya. Sehingga masih banyak ditemukan sejumlah besar anak-anak lahir dengan HIV di negara-negara miskin.

Hal ini dapat menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan ARV yang cocok untuk anak-anak. Obat HIV saat ini memiliki rasa yang kurang cocok untuk anak-anak.

Idealnya, obat untuk anak-anak harus mempunyai rasa yang dapat ditolerir oleh anak-anak. Saat ini ada obat dengan sediaan cair yang terpisah dari beberapa ARV untuk anak kurang dari 3 tahun, tetapi memiliki rasa yang menurut anak sangat tidak enak.

Obat-obatan juga harus tetap stabil pada suhu tropis dan tersedia dalam dosis yang sederhana. Obat-obatan juga harus tidak kontraindikasi atau kompatibel dengan obat HIV lain untuk anak, yang kemungkinan juga akan dikonsumsi oleh anak-anak tersebut.

TBC merupakan penyakit yang sangat lazim yang merupakan infeksi penyerta pada pengidap HIV, sehingga perlu ditemukan cara untuk memastikan bahwa obat yang ditemukan tidak kontraindikasi dengan obat TBC.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan perawatan segera untuk anak kurang dari 2 tahun yang terinfeksi HIV. Organisasi Drugs for Neglected Diseases mengatakan tujuannya adalah untuk mengembangkan terapi tahap pertama yang efektif, tersedia, dan terjangkau untuk anak-anak terinfeksi HIV. (ir/ir)

Sumber: Detik.Com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4617