Kafe Remang-remang
Tanggal: Tuesday, 23 August 2011
Topik: Narkoba


Bali Post, 23 Agustus 2011

SUARA keprihatinan sering muncul terkait maraknya kafe remang-remang di sejumlah sudut Pulau Bali belakangan ini. Bisnis kuliner ini sering dianggap hanya kedok untuk menutupi adanya perdagangan barang ilegal, seperti narkotika dan obat-obat terlarang alias narkoba. Selain itu, kafe remang-remang juga dituding menyembunyikan praktik pelayanan berbau seks bebas.

Keberadaan kafe sudah menjadi rahasia umum. Banyak yang letaknya di tepi jalan umum. Satu dua kafe remang-remang bahkan berada tidak jauh dari rumah ibadah.

Ada masalah serius di balik beroperasinya kafe remang-remang. Kenyataannya, banyak kafe remang-remang tidak hanya membuka usaha kuliner. Pengelolanya juga menyediakan pelayanan jenis minuman keras yang memabukkan pelanggan. Di situ umumnya juga ada perempuan pelayan berpakaian merangsang yang bertugas melayani tamu. Para pengunjung umumnya anak-anak muda maupun orang dewasa yang gemar menenggak minuman beralkohol.

Padahal, beroperasinya kafe tersebut belum tentu berizin. Minuman keras yang dijual luput dari pengawasan instansi terkait. Kontrol keamanan kafe dari aparat resmi keamanan pun terkesan tidak berjalan tegak. 

Kafe semacam itu jelas rawan gangguan keamanan maupun tindak kriminal. Adanya perkelahian bahkan penganiayaan yang dilakukan pengunjung mabuk sudah beberapa kali diberitakan terjadi di kafe remang-remang tersebut. 

v Itu membuktikan penertiban izin maupun langkah pengawasan minuman keras belum dikerjakan secara serius. Aparat pemerintah yang berwenang menerbitkan izin usaha tak jarang dicatut-catut namanya sebagai oknum pejabat yang berada di balik izin operasi kafenya. 

Pelarangan terhadap adanya praktik seks bebas di kafe remang-remang juga seperti tidak berjalan sesuai harapan masyarakat. Praktik seks pasti tidak disebutkan menjadi bagian usaha bisnis ini. Tetapi, indikasi praktik ini terjadi sebenarnya tidak perlu menggunakan analisis rumit-rumit. Pelayannya yang rata-rata perempuan muda sering terlihat mengenakan busana minim saat jam kerja. Jika dilacak lebih seksama bukan mustahil akan ditemukan adanya kasus transaksi bisnis seks antara pengunjung dan pelayannya.

Adanya praktik perdagangan narkoba konon marak pula di kafe remang-remang. Berbagai jenis narkoba disebut-sebut masuk ke lingkungan usaha binsis ini. Jenis narkoba suntik pun merambah kehidupan dunia malam tersebut.

Adanya narkoba suntik yang beredar di lingkungan pergaulan pengunjung kafe remang-remang dan pekerjanya jelas berisiko tinggi. Narkoba jarum suntik yang digunakan secara bergilir dari pengunjung maupun pelayan kafe jelas amat berbahaya menginfeksikan virus HIV.

HIV sebagai biang utama terjadi penyakit mematikan AIDS juga terjadi akibat penularan virusnya melalui hubungan seks tidak aman. Seseorang yang melakukan kontak seksual dengan penderita HIV berpotensi terinfeksi penyakit ini. Padahal, seseorang yang terkena HIV belum tentu tidak ditemukan di tempat kerja ilegal semacam ini.

Keberadaan kafe remang-remang jelas mencerminkan tidak adanya konsistensi ucapan dan tindakan. Bisnis pariwisata di Bali sering ditegaskan berakar dari budaya Bali. Kultur masyarakat lokal di daerah ini menolak adanya bisnis yang mengandung unsur seks bebas seperti di negara Barat. Tetapi, kenyataannya praktik seks bebas yang tidak sejalan dengan nilai budaya lokal justru dipraktikkan di tengah masyarakat.

Aparat pemerintah, pemuka agama, tokoh masyarakat terkesan tidak berdaya menertibkan praktik bisnis ilegal tersebut. Celakanya, ada oknum aparat pemerintah maupun tokoh masyarakat yang disebut-sebut ikut menjadi beking praktik usaha tersebut.

Pemerintah daerah harus mulai mengetatkan upaya penertiban kafe ilegal yang berpotensi merusak masa depan generasi muda. Pemerintah harus segera menindak pengelola usaha kuliner yang jelas-jelas merusak citra positif pariwisata budaya di daerah ini. Langkah pemerintah ini merupakan harga mati untuk menegakkan bisnis pariwisata budaya Bali.

Sumber: Bali Post




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4629