Inspirasi Atlet Sepeda dengan 1 Kaki dan 1 Paru Karena Kanker
Tanggal: Wednesday, 24 August 2011
Topik: Narkoba


detikHealth, 23 Agustus 2011

Jakarta, Motivasi yang kuat adalah modal yang sempurna untuk menghadapi rintangan seberat apapun. Seperti yang ditunjukkan seorang korban kanker, ia tetap bisa menjadi atlet sepeda meski kehilangan 1 kaki dan 1 paru karena penyakitnya tersebut.

Jothy Rosenberg, pria 52 tahun asal Massachusetts merupakan salah seorang mantan penderita kanker dengan motivasi yang luar biasa. Meski hidup dengan hanya 1 kaki dan 1 paru, ia tetap bisa menjadi atlet sepeda sekaligus pengusaha dan seorang penulis buku.

Kisah Jothy sebagai penderita kanker dimulai pada usia 16 tahun, ketika tiba-tiba ia terjatuh dalam pelajaran olahraga. Saat mengobati cedera di kakinya, para dokter menemukan sejenis kanker ganas yang menggerogoti tulangnya yakni oestoesarkoma.

Karena saat itu belum ada kemoterapi, Jothy tidak punya pilihan lain kecuali harus merelakan kaki kanannya diamputasi. Sebuah keputusan sulit, karena hal itu akan sangat membatasi aktivitasnya sehari-hari termasuk untuk menjalankan hobi olahraganya.

"Awalnya saya merasa kehilangan kekuatan dan keseimbangan. Bahkan untuk berdiri saja rasanya sulit," ungkap Jothy seperti dikutip dari Boston.com, Rabu (24/8/2011).

Namun Jothy tidak mau menyerah begitu saja, lalu mulai belajar berjalan dengan kruk atau penyangga. Begitu merasa mulai terampil berjalan, ia mulai menunjukkan semangatnya dengan mendaki beberapa bukit di sekitar tempat tinggalnya bersama sejumlah rekan.

Semangat itu kembali diuji ketika 3 tahun kemudian kanker kembali menggerogoti tubuh Jothy. Sel-sel kanker di tulang kaki yang dulu terlanjur menyebar kali ini muncul lagi di paru-paru dan lagi-lagi ia harus merelakan salah satu parunya diangkat.

"Saya pikir saya akan mati kali ini. Tapi untungnya kemoterapi sudah ditemukan di Dana Farber dan akhirnya saya bisa diselamatkan," kenang Jothy.

Hidup dengan 1 paru sebenarnya sudah bukan hal yang aneh lagi, contohnya Sean Swarner, mantan penderita kanker paru asal Ohio yang pernah mendaki Puncak Everest. Di dalam negeri, Panglima Besar Jenderal Soedirman juga bergerilya dengan hanya 1 paru akibat infeksi saluran napas.

Namun dengan hanya 1 kaki, rasanya agak sulit membayangkan Jothy bisa melakukan olahraga ekstrem seperti bermain ski dan bersepeda. Dalam buku terbarunya yang berjudul Who Says I Can't, ia mengatakan butuh waktu sekitar 10 tahun untuk beradaptasi dan menyeimbangkan diri dengan 1 kaki.

Dengan hanya satu pedal yang dikayuh, Jothy harus memaksimalkan kayuhan pertama agar pedal tersebut bisa kembali ke posisi atas sehingga bisa dikayuh lagi dengan kaki kirinya. Tentunya lebih sulit dibandingkan mengayuh dengan 2 kaki, karena kayuhannya bisa bergantian antara kiri dan kanan.

Akhirnya sejak 12 tahun lalu, ia mulai menjalani profesi baru sebagai atlet sepeda dan untuk pertama kalinya berlaga di ajang AIDS Ride. Bersama timnya, Jothy mengayuh sepeda dari Boston ke New York untuk menggalang dana bagi para penderita AIDS (acquired immune deficiency syndrome).

Sukses di laga amal tersebut, Jothy melanjutkan kiprahnya sebagai atlet sepeda dengan berpartisipasi dalam laga amal lainnya yakni Pan-Massachusetts Challenge. Partisipasinya kali ini adalah semacam balas budi, karena donasi yang didapatkan akan disumbangkan ke lembaga riset Dana Farber yang menyelamatkannya dari kanker.

Sejak saat itu, Jothy menjadi partisipan tetap dan baginya tahun ini akan menjadi balapan ke-9 di ajang tersebut. Bukan hanya sukses sebagai atlet sepeda, semangat yagn tinggi telah mengantar Jothy untuk meraih gelar PhD (Doctor of Philosophy) di bidang komputer dan kini memimpin sekaligus memiliki beberapa perusahaan.

(up/ir)

Sumber: http://www.detikhealth.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4631