Tinggi, Kasus HIV/AIDS di Bali
Tanggal: Thursday, 25 August 2011
Topik: HIV/AIDS


Bali Post, 25 Agustus 2011

Tingginya ancaman akan kasus HIV/AIDS di Denpasar menjadi perhatian semua pihak. Terlebih, kasus ini di Bali sudah tembus angka 4.552 kasus di mana 483 kasus di antaranya merupakan penambahan kasus baru yang terdata sejak Januari hingga Agustus 2011 ini. Kebanyakan kasus ini terjadi akibat hubungan seksual yang sebelumnya akibat penggunaan jarum suntik oleh pengguna narkoba.

Tingginya kasus HIV/AIDS ini tidak terlepas dari banyaknya tempat prostitusi yang tersebumnyi di sejumlah tempat. Kondisi ini sangat sulit untuk memantau keberadaan penghuni yang ada di lokasi prostitusi tersebut.

Mereka yang datang ke lokasi seperti ini juga tidak akan terpantau dengan baik. Karena itu, ada pemikiran untuk melokalisasi keberadaan tempat maksiat itu di Bali. Karena bila dilokalisasi, proses pemeriksaan terhadap para penjaja seks komersial tersebut bisa dilakukan secara rutin.

Ketua Komisi D DPRD Denpasar I Wayan Sugiarta didampingi Sekretaris Komisi A.A. Putu Wibawa di kantornya, belum lama ini, mengatakan cukup sulit untuk mengontrol siapa yang masuk ke lokasi prostitusi. Terlebih, semua lokasi seperti itu di Denpasar tidak jelas.

Menurut wakil rakyat ini, cukup sulit mencegah adanya kasus HIV/AIDS ini jika tidak ada kerja sama dari semua pihak, termasuk dari masyarakat. Jika memang sudah tidak ada jalan keluar, tidak ada salahnya juga untuk sekalian membuat lokalisasi. Mending dilokalisasikan saja. Daripada sekarang tempatnya kabur, tak jelas, tetapi sejatinya prostitusi itu ada.

Pemetaan ini bukan artinya kita sengaja mengizinkan adanya hal-hal seperti itu, tetapi karena sudah telanjur ada, jadi dilokalisasi. ''Ini justru akan lebih mempermudah untuk mendeteksi termasuk menangani kasus merebaknya HIV/AIDS, paling tidak bisa meminimalisir jumlah kasusnya,'' jelasnya.

Dari sejumlah informasi yang beredar di masyarakat, keberadaan prostitusi tersebar di beberapa titik, seperti Padanggalak, Lumintang, kawasan Jalan Bung Tomo, serta beberapa tempat lainnya. Bukan hanya itu, kini para wanita yang nakal juga sering mangkal di beberapa tempat yang sangat strategis untuk menjaring pelanggan.

Berbeda dengan Denpasar, keberadaan perempuan penjaja daging mentah di Bangli nyaris sulit terdeteksi. Hal ini diduga masih kentalnya kultur masyarakat dengan adatnya, membuat pergerakan bisnis esek-esek berlangsung rapi tetapi pasti. Diduga para wanita bergincu ini menyebar di beberapa kafe remang-remang di Bangli. Dari informasi yang dihimpun di Bangli, pelanggannya bukan saja bisa menikmati dentuman musik dan miras, mereka juga bisa mendapatkan pelayanan plus. Hal ini tak lagi menjadi rahasia umum bagi kalangan lelaki hidung belang alias doyan "jajan" di luar rumah asal Bangli.

Kata sejumlah sumber, selain bisa langsung di lokasi kafe, banyak pelanggan menjalin hubungan mesra maupun melampiaskan hasrat nafsu selepas jam kerja. Tarifnya variatif, berkisar Rp 50 - 150 ribu short time. Bahkan gratis bagi pelanggan yang mau pacaran dengan pelayan itu. (ara/puj)

Sumber: http://www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4644