Penderita AIDS Terlantar di RSUD Tanjung Pinang
Tanggal: Tuesday, 06 September 2011
Topik: Narkoba


REPUBLIKA.CO.ID, 26 Agustus 2011

TANJUNG PINANG -- Seorang wanita berinisial E (34) yang divonis HIV/Aids, terlantar di instalasi gawat darurat Rumah Sakit Umum Daerah Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Jumat.

Pasien itu masuk rumah sakit sekitar pukul 12.30 WIB, namun hingga sore belum mendapat tindakan medis, karena tidak memiliki biaya. "Saya pernah dirawat di rumah sakit ini sebelumnya," ujar E, yang agak sulit berbicara.

Sementara Tio, rekan E, mengatakan, pihak rumah sakit baru mengambil tindakan medis setelah ada yang menyelesaikan biaya administrasi. " Saya sudah jelaskan ke perawat bahwa biaya administrasi untuk mengobatan E ditanggung oleh Indra, saudara saya yang bekerja di salah satu dinas di Pemerintahan Bintan. Namun pihak rumah sakit baru akan melakukan tindakan medis setelah Indra membayarnya," ungkapnya.

Sementara E yang bertubuh kurus terbaring lemas di ruangan di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah (IGD RSUD) Tanjungpinang. "Tenaga medis di IGD RSUD tidak berprikemanusiaan. Mereka baru mau merawat E setelah dibayar biaya administrasinya," ungkap Tio.

Menurut dia, E divonis menderita penyakit HIV Aids sekitar dua pekan lalu. E sempat dirawat di ruang Teratai RSUD Tanjungpinang, namun disarankan kabur dari rumah sakit oleh salah seorang perawat karena tidak memiliki biaya.

Sementara E sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi setelah diusir oleh pemilik rumah. "Teman saya ini (E) meninggalkan rumah sakit tadi malam setelah infusnya dicabut oleh perawat. Padahal dia tidak memiliki tempat tinggal lagi," katanya.

Tio mengaku pasrah karena juga tidak memiliki biaya untuk membantu rekannya. Ia juga khawatir tidak dapat membayar biaya obat-obatan. "Sama siapa lagi kami minta bantuan," ujarnya.

Indra yang dikonfirmasi terkait permasalahan itu membenarkan bersedia membayar biaya administrasi di IGD RSUD Tanjungpinang. Namun ia terpaksa datang ke rumah sakit pada sore hari, karena harus menyelesaikan pekerjaannya.

Ia juga sudah meminta pihak rumah sakit untuk memberi tindakan medis kepada E secepatnya, dengan jaminan uang administrasi akan dibayar pada sore hari ini. Namun baru akan memberi pengobatan setelah biaya administrasi dibayar olehnya.

"Rumah sakit ini terlalu mengutamakan uang daripada memberi pelayanan kesehatan," kata Indra. Indra berharap E dikarantina di ruangan khusus, dengan mendapatkan pelayanan kesehatan sebagaimana mestinya. "E itu manusia, yang wajib dilayani pihak rumah sakit meski dia tidak memiliki biaya," ujarnya.

Sumber: http://www.republika.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4653