Semangat dari Paris Untuk Timnas Indonesia
Tanggal: Tuesday, 06 September 2011
Topik: Narkoba


TEMPO Interaktif, 03 September 2011

Jakarta - Di saat perjuangan skuad Garuda di ajang Pra Piala Dunia 2014 baru saja dimulai, ajang Homeless World Cup 2011 sudah berakhir hampir sepekan silam. Meski begitu, semangat, kerja keras, serta hasil yang didapatkan para pemain di ajang kejuaraan dunia para para tunawisma di Paris tersebut bisa menjadi bekal yang baik untuk Bambang Pamungkas dan kawan-kawan.

Indonesia, yang diwakili oleh Rumah Cemara menjadi salah tim yang cukup mendapatkan sorotan. Tim yang diperkuat oleh mereka yang menjadi korban kecanduan narkotika atau pun penderita HIV/AIDS itu mungkin hanya bisa menempati peringkat keenam di klasemen akhir. Namun, mereka mendapatkan penghargaan sebagai tim pendatang baru terbaik. Selain itu, salah satu pemainnya Ginan Koesmayadi juga didapuk menjadi pemain terbaik.

Rumah Cemara, pusat rehabilitasi untuk bekas pecandu narkoba serta pengobatan para penyandang HIV/AIDS, menjadi perwakilan pertama Indonesia di ajang tahunan tersebut. Sejak digulirkan mulai tahun 2003, ajang pertandingan yang mempertemukan para gelandangan atau orang-orang tidak mampu dari seluruh dunia itu berlangsung rutin setahun sekali.

Kali ini, Indonesia bisa mengirimkan wakilnya dan harus puas menempatkan peringkat keenam setelah kalah adu penalti dengan Cile. Sebelumnya, Ginandjar cs menahan imbang 4-4.

Perjalanan mereka menuju babak terakhir ini memang dapat dikatakan cukup membanggakan. Ginandjar cs menjadi tim yang tak terkalahkan dan memimpin di Grup G. Hasil maksimal juga masih bertahan setelah Indonesia menempati peringkat kedua Grup D dalam pertarungan di babak kedua. Apalagi, bekal tiga kemenangan dan dua kekalahan itu didapatkan dari lawan-lawan yang sudah langganan juara seperti Rumania (7-4), Kyrgyzstan (9-4), dan Jerman (5-4).

Pada putaran akhir, peluang Indonesia tertutup setelah kalah 4-7 dari Brasil. Kemenangan Indonesia atas Nigeria 4-3 menjadi kesempatan untuk bisa berebut peringkat kelima dengan Cile. Situs resmi kejuaraan dunia ini menyebutkan nama seperti Deradjat Ginandjar Koesmayadi, Sandy Gempur Purnama and Gimgim Sofyan Nurdin sebagai pemain yang mencuri perhatian lewat keahlian mereka menggocek bola.

Kate Otto, salah satu perwakilan dari Rumah Cemara menyatakan Ginandjar atau Ginan diberikan penghargaan atas keahliannya menggocek bola. "Dan kami sangat senang dengan penghargaan itu menjadi dukungan tersendiri untuk keberlangsungan organisasi kami," katanya.

Kejuaraan yang mempertemukan tim-tim berisi empat pemain tersebut dimenangkan oleh Skotlandia. Mereka mengalahkan Meksiko 4-3 di babak final. Sementara pada sektor putri sendiri, Kenya yang keluar sebagai juara setelah melibas Meksiko dengan angka kemenangan yang sama, 4-3.

Homeless World Cup merupakan satu kejuaraan yang digelar untuk bisa membantu menghilangkan mereka yang tak mempunya tempat tinggal. Terdapat 64 tim yang diperkuat oleh mereka yang tersingkirkan atau yang tidak memiliki rumah dari seluruh dunia. Di tahun ke-8 penyelenggaraannya turnamen ini digelar pada 21-28 Agustus silam di Paris, Prancis.

Sebenarnya Rumah Cemara sudah dipercaya untuk tampil di turnamen tahun ini sejak 2010 lalu. Sayangnya, tim yang sudah dibentuk tidak mendapatkan sponsor. Setelah ada sponsor yang menanggung 80 persen dari total biaya yang dibutuhkan, Ginan Koesmayadi dan kawan-kawan akhirnya menjalankan nazar berjalan kaki dari Bandung ke Jakarta.

Sumber: http://www.tempointeraktif.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=4667